Liputan6.com, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencegah praktik greenwashing melalui pengungkapan keberlanjutan atau sustainability disclosure, guna menuntut transparasi untuk mendorong akuntablitas pasar.
Greenwashing merupakan suatu strategi pemasaran atau komunikasi untuk membuat sesuatu yang tampak lebih berkelanjutan dibanding dari kenyataannya.
Advertisement
"OJK memperkuat standar transparansi untuk mendorong akuntabilitas pasar dan mencegah praktik greenwashing," ujar Direktur Keuangan Berkelanjutan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), R. Joko Siswanto dalam acara Green Economy Outlook 2026, melansir Antara, Sabtu (20/12/2025).
Kedua hal tersebut mewajibkan integrasi risiko keberlanjutan dalam tata kelola, dan juga pelaporan keuangan.
Fokus R. Joko agar kedepannya kualitas dari pengungkapan keberlanjutan atau sustainability diclosure menjadi salah satu unsur strategis bagi daya saing lembaga jasa keuangan, dan paling terutama menarik pendanaan berkelanjutan dan investasi internasional.
Fokus pada Risiko Iklim dan Peningkatan Kapasitas Industri
Selain pengungkapan keberlanjutan, kebijakan dari keuangan berkelanjutan OJK tersebut berfokus pada integrasi manajemen risiko iklim dalam proses bisnis
"OJK telah mendorong penerapan Climate Risk Management and Scenario Analysis (CRMS), khususnya di sektor perbankan," ucap Joko.
Untuk kedepannya, OJK akan terus mengembangkan CRMS di sektor jasa keuangan yang lainnya, OJK juga melakukan penyempurnaan krangka CRMS dengan skenario iklim yang sesuai dengan kondisi di Indonesia.
Fokus kebijakan keuangan berkelanjutan OJK ketiga adalah, penguatan terhadap kapasitas dan literasi Environmental (Lingkungan), Social (sosial), dan Governance (tata kelola) di seluruh tingkat organisasi.
OJK juga mendorong pelaku ekonomi bagian sektor keuangan, emiten, dan perusahaan publik untuk meningkatkan kopetensi sumber daya manusia (SDM), memperkuat bagian infrastruktur pendukung, dan juga mengakselerasi pemanfaatan data keberlanjutan.
"OJK juga akan terus memperluas program peningkatan kapasitas dan kerja sama lintas sektor agar kesiapan industri, khususnya perbankan, semakin optimal," jelas Joko.