Jurus Bank Indonesia Jaga Stabilitas Rupiah di Tengah Panasnya Konflik Timur Tengah

Bank Indonesia memastikan stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya tensi konflik di kawasan Timur Tengah.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 04 Maret 2026, 09:40 WIB
Bank Indonesia (BI) juga menjelaskan, pelemahan nilai tukar rupiah ini sejalan dengan pergerakan mata uang Asia. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) memastikan akan terus hadir di pasar keuangan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya tensi konflik di kawasan Timur Tengah.

"Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar untuk mencegah dampak dari meluasnya konflik Timur Tengah," kata Deputy Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, dalam keterangannya, Rabu (4/3/2026).

Destry menegaskan otoritas moneter berkomitmen melakukan intervensi secara tegas dan konsisten. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan pergerakan rupiah tetap stabil dan selaras dengan fundamental ekonomi Indonesia.

Adapun intervensi dilakukan melalui berbagai instrumen, baik di pasar offshore maupun domestik. Di pasar luar negeri, BI melakukan transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), sementara di pasar dalam negeri dilakukan melalui transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

Selain itu, bank sentral juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sebagai bagian dari strategi stabilisasi. Langkah ini bertujuan menjaga likuiditas serta memastikan kepercayaan investor tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.

"Intervensi yang tegas dan konsisten akan terus kami lakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder," ujarnya.

 

Rupiah Masih Sejalan Regional, Cadangan Devisa Kuat

Pekerja menunjukan mata uang Rupiah dan Dolar AS di Jakarta, Rabu (19/6/2019). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sore ini Rabu (19/6) ditutup menguat sebesar Rp 14.269 per dolar AS atau menguat 56,0 poin (0,39 persen) dari penutupan sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar )

Secara kinerja, pelemahan rupiah dinilai masih sejalan dengan mata uang regional. Secara month-to-date (MTD), rupiah tercatat melemah 0,51 persen, namun angka ini relatif lebih baik dibandingkan sejumlah negara di kawasan.

Dari sisi fundamental, posisi cadangan devisa Indonesia tetap solid. Hingga akhir Januari 2026, cadangan devisa tercatat sebesar USD 154,6 miliar, yang dinilai cukup untuk mendukung stabilitas eksternal dan pembiayaan impor.

Tak hanya itu, arus masuk modal asing ke pasar keuangan domestik sepanjang 2026 juga menunjukkan tren positif. Tercatat, aliran dana asing mencapai Rp 25,7 triliun, mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia yang tetap terjaga di tengah tekanan global.

"Pelemahan rupiah masih aligned dgn regional, secara MTD melemah 0,51 persen, relatif lebih baik dibandingkan regional. Cadangan devisa tetap terjaga di level USD 154,6 miliar akhir Januari 2026 dan arus masuk modal asing di pasar keuangan domestik selama tahun 2026 tercatat sejumlah Rp 25,7 triliun," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya