Keistimewaan Malam 27 Ramadhan yang Dinanti Umat, Apa Saja?

Keistimewaan malam 27 Ramadhan selalu menjadi perbincangan hangat setiap tahun.

oleh nugroho purboDiterbitkan 08 Maret 2026, 14:20 WIB
Ilustrasi Doa Awal Ramadhan/Photo by Alim on Unsplash

Liputan6.com, Jakarta - Keistimewaan malam 27 Ramadhan selalu menjadi perbincangan hangat setiap tahun ketika umat Islam memasuki sepuluh malam terakhir. Banyak kalangan meyakini malam ini sebagai waktu paling kuat terjadinya Lailatul Qadar, malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.

Keistimewaan malam 27 Ramadhan tidak lepas dari berbagai riwayat hadits yang menyebutkan isyarat kuat pada malam tersebut. Meski Lailatul Qadar dirahasiakan waktunya, sebagian sahabat dan ulama menguatkan bahwa malam ke-27 memiliki tanda-tanda khusus.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Qadr ayat 3: لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ Latin: Lailatul qadri khairun min alfi syahr. Artinya: “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”

Ayat tersebut menjadi dasar utama umat Islam memburu malam istimewa di penghujung Ramadhan. Nilai ibadah yang dilipatgandakan menjadikan malam ini momentum spiritual paling dinanti.

 

Hadits yang Menguatkan Malam ke-27

Dalam riwayat Shahih Muslim, sahabat Ubay bin Ka’ab bersumpah bahwa Lailatul Qadar terjadi pada malam ke-27. Ia menyebut Rasulullah SAW memberikan tanda langit tampak cerah dan tidak terlalu panas di pagi harinya.

Hadits lain dari Ibnu Umar RA menyebut sabda Rasulullah SAW: مَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا لَيْلَةَ السَّابِعِ وَالْعِشْرِينَ Latin: Man kana mutaharrīhā falyataharrāhā lailatas-sābi‘i wal-‘isyrīn. Artinya: “Siapa yang ingin mencarinya, maka carilah pada malam ke-27.”

Riwayat tersebut dicantumkan dalam Musnad Ahmad dan menjadi salah satu dalil kuat yang sering dijadikan rujukan dalam pembahasan Lailatul Qadar.

Sejumlah ulama hadits juga menguatkan pendapat ini, meski tetap membuka kemungkinan terjadinya pada malam ganjil lainnya di sepuluh malam terakhir.

 

Pendapat Para Sahabat dan Ulama

Imam Baihaqi dalam Fadhailul Qur’an menyebut para sahabat sepakat Lailatul Qadar berada di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Perbedaan hanya pada penentuan malam pastinya.

Ibnu Abbas RA mengaitkan angka tujuh dengan simbol-simbol dalam Islam, seperti tujuh lapis langit dan tujuh putaran tawaf. Hal ini dinilai sebagai isyarat kuat pada malam ke-27.

Meski demikian, Rasulullah SAW juga bersabda: “Carilah pada malam ganjil di sepuluh malam terakhir.” (HR Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan fleksibilitas pencarian.

Karena itu, sebagian ulama menganjurkan agar umat Islam tidak terpaku pada satu malam saja.

 

Mengapa Waktunya Dirahasiakan

Dalam Shahih Muslim, disebutkan Rasulullah SAW sempat diberi tahu waktu Lailatul Qadar, namun kemudian dilupakan akibat perselisihan dua orang sahabat.

Rasulullah SAW bersabda: “Carilah pada malam ke-9, ke-7, dan ke-5.” Maksudnya adalah malam ganjil di sepuluh hari terakhir.

Perahasiaan ini dipahami sebagai bentuk dorongan agar umat Islam bersungguh-sungguh beribadah sepanjang sepuluh malam terakhir.

Dengan demikian, semangat ibadah tidak hanya terpusat pada satu malam saja.

 

Amalan yang Dianjurkan

Di antara amalan utama adalah qiyamul lail atau sholat malam yang dilakukan dengan penuh kekhusyukan.

Membaca Al-Qur’an dan mentadabburinya juga menjadi amalan penting untuk menghidupkan malam tersebut.

Rasulullah SAW mengajarkan doa khusus: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي Latin: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa‘fu ‘anni. Artinya: “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.”

Doa ini diriwayatkan dalam hadits Aisyah RA dan menjadi bacaan yang dianjurkan pada malam-malam terakhir.

Dampak Spiritual bagi UmatKeistimewaan malam 27 Ramadhan tidak hanya diukur dari sisi pahala, tetapi juga transformasi spiritual yang dirasakan umat.

Banyak orang memanfaatkan malam tersebut untuk i’tikaf di masjid, memperbanyak dzikir dan istighfar.

Sedekah juga menjadi amalan yang dianjurkan karena nilai kebaikannya diyakini berlipat ganda.

Momentum ini sering dimaknai sebagai titik balik memperbaiki diri sebelum Ramadhan berakhir.

Tradisi menghidupkan malam ke-27 bahkan menjadi bagian dari budaya keagamaan di berbagai daerah.

T

Tetap Fokus pada Sepuluh Malam Terakhir

Meski banyak yang meyakini malam ke-27 sebagai puncak, para ulama tetap mengingatkan agar ibadah konsisten sejak malam ke-21.

Pendekatan ini dinilai lebih selamat agar tidak kehilangan peluang meraih Lailatul Qadar.

Konsistensi ibadah menjadi pesan utama dari seluruh riwayat tentang malam kemuliaan.

Ramadhan pun ditutup dengan semangat perbaikan diri yang lebih matang dan penuh harapan.

Pada akhirnya, keistimewaan malam 27 Ramadhan menjadi motivasi kuat bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah, tanpa melupakan bahwa seluruh sepuluh malam terakhir adalah kesempatan emas meraih Lailatul Qadar.

 

 

People Also Talk1. Apakah Lailatul Qadar pasti jatuh pada malam ke-27? Tidak pasti, namun banyak riwayat menguatkan kemungkinan terbesar pada malam ke-27.

2. Apa tanda-tanda malam Lailatul Qadar? Di antaranya malam terasa tenang, langit cerah, dan matahari terbit tanpa sinar menyilaukan.

3. Apa amalan terbaik di malam tersebut? Sholat malam, membaca Al-Qur’an, dzikir, dan memperbanyak doa.

4. Mengapa waktunya dirahasiakan? Agar umat Islam bersungguh-sungguh beribadah sepanjang sepuluh malam terakhir.

5. Apakah sedekah di malam itu lebih utama? Ya, karena setiap amal kebaikan diyakini dilipatgandakan nilainya.

etap Fokus pada Sepuluh Malam TerakhirMeski banyak yang meyakini malam ke-27 sebagai puncak, para ulama tetap mengingatkan agar ibadah konsisten sejak malam ke-21.

Pendekatan ini dinilai lebih selamat agar tidak kehilangan peluang meraih Lailatul Qadar.

Konsistensi ibadah menjadi pesan utama dari seluruh riwayat tentang malam kemuliaan.

Ramadhan pun ditutup dengan semangat perbaikan diri yang lebih matang dan penuh harapan.

Pada akhirnya, keistimewaan malam 27 Ramadhan menjadi motivasi kuat bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah, tanpa melupakan bahwa seluruh sepuluh malam terakhir adalah kesempatan emas meraih Lailatul Qadar.

 

People Also Talk

1. Apakah Lailatul Qadar pasti jatuh pada malam ke-27? Tidak pasti, namun banyak riwayat menguatkan kemungkinan terbesar pada malam ke-27.

2. Apa tanda-tanda malam Lailatul Qadar? Di antaranya malam terasa tenang, langit cerah, dan matahari terbit tanpa sinar menyilaukan.

3. Apa amalan terbaik di malam tersebut? Sholat malam, membaca Al-Qur’an, dzikir, dan memperbanyak doa.

4. Mengapa waktunya dirahasiakan? Agar umat Islam bersungguh-sungguh beribadah sepanjang sepuluh malam terakhir.

5. Apakah sedekah di malam itu lebih utama? Ya, karena setiap amal kebaikan diyakini dilipatgandakan nilainya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya