Kisah Damianus Nadu dan Tengkawang, Penjaga Hutan Warisan Leluhur Dayak

Damianus Nadu, bukan hanya menjaga hutan warisan leluhur, tapi juga mengolah buah Tengkawang menjadi minyak.

oleh Aceng MukaramDiterbitkan 25 November 2025, 22:36 WIB
Damianus Nadu, pelestari hutan Dayak. (Liputan6.com/ Aceng Mukaram)

Liputan6.com, Bengkayang - Hujan baru saja reda. Daun Tengkawang berkilat seperti kaca baru dibersihkan. Di bawahnya, Damianus Nadu, lelaki berumur 65 tahun ini menunduk pelan, menyentuh tanah dengan jemari retak-retak waktu. Matanya berkaca-kaca.

Bukan karena sedih. Tapi karena, akhirnya, dunia mulai datang. Pada Selasa, 25 November 2025, rombongan penting menginjak Dusun Melayang, Direksi Yayasan KEHATI, utusan TFCA Kalimantan. Mereka datang bukan untuk mengevaluasi atau mengawasi, melainkan menghormati.

Sebab, di sini, di Desa Sahan, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, sebuah revolusi diam-diam telah berjalan buah Tengkawang tak lagi ditebang, tapi diberdayakan, dijaga, bukan dieksploitasi.

“Kalau ada yang menebang, hukum adat menunggu. Berat,” tutur Tetua Hutan Adat Pikul, Damianus Nadu.

Nama “Pikul” bukan sekadar label. Ia adalah akronim sakral Pelestarian Indigenous Keanekaragaman Ulun Leluhur.

Sejak 15 Oktober 2002, hutan seluas 100 hektare ini dilindungi SK Bupati Nomor 131 Tahun 2002. Lalu pada 12 Maret 2018, statusnya diperkuat SK MenLHK Nomor 1300/MENLHK-PSKL/PKYHA/PSL.1/3/2018 resmi mengakui Hutan Adat Pangajid berganti nama menjadi Hutan Adat Pikul.

Di bawah kanopi raksasa Tengkawang dan Meranti, Damianus berdiri seperti imam dalam kuil kuno.

“Ada 99 jenis pohon langka di sini. Tengkawang bukan satu-satunya, tapi ia penjaga utama,” ucap Damianus Nadu.

Ia menunjuk batang setinggi 30 meter kulitnya seperti sisik naga, daunnya berkilau seperti perunggu.

Data Koperasi Hutan Adat Pikul menunjukkan sejak 2020, rata-rata 2.800 bibit Tengkawang ditanam ulang tiap tahun. Angka regenerasi alami mencapai 42 persen jauh di atas rata-rata nasional (11 persen KLHK 2024).

Dari Ritual ke Revolusi Dapur

Dulu, buah Tengkawang bulat, sebesar kepalan tangan, berwarna merah tua dipetik hanya untuk upacara adat Gawai Betang atau sebagai obat luka dan lindung bayi dari sakit angin.

Sekarang? Ia menjadi bahan baku. Minyak Tengkawang (kandungan asam oleat 58 persen, lebih tinggi dari minyak zaitun), sabun alami dengan sifat antimikroba alami, kue kering berbasis tepung biji, lilin aromaterapi bernilai ekspor.

Sejak 2022, Sentra Pengolahan Tengkawang di Dusun Melayang beroperasi di atas lahan 400 m². Fasilitasnya sederhana gudang beratap seng, pengering tenaga surya, dan mesin pres hidrolik berkapasitas 100-150 kg/hari.

“Tak pernah saya sangka, buah ini bisa menghidupi kami,” ujar Damianus Nadu.

Data produksi 2024 mencengangkan 1,2 ton biji kering terkumpul dari 12 dusun mitra. Artinya, rata-rata 85 persen petani anggota koperasi meningkatkan pendapatan bulanan hingga 2,3 kali lipat (BPS Bengkayang, 2025).

Yang paling mengharukan ada kelompok ibu-ibu “Mama Tengkawang” mengelola 70 persen produksi. Mereka tak hanya mengupas dan mengeringkan, tapi juga merancang kemasan, membuat label, bahkan mengajar workshop digital marketing via WhatsApp.

 

Teknologi Tak Mengusir Roh

TFCA Kalimantan, program kerja sama Pemerintah Indonesia-AS yang didukung USAID dan WWF menyuntikkan dana Rp 3,2 miliar sejak 2021 untuk infrastruktur dan pelatihan.

Hasilnya? Efisiensi produksi melonjak 40 persen dibanding metode tradisional ngebak (menumbuk batu) dan ngesek (menggosok batu bara).

Tapi teknologi tak mengusir nilai adat. Justru memperkuatnya. Misalnya, sistem panen bertahap hanya buah jatuh alami yang dipungut tidak boleh dipetik paksa.

Zona larangan total 30 persen area hutan tidak boleh dimasuki selama 2 tahun berturut-turut.

Sertifikasi “Adat Verified” tiap kemasan menyandang QR code yang memetakan pohon asal, nama pemetik, dan tahun tanam.

“Kami ingin intervensi program memberi manfaat ganda: menjaga hutan sekaligus meningkatkan ekonomi,” kata Ketua Umum Yayasan KEHATI, Riki Frindos.

Sementara itu Direktur Program TFCA Kalimantan, Puspa Dewi Liman, menegaskan," Prinsipnya, pemanfaatan Tengkawang harus menjaga regenerasi pohonnya. Kalau pohon mati, ekonomi mati. Titik.”

 

Tengkawang, Simbol Perlawanan Manis

Di tengah gempuran kelapa sawit dan batubara, keberadaan Pikul adalah counter-narasi. Ia membuktikan bahwa, konservasi bukan beban—ia bisa jadi mesin ekonomi.

Pengetahuan adat bukan kuno, ia bisa berpadu dengan inovasi. Hutan bukan “lahan tidur” ia adalah bank hidup.

Bahkan, harga minyak Tengkawang mentah di pasar lokal kini mencapai Rp 285.000/kg lebih mahal dari minyak kelapa sawit mentah (Rp 14.000/kg, data GAPKI, Agustus 2025).

Tapi Damianus Nadu tak tergiur ekspansi liar. “Kami tahu nilainya, tapi jangan sampai ia tinggal kenangan.”

Ia kemudian menunjuk pohon Tengkawang tertua, dijuluki Puyang Bumi oleh warga. Tingginya 38 meter, usianya diperkirakan 170 tahun.

Bukan hanya kayu. Ia adalah arsip hidup. Di balik kulitnya yang tebal, tersimpan jejak iklim cincin tahunan mencatat kekeringan 1997, bencana banjir 2006, bencana kabut asap 2015.

Kalau pohon ini mati bukan hanya ekosistem yang runtuh. Tapi juga memori kolektif.

Menuju “Emas Hijau” yang Berdaulat Masa depan? Tak muluk-muluk. 2026 target ekspor pilot batch ke Jepang dan Jerman (kosmetik organik premium).

2027 pembangunan eco-lab mini untuk uji mutu dan inovasi produk turunan. 2028, pengajuan Geographical Indication (Indikasi Geografis) untuk “Tengkawang Pikul”.

Yang paling krusial regenerasi kepemimpinan. Saat ini, 12 pemuda dan 9 perempuan muda telah dilatih sebagai Forest Guardian Junior.

Mereka belajar pemetaan GPS, pengolahan data, bahkan penulisan proposal pendanaan tanpa meninggalkan bahasa Dayak mereka.

Di salah satu buku catatan mereka tertulis. “Kami bukan penerus. Kami penjaga lanjutan.”

Manusia Harus Belajar Mendengar

Matahari sore menyelinap di antara dahan. Damianus Nadu berdiri diam. Angin berdesir pelan, seperti bisikan. “Hutan sedang berbisik agar manusia tidak melupakan rumahnya.”

Kalimat itu bukan retorika. Ia adalah data dalam bentuk rindu. Di tengah krisis iklim, Tengkawang di Pikul mengajarkan sesuatu yang sederhana namun revolusioner tidak perlu memilih antara hidup dan lestari. Keduanya bisa dan harus berjalan seiring.

Seperti biji Tengkawang yang baru tumbuh setelah 5-7 tahun kesabaran adalah strategi paling radikal.

Damianus Nadu? Ia kembali menyapu daun di sekitar akar Tengkawan. Bukan karena tugas. Tapi, karena rasa terima kasih tak pernah bisa diukur dengan timbangan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya