Liputan6.com, Jakarta - Sebagian orang memanfaatkan libur akhir tahun untuk berkunjung ke belahan bumi utara untuk menikmati musim dingin. Saat yang sama, virus influenza menyebar luas. Kekhawatiran meningkat setelah laporan dari Inggris menunjukkan musim flu yang sangat awal dan berpotensi parah.
"Ada indikator bahwa ini bisa lebih buruk daripada beberapa musim flu yang telah kita lihat dalam 10 tahun terakhir," kata Profesor Christophe Fraser dari Pandemic Sciences Institute di University of Oxford kepada BBC, dikutip dari CNA, Selasa, 9 Desember 2025.
Advertisement
Situasi serupa terjadi di Asia, Jepang sebagai tujuan liburan populer melaporkan wabah influenza dimulai pada akhir September 2025, jauh lebih awal dari musim normal yang biasanya dimulai pada November. Profesor Atsuo Hamada dari Universitas Kedokteran Tokyo menjelaskan bahwa peningkatan infeksi pernapasan mungkin terkait dengan lebih banyak orang berkumpul di tempat-tempat ber-AC selama sisa musim panas.
Kondisi ini menekankan pentingnya vaksinasi flu tahunan, terutama bagi pelancong. Kabar gembira bagi mereka yang memiliki fobia jarum (trypanophobia), kini tersedia inovasi baru, yaitu vaksin flu intranasal. Vaksin ini dikenal sebagai FluMist Trivalent, disuntikkan melalui semprotan hidung.
FluMist Trivalent menargetkan tiga subtipe virus A (H1N1, H3N2) dan B/Victoria yang sesuai dengan formulasi trivalen yang direkomendasikan CDC AS untuk musim 2024–2025. Di Singapura, vaksin ini disetujui untuk individu berusia 2 hingga 49 tahun, dan hanya diberikan dokter.
Panduan Penggunaan Vaksin Intranasal dan Musim Flu di Singapura
Penting untuk dicatat, vaksin ini mungkin kurang efektif pada pasien berusia 50 tahun ke atas dan dapat meningkatkan risiko mengi pada anak-anak di bawah dua tahun, menurut situs web kedokteran, drugs.com. sehingga konsultasi medis sangat krusial sebelum memilih metode vaksinasi ini.
FluMist Trivalent, sebagai vaksin flu semprotan hidung yang baru, memiliki pedoman penggunaan khusus yang perlu diperhatikan, terutama terkait dengan potensi interaksi dengan vaksin lain dan kondisi kesehatan tertentu. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, vaksin flu ini dapat diberikan bersamaan dengan vaksin lain, baik hidup maupun non-hidup.
Jika semprotan hidung ini tidak diberikan bersamaan dengan vaksin hidup lainnya, CDC merekomendasikan adanya jarak setidaknya empat minggu antara pemberian vaksin tersebut. Untuk vaksin non-hidup, tidak ada periode jarak yang direkomendasikan. Selain itu, individu yang memiliki alergi telur harus memberi tahu dokter mereka sebelum menerima semprotan hidung, karena ini merupakan kontraindikasi.
Rekomendasi Waktu Vaksinasi Flu
Meskipun Anda tidak bepergian, vaksinasi tetap penting. Dr. Leong Choon Kit, seorang dokter umum dari Klinik Medis Mission (Hougang), menjelaskan bahwa virus influenza beredar sepanjang tahun di Singapura. Puncak kasus biasanya terjadi dua kali setahun, yaitu dari Mei hingga Agustus dan lagi dari Desember hingga Maret. Oleh karena itu, vaksinasi tidak hanya relevan untuk pelancong, tetapi juga untuk perlindungan komunitas domestik.
"Jadi, kita sering melihat lonjakan pasien yang mencari vaksinasi sebelum musim ini, terutama mereka yang bepergian ke luar negeri atau pergi ke iklim yang lebih dingin," kata Dr. Leong.
Rencanakan vaksinasi dengan bijak karena dibutuhkan sekitar dua minggu bagi tubuh untuk mengembangkan kekebalan penuh setelah vaksin diberikan. Terkait frekuensi, meskipun ada dua musim puncak flu di Singapura, mendapatkan vaksin setahun sekali umumnya sudah cukup, kecuali ada perubahan signifikan dalam formulasi vaksin yang direkomendasikan.
Tips Meminimalkan Efek Vaksin Flu
Salah satu miskonsepsi paling umum seputar vaksinasi flu adalah ketakutan bahwa vaksin itu dapat menyebabkan infeksi dan membuat penerimanya menjadi menular. Dr. Leong dengan tegas membantah anggapan itu
"Vaksin flu menggunakan komponen virus yang tidak aktif (atau virus lemah yang digunakan dalam vaksin hidung) yang tidak akan menyebabkan infeksi. Vaksin flu bekerja dengan memperkenalkan komponen yang tidak aktif ini ke sistem kekebalan tubuh Anda, yang kemudian menghasilkan antibodi untuk melindungi dari infeksi di masa depan. Dengan demikian, vaksin flu tidak akan – dan tidak dapat – menyebabkan infeksi," tegasnya.
Jika seseorang mengembangkan gejala flu setelah vaksinasi, Dr. Fang menyarankan bahwa kemungkinan besar individu tersebut sudah terpapar virus sebelum vaksin sempat menjadi efektif penuh (yang membutuhkan waktu sekitar dua minggu). Sementara, penentuan strain virus yang akan dimasukkan dalam vaksin setiap tahun merupakan proses yang sangat ilmiah dan terkoordinasi secara global.
Untuk meminimalkan efek samping pasca-vaksinasi, Dr. Fang menyarankan agar Anda terhidrasi dengan baik dan cukup istirahat sebelum disuntik. Setelah menerima suntikan, disarankan untuk menggerakkan lengan yang disuntikkan.
Jika timbul rasa sakit atau demam ringan, pereda nyeri yang dijual bebas seperti parasetamol dapat dikonsumsi, tetapi jangan meminumnya sebelum suntikan, karena dapat menutupi gejala penting dan berpotensi menyebabkan kerusakan hati dan ginjal.