The Fed Berpotensi Pangkas Suku Bunga Juni 2026

Pelaku pasar prediksi, pemangkasan suku bunga the Federal Reserve (the Fed) paling cepat Juni 2026 setelah masa jabatan Ketua Jerome Powell berakhir.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 15 Februari 2026, 21:48 WIB
The Federal Reserve atau the Fed diprediksi pangkas suku bunga paling cepat Juni 2026. (Photo by Joshua Hoehne on Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - The Federal Reserve atau the Fed diprediksi pangkas suku bunga paling cepat Juni 2026. Potensi pemangkasan suku bunga itu dilakukan setelah masa jabatan ketua the Fed Jerome Powell berakhir.

Mengutip riset Ashmore Asset Management Indonesia, ditulis Minggu, (15/2/2026), pekan ini, pasar melihat tanda-tanda stabilitas di pasar tenaga kerja AS yang bertahap mendingin dan data nonfarm payrolls yang lebih tinggi dari perkiraan meski ada revisi terhadap data sebelumnya.

"Pasar melihat tanda kekuatan ini sebagai ujian seberapa cepat the Fed dapat memangkas suku bunga,” demikian seperti dikutip.

Namun, harapan suku bunga terus dipengaruhi oleh kekhawatiran mengenai independensi the Fed yang dapat meningkatkan tekanan inflasi global.

Dengan ketua the Fed Jerome Powell masih memegang jabatannya hingga Mei, pasar prediksi pemangkasan suku bunga akan terjadi paling cepat Juni setelah masa jabatan Powell berakhir.

Selain itu, perkembangan geopolitik terus menyoroti signifikansinya terhadap harga komoditas karena potensi kesepakatan antara AS dan Iran mengurangi kekhawatiran akan eskalasi, dan harga minyak terus moderat sebagai respons terhadap harapan ini.

Meskipun ini membantu mengurangi tekanan inflasi global, sifat ketidakpastian dari kesepakatan geopolitik masih memberikan dampak lebih signifikan daripada permintaan dalam lingkungan saat ini.

Dari dalam negeri, perkembangan diskusi antara Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan otoritas pasar modal Indonesia terus berlanjut. Pekan ini, bursa efek mengumumkan rencana menerbitkan daftar pemegang saham terkonsentrasi sebagai bagian dari upaya meningkatkan transparansi di pasar modal Indonesia. Di mana hal ini sudah diterapkan oleh bursa saham di Hong Kong.

Meskipun kumpulan data akan bergantung pada upaya yang sedang berlangsung terkait dengan perolehan data ultimate beneficial owner (UBO), implementasi ini dapat secara signifikan meningkatkan keandalan dari free float sebenarnya di pasar dan dapat membantu mengatasi kekhawatiran MSCI.

 

Peluang Reformasi Pasar Modal

Ada sebanyak 190 saham menghijau sehingga mendukung penguatan ke level 4.483,45.

Di sisi lain mengenai kekhawatiran yang disampaikan oleh Moody’s, otoritas Indonesia telah menekankan pedoman berkelanjutan untuk tetap berada dalam batas fiskal 3%, selain itu kecepatan transmisi suku bunga lebih rendah dapat ditingkatkan dengan koordinasi lebih baik antara sisi moneter dan fiskal.

"Investor melihat ini sebagai peluang untuk melihat reformasi struktural dan mengadopsi standar global untuk meningkatkan kredibilitas, tetapi para pemangku kepentingan masih menunggu pelaksanaan sebelum tenggat waktu penting pada Mei,” demikian seperti dikutip.

Minggu ini, FTSE juga mengumumkan keputusan untuk menunda peninjauan indeks Indonesia dan menunda pembaruan sementara mereka mengevaluasi perkembangannya.

“Para penyedia indeks besar ini perlu melihat tindakan nyata dan kemajuan untuk mendapatkan kembali kepercayaan dan melanjutkan evaluasi terhadap Indonesia, karena mereka mempertimbangkan kekhawatiran dari investor global,”.

 

Volatilitas Masih Tinggi

Karyawan mengamati pergerakan harga saham di Profindo Sekuritas, Jakarta, Jumat (22/9/2023). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Investor saham domestik relatif tenang setelah dua minggu terakhir yang penuh volatilitas signifikan, tetapi masalah intinya belum terselesaikan. Partisipasi institusional dalam ekuitas dapat membantu menstabilkan pasar, tetapi selera mereka terhadap saham jelas; fundamental yang sehat adalah suatu keharusan.

“Kami masih melihat peluang di sektor-sektor utama dalam lingkungan saat ini dan menegaskan kembali pentingnya tetap berinvestasi dalam strategi aktif karena arus berita terus bertindak sebagai katalis signifikan untuk imbal hasil,”.

Selain itu, Ashmore melihat tetap disiplin dalam kerangka investasi dan filosofi pada fundamental perusahaan yang kuat di samping valuasi yang masuk akal, dan percaya bahwa pengembalian jangka panjangdapat dihasilkan secara lebih berkelanjutan dengan cara ini.

"Volatilitas diperkirakan masih akan tetap cukup tinggi dalam jangka pendek karena kita bertransisi dalam upaya untuk meningkatkan kredibilitas pasar modal di tengah pengawasan global,” demikian seperti dikutip.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya