Banjir Sumatera Ancam Pasokan Komoditas, Sentimen Nataru di Pasar Modal Tertekan

Berikut rekomendasi saham pada pekan ini di tengah sentimen bencana Sumatera dan menyambut Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 01 Desember 2025, 11:47 WIB
Layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat acara Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2022 di Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - PT Indo Premier Sekuritas menilai banjir yang terjadi di sejumlah sentra perkebunan di Sumatera berpotensi mengganggu suplai komoditas dalam negeri. Kondisi ini dikhawatirkan memicu kenaikan inflasi dan membayangi sentimen positif menjelang akhir tahun yang biasanya ditopang stimulus belanja Natal dan Tahun Baru (Nataru). Sentimen tersebut dapat mempengaruhi pasar modal.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Iman Gunadi, setelah IHSG menutup perdagangan 24–28 November 2025 dengan performa kuat di level 8.508,71 atau naik 1,12% secara mingguan. Kenaikan tersebut didorong oleh lonjakan volume transaksi harian.

Meski indeks menguat, terdapat tekanan jual dari investor asing dengan net outflow mencapai Rp765 miliar dalam sepekan. Arus keluar dana asing ini mencerminkan sikap berhati-hati investor global.

“Meskipun IHSG menguat, capital outflow asing yang besar ini menjadi sinyal peringatan. Investor global masih wait and see terhadap stabilitas domestik kita,” kata Iman dalam keterangan resmi, dikutip Senin (1/12/2025).

Ia menjelaskan lima saham menjadi penyumbang terbesar terhadap pergerakan net foreign value, yaitu BRMS (Rp 4,426 T), BMRI (Rp 3,209 T), PTRO (Rp 969,2 B), BREN (Rp 6,83 T), dan RAJA (Rp 1,189 T). Menurutnya, sebagian besar aliran dana tersebut dipicu sentimen positif dari rebalancing indeks MSCI yang efektif berlaku mulai 25 November 2025.

Dari sisi global, pasar masih menunggu kepastian arah kebijakan moneter Federal Reserve. Data yang menjadi perhatian adalah ISM Manufacturing PMI serta PCE Price Index dan Core PCE Price Index. Konsensus memperkirakan Core PCE YoY bergerak sesuai ekspektasi di level 2,8%.

 

 

Risiko yang Perlu Diwaspadai di Pasar Modal

Pekerja menatap layar monitor yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (7/2/2025). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sementara itu, indikator domestik yang turut menentukan pergerakan pasar pekan ini meliputi neraca perdagangan dan inflasi. Momentum window dressing serta stimulus Nataru termasuk pencairan THR dan penyaluran bansos menjadi faktor pendukung tambahan bagi saham-saham sektor konsumsi dan ritel.

Namun, banjir di berbagai wilayah perkebunan di Sumatera menjadi risiko utama yang diwaspadai. Gangguan pasokan dan logistik akibat bencana tersebut dinilai dapat mendorong kenaikan harga pangan dan komoditas dalam jangka pendek. Jika lonjakan inflasi terjadi akibat disrupsi pasokan, ruang kebijakan BI bisa menjadi lebih terbatas.

Rekomendasi Saham

Karyawan melintasi layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat acara Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2022 di Jakarta, Jumat (30/12/2022). PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada 59 perusahaan yang melakukan Initial Public Offering (IPO) atau pencatatan saham sepanjang 2022. Pada penutupan perdagangan akhir tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup lesu 0,14% atau 9,46 poin menjadi 6.850,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Untuk merespons dinamika pasar, IPOT memberikan rekomendasi strategi investasi yang memanfaatkan sentimen Nataru.

MYOR

Buy MYOR (Entry: 2180, Target: 2300, Stop Loss: 2120). MYOR direkomendasikan sebagai salah satu emiten defensif-konsumsi yang diuntungkan dari agenda Nataru domestik. 

Iman menilai kenaikan disposable income masyarakat menjelang Natal dan Tahun Baru, akan secara langsung meningkatkan volume penjualan produk Consumer Goods seperti MYOR.

 SSIA

Buy on Pullback SSIA (Entry: 1820 – 1865, Target: 2000 dan Stop Loss: 1770. Iman menyebut SSIA dengan eksposur di sektor kawasan industri (Subang Smartpolitan) akan menjadi penerima manfaat langsung dari peningkatan Foreign Direct Investment (FDI) yang cenderung meningkat di tengah dorongan sentimen risk-on global.

 INET

Buy on Pullback INET (Entry: 670, Target: 745 dan Stop Loss: 640). Rekomendasi INET didasarkan pada potensi re-rating sektor teknologi dan telekomunikasi pasca-reaksi dovish The Fed dan dorongan sentimen risk-on global. 

Secara spesifik, menurut Iman, INET sebagai emiten di sektor infrastruktur digital, diuntungkan oleh penurunan risk-free rate global yang membuat valuasi forward-looking aset teknologi menjadi lebih menarik.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya