Liputan6.com, Jakarta - Pendiri BitMEX, Arthur Hayes, dalam esainya yang terbit 2 Maret menyebut keterlibatan militer Amerika Serikat (AS) dengan Iran berpotensi mendorong pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral AS. Menurutnya, situasi itu bisa menjadi sentimen positif bagi Bitcoin dalam jangka panjang.
Melansir Yahoo Finance, Senin (2/3/2026), Hayes menilai, berdasarkan pola selama empat dekade, setiap operasi militer besar AS di Timur Tengah diikuti oleh penurunan suku bunga atau pelonggaran kebijakan oleh Federal Reserve (The Fed).
Advertisement
Dalam esai berjudul iOS Warfare, Hayes mengulas sejumlah contoh historis. Ia menyebut, sejak 1985, setiap presiden AS meluncurkan serangan atau perang di Timur Tengah, yang kemudian diikuti pelonggaran moneter.
Saat Perang Teluk 1990 di era Presiden George H.W. Bush, The Fed awalnya menahan suku bunga, namun memberi sinyal akan melonggarkan kebijakan jika konflik berlanjut. Pada November dan Desember 1990, suku bunga akhirnya dipangkas meski inflasi akibat lonjakan harga minyak masih tinggi.
Setelah serangan 11 September 2001, Ketua The Fed saat itu, Alan Greenspan, memangkas suku bunga darurat 50 basis poin untuk menjaga stabilitas pasar dan memulihkan kepercayaan. Siklus pelonggaran juga terjadi saat perang di Irak dan Afghanistan.
Pada 2009, ketika Presiden Barack Obama meningkatkan jumlah pasukan di Afghanistan, suku bunga sudah berada di level nol dan kebijakan pelonggaran kuantitatif telah berjalan, sehingga ruang penurunan suku bunga semakin terbatas.
Sarankan Tunggu Sinyal Resmi
Hayes juga menilai dukungan Presiden Donald Trump terhadap perubahan rezim di Iran mengikuti pola serupa. Ia menyebut isu Iran telah lama menjadi agenda bipartisan di AS sejak 1979, yang dinilai bisa memberi ruang bagi The Fed untuk kembali melonggarkan kebijakan guna mendukung pembiayaan pemerintah.
Meski optimistis dalam jangka panjang, Hayes mengingatkan investor untuk berhati-hati dalam waktu dekat. Ia menyarankan menunggu langkah nyata dari The Fed sebelum menambah eksposur ke aset kripto.
"Kita tidak tahu berapa lama Trump akan tetap tertarik untuk menghabiskan miliaran, jika bukan triliunan, dolar untuk membentuk kembali politik Iran sesuai keinginannya," tulis Hayes.
Saat ini, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$66.200. Harganya turun hampir 30% sejak awal tahun dan sekitar 47% dari rekor tertinggi USD 126.000 yang tercapai pada Oktober 2025. Dalam lima bulan terakhir, pergerakan Bitcoin cenderung melemah, dengan indeks ketakutan dan keserakahan kripto berada di zona ketakutan ekstrem.