Liputan6.com, Jakarta - Ketegangan geopolitik global yang diikuti gejolak domestik mendorong harga emas menembus rekor tertinggi pekan lalu, seiring volatilitas yang kembali menguat di pasar logam mulia.
Melansir Kitco News, Senin (19/1/2026), harga emas spot mengawali pekan di level USD 4.529,89 per ons. Setelah kabar gugatan Departemen Kehakiman AS terhadap Federal Reserve merebak, harga emas melonjak tajam dan mencapai puncak USD 4.591,53 pada Minggu malam sekitar pukul 19.30.
Advertisement
Harga emas spot diperdagangkan sedikit di bawah USD 4.600 per ons. Setelah sempat terkoreksi ke area support penting di sekitar USD 4.582, pasar AS dibuka dengan sentimen baru terkait langkah pemerintahan Trump yang menyerang The Fed.
Volatilitas tinggi terlihat sejak awal perdagangan. Harga emas spot sempat menembus USD 4.600 dan menyentuh level tertinggi harian di kisaran USD 4.616. Namun, harga kemudian turun tajam ke sekitar USD 4.586 menjelang pembukaan bursa saham, sebelum kembali menguat hingga USD 4.630.
Proyeksi Emas Pekan Ini
Survei Emas Mingguan Kitco News terbaru menunjukkan pandangan analis Wall Street masih terbelah terkait arah harga emas dalam jangka pendek. Sementara itu, investor ritel justru semakin menguatkan pandangan mayoritas yang masih optimistis terhadap prospek emas.
Adam Button, kepala strategi mata uang di Forexlive.com, menilai prospek emas cenderung melemah. Menurutnya, komentar terbaru mengenai Kevin Hassett menegaskan meningkatnya taruhan terhadap independensi Federal Reserve.
Ia juga menilai keputusan Mahkamah Agung terkait tarif berpotensi berlawanan dengan kehendak Presiden. Button menekankan bahwa hingga ada kejelasan soal kebijakan tarif dan posisi Ketua The Fed, investor sebaiknya bersikap menunggu di pasar logam mulia.
“Naik. Aturan Pasar Newsom 1, jangan melawan tren, dan trennya adalah naik,” kata analis pasar senior di Barchart.com, Darin Newsom.
Momentum Positif untuk Emas
Presiden Adrian Day Asset Management, Adrian Day juga memiliki pandangan yang sama. Menurut dia, ada momentum positif ada pada emas karena investor yang sebelumnya berada di luar pasar memutuskan untuk ikut serta.
“Secara fundamental, faktor-faktor yang telah mendorong harga emas tetap ada. Beberapa hal spesifik mungkin akan berubah-ubah, tetapi trennya tetap naik untuk dunia yang sarat utang dan tidak stabil,” tuturnya.
Ole Hansen, kepala strategi komoditas di Saxo Bank, menilai harga berpotensi terkoreksi, terutama dipicu aksi ambil untung di pasar perak. Meski demikian, ia melihat peluang pembelian baru pada emas relatif terhadap perak setelah rasio keduanya menyentuh level 50, sekitar 30% di bawah rata-rata 25 tahun.
Tren Harga Emas
Meskipun begitu, Hansen menegaskan, tren jangka menengah hingga panjang masih mengarah naik.
Daniel Pavilonis dari pialang komoditas senior di RJO Futures, menilai pasar mulai menunjukkan kegelisahan di level harga yang tinggi. Ia melihat adanya risiko pergerakan ke dua arah dalam jangka pendek.
“Sepertinya orang-orang sedikit gugup di sini. Saya melihat sedikit keraguan, beberapa aksi ambil untung. Itulah suasana yang saya rasakan, bisa dibilang, selama lebih dari seminggu, terutama pada perak, tetapi juga pada logam secara keseluruhan,” tuturnya.
Pavilonis juga menyebut lonjakan harga emas pekan ini, termasuk koreksi pada Jumat, tidak sepenuhnya dipicu oleh gugatan pemerintah terhadap Jerome Powell dan Federal Reserve. Ia menilai faktor geopolitik, khususnya ketegangan terkait Iran, turut berperan karena emas cenderung diuntungkan oleh meningkatnya risiko konflik di kawasan tersebut.
Hasil Survei Kitco
Sebanyak 16 analis ambil bagian dalam Survei Emas Kitco News pekan ini, dengan pandangan Wall Street terbelah terkait prospek jangka pendek emas. Delapan analis atau 50% masih bersikap optimistis dan memperkirakan harga emas akan menguat pada pekan ini.
Sementara itu, empat analis atau 25% memprediksi harga akan melemah, dan empat analis lainnya memperkirakan emas bergerak konsolidatif.
Di sisi lain, sentimen investor ritel dalam jajak pendapat daring Kitco menunjukkan optimisme yang lebih kuat. Dari total 247 responden, mayoritas investor Main Street semakin bullish setelah harga emas mencetak rekor tertinggi baru.
Sebanyak 192 pedagang ritel atau 78% memperkirakan harga emas akan naik pada pekan depan, sementara 27 responden atau 11% memprediksi penurunan. Adapun 28 investor lainnya menilai harga emas cenderung bergerak datar.
Sentimen Sepekan
Untuk pekan ini, agenda data ekonomi utama mencakup rilis inflasi dan pertumbuhan, meskipun pergerakan pasar diperkirakan tetap banyak dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global.
Pasar keuangan AS akan libur pada Senin dalam rangka peringatan Hari Martin Luther King Jr. Sementara itu, Forum Ekonomi Dunia (WEF) akan dimulai di Davos, Swiss. Pada Selasa, pelaku pasar akan mencermati rilis data ketenagakerjaan mingguan ADP AS.
Agenda berlanjut pada Rabu dengan publikasi data Penjualan Rumah Tertunda untuk Desember, bersamaan dengan pidato Presiden AS Donald Trump di WEF. Selanjutnya, pada Kamis pagi akan dirilis data final Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal III, inflasi PCE untuk Oktober dan November, serta klaim pengangguran mingguan.
Pekan perdagangan ditutup pada Jumat dengan rilis PMI Manufaktur dan Jasa S&P Flash untuk Januari, serta data akhir Sentimen Konsumen Universitas Michigan.