IHSG Tertekan, Sektor Saham Ini Dinilai Masih Menyimpan Peluang

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) meski melemah, analis menilai, ada sektor saham consumer yang berpeluang jadi penopang pasar.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 30 Januari 2026, 07:30 WIB
Di tengah tekanan pasar yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjerembab, analis menilai peluang investasi belum sepenuhnya tertutup. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah tekanan pasar yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjerembab, analis menilai peluang investasi belum sepenuhnya tertutup. Saham-saham sektor defensif, khususnya konsumer, masih berpotensi menjadi penahan volatilitas ketika sentimen pasar memburuk. Retail Research Analyst BNI Sekuritas, Karina Rusfidyawati, menilai sektor saham konsumer tetap menarik karena ditopang oleh kebutuhan dasar masyarakat.

Di antara saham konsumer yang ada, ia menyoroti satu emiten yang dinilai memiliki potensi kenaikan harga signifikan meski pasar sedang melemah.

Menurut Karina, saham PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) memiliki potensi upside di atas 20%, bahkan mendekati 30%. Prospek tersebut juga diperkuat dengan adanya peningkatan peringkat (rating upgrade) dalam laporan riset terbaru.

"Tapi di sini aku akan bahas satu saham di sektor konsumer yang ada potensi upside ini di atas 20%, bahkan hampir 30%. Dan kalau diperhatikan sampai dari report terakhir itu ratingnya di upgrade juga," kata Karina dalam Morning Investview, dikutip Jumat, (30/1/2026).

Karina menjelaskan, struktur kepemilikan saham SIDO menunjukkan dominasi investor ritel domestik yang masih sangat kuat. Porsi kepemilikan ritel lokal tercatat di atas 50%, bahkan meningkat menjadi 53% pada Oktober 2025, dari sebelumnya 50% pada Oktober 2024.

Kepemilikan Investor Asing

Sementara itu, kepemilikan investor institusi asing juga dinilai relatif stabil. Sepanjang 2025, porsi asing bergerak di kisaran 30% dan sempat turun hingga 31%, sebelum kembali menguat ke level 35% pada Oktober 2025. Tren ini mencerminkan kepercayaan investor global yang mulai pulih terhadap fundamental SIDO.

Menariknya, meski sektor konsumer dan IHSG sempat melanjutkan reli pada periode tertentu, pergerakan harga saham SIDO masih tergolong tertahan. Kondisi ini dinilai membuka ruang kenaikan harga yang lebih besar ketika sentimen pasar mulai membaik.

"Dan kalau diperhatikan memang untuk pergerakan dari harga sahamnya pun itu di saat secara sektor maupun IHSG ini masih lanjutkan reli, tapi untuk harga sahamnya di Sido ini masih belum terlalu naik-naik banget gitu," ujarnya.

Kinerja Keuangan Solid dan Ekspansi Distribusi Jadi Katalis

Aktivitas pekerja di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Senin (3/1/2022). Pada pembukan perdagagangan bursa saham 2022 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung menguat 7,0 poin atau 0,11% di level Rp6.588,57. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Dari sisi fundamental, SIDO mencatatkan kinerja keuangan yang solid pada kuartal III 2025. Laba bersih perusahaan tumbuh 29% secara tahunan menjadi Rp 218 miliar, sementara laba sembilan bulan 2025 mencapai Rp 819 miliar atau naik 5% year-on-year.

Capaian tersebut setara dengan 69% target konsensus full year dan melampaui estimasi BNI Sekuritas. Pertumbuhan kinerja tersebut didorong oleh kenaikan penjualan sebesar 23% pada kuartal III 2025.

Segmen Herbal tumbuh 22% dan segmen Food & Beverage (FNB) melonjak 27%, seiring peningkatan mobilitas masyarakat, cuaca panas, serta permintaan yang lebih kuat dari wilayah pertambangan dan perkebunan. Penjualan ekspor bahkan melonjak signifikan hingga 49% secara tahunan.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Penutupan IHSG pada 29 Januari 2026

Pekerja melintas di dekat layar digital pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (14/10/2020). Pada prapembukaan perdagangan Rabu (14/10/2020), IHSG naik tipis 2,09 poin atau 0,04 persen ke level 5.134,66. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, mengutip data RTI, IHSG 29 Januari 2026 ditutup merosot 1,06% ke posisi 8.232,20. Indeks saham LQ45 menguat 0,06% ke posisi 813,01. Sebagian besar indeks saham acuan bervariasi.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksono menuturkan, IHSG berupaya menguat setelah langkah pemangku kebijakan untuk menindaklanjuti keputusan kebijakan MSCI. Sedangkan dampak dari pemangkasan peringkat saham oleh Goldman Sachs dan UBS, menurut Herditya telah direspons pada awal sesi perdagangan sehingga membuat IHSG kembali koreksi dan sempat trading halt atau penghentian sementara perdagangan.

“Kami perkirakan rebound dari IHSG ini terjadi setelah pemangku kebijakan melakukan konferensi pers dan diharapkan dapat segera memenuhi aturan dan kriteria yang ditetapkan oleh MSCI kemarin,” kata Herditya saat dihubungi Liputan6.com.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya