Ilmuwan Kanada Klaim Makan Keju dan Produk Susu Bisa Sebabkan Mimpi Buruk

Selain mimpi buruk, konsumsi keju diklaim bisa memicu gangguan tidur.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 28 Januari 2026, 18:35 WIB
Donat Isi Keju Leleh (Image by Gemini AI)

Liputan6.com, Ottawa - Jika Anda kerap mengalami mimpi buruk atau tidur tidak nyenyak setelah mengonsumsi makanan tertentu, temuan ilmiah terbaru menunjukkan hal itu bukan sekadar sugesti.

Penelitian yang mengkaji hubungan antara pola makan, kualitas tidur, dan mimpi menemukan kaitan kuat antara konsumsi produk susu dan munculnya mimpi buruk, terutama pada individu dengan intoleransi laktosa.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Psychology melibatkan lebih dari 1.000 mahasiswa dan menemukan bahwa gangguan pencernaan akibat intoleransi laktosa pada malam hari diduga memengaruhi kualitas tidur sekaligus isi mimpi.

“Tingkat keparahan mimpi buruk sangat berkaitan dengan intoleransi laktosa dan alergi makanan lainnya,” kata peneliti utama, Dr. Tore Nielsen dari Université de Montréal, dikutip dari laman Frontiersin.org, Rabu (28/1/2026).

Menurutnya, perubahan sederhana dalam pola makan berpotensi mengurangi mimpi buruk pada orang dengan sensitivitas makanan tertentu.

“Ini juga dapat menjelaskan mengapa produk susu sering disalahkan sebagai penyebab mimpi buruk,” ujarnya.

Penelitian tersebut mensurvei 1.082 mahasiswa Universitas MacEwan di Kanada. Responden diminta melaporkan kebiasaan makan, kualitas dan durasi tidur, frekuensi mimpi dan mimpi buruk, serta kondisi kesehatan fisik dan mental mereka. Sekitar sepertiga peserta mengaku mengalami mimpi buruk secara rutin.

Hasil survei menunjukkan perempuan lebih sering mengingat mimpi, melaporkan kualitas tidur yang buruk, serta hampir dua kali lebih mungkin dibandingkan laki-laki untuk memiliki intoleransi atau alergi makanan.

Sekitar 40 persen responden percaya makan larut malam atau makanan tertentu memengaruhi tidur mereka, sementara seperempat lainnya menilai makanan tertentu dapat memperburuk kualitas tidur.

Para peneliti menemukan bahwa pola makan yang kurang sehat berkorelasi dengan meningkatnya mimpi buruk dan menurunnya kemampuan mengingat mimpi. Sebaliknya, kebiasaan makan malam yang lebih sehat dikaitkan dengan tidur yang lebih baik dan ingatan mimpi yang lebih jelas.

Hasil Penelitian

Ilustrasi kue keju/ Ilustrasi AI

Sebagian besar responden yang mengaitkan makanan dengan gangguan tidur menyebut makanan manis, makanan pedas, dan produk susu sebagai pemicunya.

Meski hanya 5,5 persen peserta yang merasa makanan memengaruhi suasana mimpi mereka, kelompok ini secara konsisten menyebut produk susu sebagai pemicu mimpi yang lebih mengganggu atau aneh.

Analisis lebih lanjut menunjukkan intoleransi laktosa berkaitan erat dengan gejala gastrointestinal, kualitas tidur yang rendah, dan mimpi buruk. Para peneliti menilai ketidaknyamanan fisik seperti perut kembung atau nyeri di malam hari dapat memengaruhi isi mimpi.

“Mimpi buruk cenderung lebih parah pada penderita intoleransi laktosa yang mengalami gangguan pencernaan berat dan tidur terganggu,” kata Nielsen.

Ia menambahkan bahwa mimpi buruk yang berulang dapat membangunkan seseorang dalam kondisi tidak nyaman dan memicu perilaku menghindari tidur, yang pada akhirnya memperburuk kualitas istirahat.

 

Butuh Kajian Lebih Lanjut

Ilustrasi Keju (Photo by Waldrebell on Pixabay)

Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa hubungan sebab-akibat antara diet dan tidur masih perlu dikaji lebih lanjut.

Bisa jadi pola makan memengaruhi kualitas tidur, atau sebaliknya, gangguan tidur membuat seseorang memilih pola makan yang kurang sehat. Faktor lain juga mungkin berperan dalam memengaruhi keduanya.

Nielsen menyatakan penelitian lanjutan dengan cakupan usia dan latar belakang yang lebih luas diperlukan untuk memastikan temuan ini dapat digeneralisasikan.

Ia juga mendorong penelitian eksperimental, termasuk uji coba konsumsi makanan tertentu sebelum tidur, untuk memastikan dampaknya terhadap tidur dan mimpi.

“Masih banyak yang perlu dipelajari. Namun temuan ini membuka peluang bahwa intervensi diet sederhana dapat membantu meningkatkan kualitas tidur dan kesehatan secara keseluruhan,” ujarnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya