Liputan6.com, Jakarta - Menghabiskan momen libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) nampaknya telah menjadi agenda rutin bagi sebagian besar masyarakat. Namun, ada hal yang perlu diingat mengenai perencanaan keuangan, baik saat liburan maupun setelah kembali memulai hari baru.
Perencana Keuangan, Andy Nugroho mewanti-wanti masyarakat untuk bijak dalam mendanai kegiatan berliburnya di momen pergantian tahun. Dia menyarankan, liburan dilakukan sesuai dengan alokasi yang sudah ditetapkan sejak lama.
Advertisement
"Sebaiknya kita merelakan untuk merayakan libur Nataru yang sesuai dengan kemampuan finansial dan budget yang kita miliki, bukannya kemudian memaksakan diri untuk tetap liburan seperti impian kita," kata Andy saat dihubungi Liputan6.com, Kamis (25/12/2025).
Kekhawatiran muncul ketika beban finansial bertambah. Misalnya, memaksakan diri untuk berlibur dan mengambil dana pinjaman atau utang dari pay later atau kartu kredit.
Andy mewanti-wanti, langkah itu bisa saja menjadi beban berkepanjangan. Pasalnya, ada utang yang wajib dibayar pada tenggat waktu tertentu. Tentunya, hal itu akan berpengaruh pada pengeluaran di tahun depan.
"Karena pada hakikatnya menggunakan paylater ataupun kartu kredit tersebut bukannya kita memiliki penghasilan tambahan, namun kita berutang," tegas dia.
Ada Kebutuhan Tahun Depan
Andy menerangkan, perencanaan keuangan dalam menyambut liburan sejatinya untuk mempersiapkan kebutuhan di tahun baru. Pasalnya, sejumlah kebutuhan tahun depan memiliki pos wajib tersendiri yang harus dipenuhi.
"Karena liburan itu sendiri bukanlah sesuatu hal yang wajib namun ingin kita lakukan, dan kehidupan dan pengeluaran yang terjadi pasca liburan adalah hal yang harus kita jalani suka ataupun tidak suka," jelasnya.
Menurutnya, pengelolaan keuangan dan manajemen liburan yang tepat tidak akan memberatkan aspek finansial di kemudian hari. "Pasca liburan kita masih bisa menjalani hidup sehari-hari dengan nyaman tanpa harus berhutang ataupun berhemat secara ekstrim karena uang kita sudah habis untuk liburan," ujar dia.
Bandara Padat
Sebelumnya, PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney mempersiapkan lonjakan penumpang pesawat selama periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). 10,5 juta orang diprediksi bepergian dengan angkutan udara sepanjang periode libur tersebut.
Direktur Utama InJourney, Maya Watono memastikan kesiapan 37 bandara yang dikelola beroperasi maksimal. Termasuk menambah masa operasional menjadi 24 jam.
"InJourney tidak hanya memastikan kelancaran operasional, tetapi juga membangun bandara sebagai bagian dari ekosistem perjalanan dan pariwisata yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” kata Maya dalam keterangan resmi, Rabu (24/12/2025).
Trafik Meningkat
Pada 20 Desember 2025 pekan lalu, InJourney Airports mencatat 3.738 penerbangan dengan 517 ribu penumpang pesawat. Sehari berselang, pada 21 Desember 2025 terdapat 3.695 penerbangan dan 512 ribu penumpang pesawat. Serta, pada 22 Desember 2025 menjadi puncak arus yaitu 3.819 penerbangan dan 543 ribu penumpang pesawat.
Maya menerangkan, kesiapan bandara menjadi salah satu yang diperhatikan merespons tren kenaikan pariwisata nasional. Melalui InJourney Hospitality, hotel kelolaan BUMN diprediksi terisi 73 persen, atau naik dari periode yang sama tahun lalu.
"InJourney juga melakukan persiapan dengan sebaik-baiknya untuk memastikan pelayanan yang optimal sehingga perjalanan wisatawan melalui bandara InJourney Group dan destinasi pariwisata dapat berjalan lancar tanpa hambatan," tuturnya.