Kementerian Agama Fasilitasi Pembentukan Kongres Forum Tokoh Agama untuk Pengurangan Risiko Bencana

Kementerian Agama membuka penyelenggaraan Kongres Nasional Forum Nasional Tokoh Agama untuk Pengurangan Risiko Benc

oleh Liputan6.comDiterbitkan 29 Januari 2026, 16:30 WIB
Kementerian Agama melalui Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) membuka penyelenggaraan Kongres Nasional Forum Nasional Tokoh Agama untuk Pengurangan Risiko Bencana (FONTA-PRB) yang digelar pada 23–25 Januari 2026 di Jakarta (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Agama melalui Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) membuka penyelenggaraan Kongres Nasional Forum Nasional Tokoh Agama untuk Pengurangan Risiko Bencana (FONTA-PRB) yang digelar pada 23–25 Januari 2026 di Jakarta.

Kongres ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat peran tokoh agama dan rumah ibadah dalam upaya pengurangan risiko bencana secara terstruktur dan berkelanjutan di tingkat nasional.

Dalam kongres tersebut, tokoh agama lintas iman menyepakati pembentukan Forum Nasional Tokoh Agama untuk Pengurangan Risiko Bencana (FONTA-PRB). Forum ini diharapkan menjadi wadah kerja sama lintas iman dalam memperkuat kesiapsiagaan dan ketangguhan masyarakat berbasis nilai-nilai keagamaan, khususnya pada fase pra-bencana.

Penyelenggaraan kongres merupakan tindak lanjut dari inisiatif para tokoh dan majelis agama lintas iman yang melihat besarnya peran rumah ibadah dalam merespons bencana, sekaligus pentingnya penguatan peran tersebut secara sistematis. Proses ini difasilitasi melalui kerja sama Kementerian Agama Republik Indonesia dan Islamic Relief Indonesia.

Kongres dihadiri lebih dari 100 peserta dari berbagai unsur, meliputi kementerian dan lembaga pemerintah, lembaga kemanusiaan, akademisi, media, sektor swasta, serta tokoh dan lembaga keagamaan. Peserta penuh kongres merupakan utusan resmi majelis agama, yakni Majelis Ulama Indonesia (MUI), Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), dan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI). Selain itu, perwakilan umat Katolik dan Khonghucu hadir sebagai audiens dan tamu undangan.

Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Kementerian Agama, M. Adib Abdushomad, yang mewakili Sekretaris Jenderal Kemenag saat membuka kongres, menyampaikan bahwa “Kerukunan umat beragama dapat menjadi fondasi penting dalam pengurangan risiko bencana yang holistik, integratif, dan inklusif”. Menurutnya, pengurangan risiko bencana juga dapat menjadi ruang temu kerja sama antarumat beragama dalam menjawab tantangan kemanusiaan.

 

Risiko Bencana

Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat risiko bencana tertinggi di dunia akibat kondisi geografis dan dampak perubahan iklim. Dalam beberapa waktu terakhir, banjir besar yang melanda Sumatra Utara, Aceh, dan Sumatra Barat berdampak pada lebih dari 800 rumah ibadah. Dalam situasi tersebut, rumah ibadah kerap dimanfaatkan sebagai tempat perlindungan sementara, pusat distribusi bantuan, dan titik koordinasi komunitas.

Dalam sambutan pengantar, CEO Islamic Relief Indonesia menegaskan bahwa Islamic Relief Indonesia berperan sebagai fasilitator dan mitra pendukung dalam proses yang dipimpin oleh para tokoh dan majelis agama. Peran tersebut dijalankan melalui fasilitasi dialog lintas iman, penguatan kapasitas, serta dukungan teknis berdasarkan pengalaman Islamic Relief Indonesia dalam penguatan Rumah Ibadah Tangguh Bencana. Disampaikan pula komitmen Islamic Relief Indonesia untuk mendukung keterhubungan forum ini dengan jejaring global, termasuk G20 Interfaith Forum, sebagai bagian dari pertukaran pengetahuan dan praktik baik.

Arahan kebijakan juga disampaikan oleh Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Pangarso Suryotomo, yang diwakili oleh Diannitta Agustinawati, Wakil Ketua Tim Pentahelix Direktorat Kesiapsiagaan BNPB. Ia menyampaikan bahwa rumah ibadah merupakan salah satu dari tujuh objek ketangguhan bencana dan memiliki fungsi strategis dalam seluruh siklus penanggulangan bencana.

Kongres juga diisi dengan diskusi publik yang menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Ketua Umum KPI Pusat Ubaidillah Sadewa, akademisi Prof. Eko Teguh Paripurno, serta Ketua Dewan Pengawas Syariah Islamic Relief Indonesia Prof. Muhammad Said. Diskusi membahas peran media, arah strategis Forum PRB lintas agama, serta dukungan pendanaan filantropi dalam pengurangan risiko bencana.

Melalui rangkaian sidang pleno dan komisi, kongres menghasilkan sejumlah dokumen kelembagaan, yaitu Statuta FONTA-PRB, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), Program Kerja Awal, serta Rekomendasi Kongres. Kongres juga menetapkan Dr. Ahmad Baidun, M.Si. sebagai Ketua Umum FONTA-PRB.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya