Kadin Gandeng SCMP Buka Peluang Perluasan Investasi dan Dagang Indonesia-China

Kadin Indonesia dan South China Morning Post (SCMP) akan penyelenggaraan China Conference.

oleh Septian DenyDiterbitkan 01 Februari 2026, 16:20 WIB
Kadin Indonesia bersama South China Morning Post (SCMP) akan penyelenggaraan China Conference: Southeast Asia 2026 yang akan berlangsung pada 10 Februari 2026 di The St. Regis Jakarta, Indonesia.

Liputan6.com, Jakarta - Kadin Indonesia bersama South China Morning Post (SCMP) akan penyelenggaraan China Conference: Southeast Asia 2026 yang akan berlangsung pada 10 Februari 2026 di The St. Regis Jakarta, Indonesia.

Konferensi mendatang ini menandai pertama kalinya acara tersebut digelar di Indonesia, sekaligus menegaskan semakin pentingnya peran strategis Indonesia dalam wacana regional dan global.

Mewakili Kadin Indonesia, Shinta Kamdani, Coordinating Vice Chairwoman for Human Development, Culture and Sustainable Development at Kadin Indonesia, Chairwoman of APINDO, memaparkan visi dan misi Kadin Indonesia, peluang yang muncul dari penguatan hubungan Indonesia–ASEAN serta Hong Kong–Tiongkok Raya, serta arti strategis kolaborasi ini.

“Ini merupakan peluang untuk membuka dan memperluas kerjasama investasi dan perdagangan. Potensi penanaman modal lintas sektor masih sangat besar. Di saat yang sama, kita juga perlu menyadari bahwa sekitar 70% bahan baku Indonesia masih berasal dari impor, dengan Tiongkok sebagai salah satu sumber utama, menunjukkan adanya peluang nyata untuk meningkatkan ekspor Indonesia ke Tiongkok," kata Chief Executive Officer Sintesa Group tersebut, Minggu (1/2/2026).

Seiring dengan meningkatnya peran Tiongkok sebagai salah satu sumber utama investasi asing langsung ke Indonesia, dengan nilai investasi lebih dari USD 18 miliar pada tahun 2025, nota kesepahaman yang ditandatangani oleh South China Morning Post dan Kadin Indonesia mencerminkan komitmen bersama untuk membangun kolaborasi jangka panjang. Penyelenggaraan konferensi ini merupakan bagian dari hasil konkret kerja sama tersebut.

 

Bahas Isu Relevan

Ilustrasi bendera Republik China. (Pixabay)

“Kami telah menyiapkan beragam agenda yang membahas isu-isu paling relevan saat ini, dengan menghadirkan pembicara dari berbagai sektor, termasuk dari Indonesia sebagai tuan rumah, Tiongkok, dan kawasan sekitarnya. Kami memperkirakan sekitar 500 peserta akan hadir, dengan separuh berasal dari luar Indonesia. Hal ini mencerminkan kuatnya minat global terhadap potensi yang ditawarkan Indonesia,” ujar Executive Managing Editor South China Morning Post, Zuraidah Ibrahim.

Konferensi ini akan mengangkat berbagai isu strategis kawasan, termasuk keseimbangan geopolitik, masa depan rantai pasok China+1, konektivitas digital dan permodalan, transisi hijau, serta dialog ekonomi Tiongkok–ASEAN.

Penyelenggaraan konferensi ini juga bertepatan dengan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Tiongkok dan menjelang APEC 2026 di Shenzhen.

Angka Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diragukan, Pengusaha Bilang Begini

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani masih menunggu pengumuman resmi pemerintah soal hitungan kenaikan upah minimum provinsi atau UMP 2026. Pasalnya, masih ada diskusi antara keinginan pengusaha dan kalangan buruh.

Sebelumnya, sejumlah pihak meragukan angka pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 sebesar 5,12 persen. Kalangan pengusaha memandang, pertumbuhan ekonomi nasional perlu juga dilihat dari kondisi di lapangan.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, Shinta Widjaja Kamdani menyampaikan, penghitungan pertumbuhan ekonomi memang ada di tangan pemerintah dengan berbagai faktor-faktornya. Bagi pengusaha, hal tersebut bukan sebatas bicara angka, tapi kondisi sebenarnya di lapangan.

"Jadi kalau kami melihatnya bukan cuma angka tapi bagaimana kondisi di lapangan dan bagaimana kita bisa terus melakukan perbaikan-perbaikan," kata Shinta saat ditemui di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (8/8/2025). 

"Jadi pertumbuhan ekonomi adalah satu angka yang tentunya ditetapkan oleh pemerintah. Tapi kondisi di lapangan ini yang kami hadapi. Jadi ini yang kami terus memberikan masukan kepada pemerintah," imbuhnya.

Shinta menyatakan, penghitungan pertumbuhan ekonomi turut memasukkan aspek investasi, konsumsi rumah tangga, hingga belanja pemerintah. Di sisi pengusaha, ada sebagian sektor usaha yang mengalami ekspansi.

"Tentunya tergantung sektor, tergantung kondisi seperti apa. Kan kalau kita lihat kalau pertumbuhan ekonomi kan dasarnya macam-macam. Ada investasi, kalau kita lihat realisasi investasi bagus. Kemudian ada konsumsi, tentunya konsumsi rumah tangga, government spending. Jadi ada macam-macam unsurnya," terangnya.

Masih Ada Pelemahan Daya Beli

Shinta menilai masih ada pelemahan daya beli yang dirasakan di masyarakat. Meski begitu, pemerintah pun telah menggelontorkan sejumlah insentif. Langkah tersebut yang disinyalir berpengaruh.

"Kita melihat dengan kondisi di lapangan seperti apa tentunya yang tadi dikatakan pelemahan daya beli ya ada, kita masih melihat itu. Tapi kan pemerintah juga menggulirkan insentif-insentif," ungkapnya.

"Nah apakah itu kemudian sudah mulai berhasil. Tugas kami adalah terus memberikan masukan. Apa yang sudah jalan, apa yang belum jalan. Bahwa angka itu ditetapkan seperti itu, ya itu ininya pemerintah dasar-dasarnya," Shinta menambahkan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya