Liputan6.com, Jakarta - Mahasiswa program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi Institut Pertanian Bogor (IPB) University hadirkan insinerator minim asap jelang Hari Lingkungan Hidup Nasional (HLHN) 2026 di Desa Cicadas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat (Jabar).
Insinerator merupakan teknologi yang berfungsi untuk membakar sampah dengan suhu tinggi guna mengurangi volume dan bahaya limbah.
Advertisement
Inovasi ini hadir sebagai solusi atas pengelolaan sampah desa yang selama ini masih banyak dilakukan melalui pembakaran terbuka. Pemakaiannya mampu mengurangi asap pekat dan menekan timbunan sampah.
Selain itu, dampak yang ramah lingkungan dan mudah digunakan oleh masyarakat menjadi nilai tambah keunggulan pada alat ini.
Salah seorang perwakilan tim KKNT Indra Bagus Ramdhani mengatakan, inovasi ini berangkat dari persoalan banyaknya tumpukan sampah hingga mencemari sungai.
"Kami melihat ada masalah sampah di Desa Cicadas ini, seperti banyak tumpukan sampah liar, bahkan ada yang membuang sampah ke sungai," ujar Indra, dilansir Liputan6.com dari laman resmi Institut Pertanian Bogor (IPB) University www.ipb.ac.id, Kamis (8/1/2026).
Menurutnya, masalah ini bukan hal baru dalam persoalan lingkungan di desa. Minimnya akses menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) menyebabkan sebagian warga lebih memilih untuk membakarnya sendiri di halaman rumah.
Cara tersebut dianggap praktis dan hemat biaya, namun dampaknya buruk terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat.
Untuk menjawab keresahan ini, mahasiswa KKNT Inovasi IPB University akhirnya merancang insinerator minim asap sebagai teknologi tepat guna.
Kesadaran Lingkungan hingga Keterbatasan Fasilitas
Permasalah ini datang bukan semata-mata akibat kurangnya kesadaran lingkungan pada masyarakat. Keterbatasan sarana pembuangan sampah juga mendukung masalah ini semakin kompleks.
Anggota tim KKNT Akma Naufal Rabbani mengatakan, kurangnya infrastruktur di sebagian wilayah menjadi masalah besar.
"Masalah yang paling besar adalah minimnya infrastruktur sampah. Hampir di sebagian RT atau RW tidak memiliki infrastruktur maupun sistem pengelolaan sampah," kata Akma.
Selain itu, ia juga menyoroti rendahnya kesadaran warga dalam membayar iuran sampah. Kondisi ini juga menyebabkan pengangkutan sampah tertunda hingga terjadi penumpukan.
"Pengangkutan sampah secara komunal sering terhenti. Kadang bisa sampai mandek, bahkan sampai tiga bulan," kata Akma.
Menurut Akma, keberadaan insinerator minim asap menjadi solusi alternatif yang mampu meminimalkan kebutuhan pengangkutan sampah.
Setelah melakukan uji coba selama hampir satu bulan, terbukti tidak terjadi penambahan volume sampah yang signifikan.
"Pengeluaran warga untuk pengangkutan sampah yang sebelumnya sekitar satu juta rupiah per sekali angkut dapat ditekan, cukup dengan biaya operasional petugas kebersihan," terang Akma.
Insinerator sebagai Upaya Peduli Lingkungan
Secara teknis, alat ini dibuat dari bata hebel yang mudah diperoleh. Desainnya memiliki ruang bakar memanjang dengan pengaturan aliran udara agar api menyala lebih stabil dan asap pembakaran berkurang secara signifikan.
Fitur inilah yang memungkinkan masyarakat membakar sampah tanpa mencemari kualitas udara.
Kata Akma, kemunculan insinerator minim asap disambut baik oleh warga dan aparat desa.
"Perwakilan RT, RW, dan Pak Lurah hadir dan menyampaikan rasa syukur atas kehadiran tim kami membangun insinerator ini," ucap dia.
Sebelumnya, para mahasiswa KKNT Inovasi IPB University memang berencana untuk membuat insinerator yang sama di 32 wilayah lainnya.
"Tujuan awal kami memang untuk direplikasi di 32 RT lainnya. Desainnya kami buat semudah mungkin agar bisa ditiru dan diaplikasikan," terang Akma.
Ia juga berharap, inovasi tersebut dapat diterapkan di wilayah lain agar dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat terkait pentingnya kebersihan dan kesehatan lingkungan, serta menjadi kegiatan yang berkelanjutan.