Gelombang Delisting Perusahaan Pakistan dari Bursa Saham

Sejumlah perusahaan keluar dari bursa saham di Pakistan.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 25 November 2025, 07:16 WIB
Ilustrasi uang rupee Pakistan (AFP)

Liputan6.com, Islamabad - Industri perlengkapan bayi seperti tempat tidur bayi Shield mungkin tampak menjanjikan di Pakistan yang memiliki pertumbuhan populasi tinggi. Namun, kenyataannya justru sebaliknya.

Shield Corporation baru-baru ini memutuskan keluar dari Bursa Efek Pakistan (PSX), mengikuti jejak perusahaan besar seperti Gillette dan Philip Morris. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: mengapa semakin banyak perusahaan memilih meninggalkan bursa?

Pada 1980-an, pemerintah Pakistan memberikan insentif pajak sebesar lima persen bagi perusahaan yang tercatat di bursa. Kebijakan ini menarik banyak perusahaan keluarga, terutama pabrik tekstil, untuk go public. Namun, setelah insentif ini dihapus, minat untuk tetap tercatat ikut merosot.

“Ketika keringanan pajak hilang, perusahaan tidak lagi melihat manfaat besar dari kepemilikan publik,” jelas Ali Farid Khwaja, CEO Oxford Frontier Capital dan Ketua KTrade. Banyak perusahaan kemudian membeli kembali saham mereka secara perlahan dan kembali dikelola layaknya bisnis keluarga, dikutip dari laman The Star, Rabu (26/11/2025).

Menjadi perusahaan publik berarti harus lebih transparan—mulai dari laporan keuangan hingga mekanisme perpajakan. Hal ini tidak selalu diinginkan oleh perusahaan, terutama di sistem ekonomi Pakistan yang masih banyak beroperasi dalam “zona abu-abu”.

“Jika Anda terdaftar di bursa, Anda harus transparan. Ketika delisting, kewajiban itu hilang,” kata Asad Ali Shah, mantan mitra pengelola Deloitte.

Bagi perusahaan multinasional, pencatatan di bursa juga membuat strategi pengalihan laba ke negara dengan pajak rendah menjadi lebih sulit.

Pemegang saham bisa menuntut penjelasan mengenai harga transfer, royalti, hingga margin keuntungan. Padahal, menurut Shah, penegakan hukum atas manipulasi harga transfer di Pakistan nyaris tidak ada.

 

Manfaat Bagi Bisnis Keluarga

Pengunjuk rasa juga meneriakkan kata-kata “Bebaskan Palestina” sambil membawa bendera dan spanduk. (Asif HASSAN/AFP)

Meski banyak yang keluar dari bursa, pencatatan saham sebenarnya punya keuntungan besar bagi perusahaan keluarga. Khwaja menjelaskan bahwa menjadi perusahaan publik membantu dalam pembagian aset warisan lintas generasi tanpa harus memecah bisnis.

Hal ini pernah disampaikan oleh tokoh industri Pakistan, Sayyid Babar Ali, dalam otobiografinya. Pencatatan di bursa memungkinkan anggota keluarga memiliki likuiditas, sambil tetap mempertahankan kendali atas perusahaan.

Perdagangan kecil antaranggota keluarga pun sering dimanfaatkan untuk meraih keuntungan. Di PSX, seorang “ibu, bibi, atau saudara perempuan” menjual sebagian kecil saham pada harga tinggi dan membelinya kembali ketika harga turun.

Delisting Itu Mahal

Ironisnya, keluar dari bursa tidak murah. Perusahaan harus membeli kembali saham publik dengan harga premium.Kasus Pak Suzuki Motors menjadi contoh nyata:

Harga saham sebelum delisting hanya Rs100. Setelah pengumuman, harga melonjak hingga Rs900. Akhirnya, PSX menetapkan harga pembelian kembali di Rs609, jauh di atas tawaran awal Suzuki Jepang.

 

Ke Depan: Apakah Akan Banyak Perusahaan Keluar dari Bursa?

Ilustrasi bendera Pakistan (pixabay)

Gillette juga mengalami tren serupa. Harga sahamnya melonjak dari Rs212 menjadi Rs605 hanya dalam dua minggu sebelum berangsur turun.

Menurut analis AKD Securities, M. Farid Alam, delisting juga memengaruhi mekanisme penemuan harga saham serta persaingan bisnis. Di Pakistan, 90-95 persen saham biasanya dimiliki sponsor perusahaan, berbeda dengan pasar global di mana kepemilikan publik lebih besar.

Jika tarif pajak tetap tinggi dan transparansi menjadi kewajiban berat, lebih banyak perusahaan mungkin memilih delisting. Namun, karena prosesnya kompleks dan mahal, banyak perusahaan tetap bertahan di bursa bukan karena ingin—melainkan terpaksa.

Fenomena ini membuka diskusi baru: apakah pasar saham Pakistan dapat berkembang jika perusahaan justru lebih nyaman berbisnis tanpa pengawasan publik? Pemerintah mungkin perlu memikirkan kembali insentif atau reformasi regulasi agar bursa kembali menarik bagi pelaku industri.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya