Liputan6.com, Jakarta Keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan ikut mendorong penguatan saham sektor perbankan. Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta mengatakan langkah BI turut menjaga likuiditas di pasar keuangan, meski sektor properti masih cenderung stagnan.
“Oke, disini kita melihat Saham-saham perbankan mengalami apresiasi dan baik. Mengalami penguatan tentunya, walaupun perusahaan properti ini masih relatively consolidation menurut hemat saya demikian,” ujar Nafan kepada Liputan6.com, dikutip Jumat (21/11/2025).
Advertisement
Nafan menjelaskan bahwa kebijakan penahanan BI rate tidak hanya berdampak pada pergerakan saham, namun juga berkaitan dengan tujuan strategis menjaga stabilitas moneter di tengah dinamika global, khususnya arah kebijakan The Federal Reserve (The Fed).
“Ini memang paling tidak tujuan daripada BI dalam menetapkan BI rate adalah dalam rangka memperkuat likuiditas di pasar finansial. Ini secara khusus, kalau secara utama sebenarnya tujuannya adalah demi menjaga stabilitas netuka rupiah. Sambil nantinya juga menempuh langkah-langkah kebijakan pro-growth.”
Lebih lanjut, ia menilai keputusan bank sentral Indonesia tidak bisa dilepaskan dari ketidakpastian global, termasuk perbedaan pandangan pembuat kebijakan The Fed terkait kemungkinan penurunan suku bunga di AS. Keputusan menahan suku bunga juga memengaruhi sektor properti dalam negeri, yang masih tertekan karena permintaan kredit belum optimal.
Nafan menilai sektor properti berpotensi membaik jika penurunan suku bunga dilakukan, karena dapat diikuti penyesuaian suku bunga kredit dan meningkatkan permintaan KPR serta pembiayaan lainnya.
BI Rate Ditahan 4,75 Persen, Level Terendah Sejak 2022
Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 18–19 November 2025. BI juga menetapkan suku bunga Deposit Facility tetap berada pada 3,75 persen, sementara Lending Facility dipertahankan di posisi 5,50 persen.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan jangka pendek pada stabilisasi nilai tukar rupiah dan menarik aliran masuk investasi portofolio asing dari dampak meningkatnya ketidakpastian global.
“Dengan tetap memperkuat efektivitas transmisi pelanggaran kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah ditempuh selama ini,” kata Perry Warjiyo dalam konferensi pers daring usai RDG, Rabu (19/11/2025).
Menurut Perry, bank sentral terus memperkuat instrumen moneter untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung pemulihan ekonomi.
BI sebelumnya telah memangkas BI Rate sebesar 150 basis poin sejak September 2024 sampai Oktober 2025, sehingga mencapai 4,75 persen angka yang menjadi yang terendah sejak 2022.
Stabilitas nilai tukar Rupiah tetap dijaga melalui intervensi di pasar offshore, transaksi di pasar domestik (spot dan DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
BI juga menetapkan tingkat bunga untuk instrumen valas yang lebih kompetitif guna menjaga minat penempatan dana.
Dari sisi likuiditas, BI mengurangi outstanding Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dari Rp 916,97 triliun pada awal 2025 menjadi Rp 699,3 triliun per 17 November 2025.
Selain itu, pembelian SBN mencapai Rp 289,91 triliun, termasuk melalui skema debt switching bersama pemerintah.
Syarat Turunkan BI Rate
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo masih membuka kemungkinan terkait penurunan suku bunga acuan di akhir 2025 ini. Menurut dia, pemangkasan BI rate bakal dilakukan jika beberapa syarat telah terpenuhi.
Pertama, bank sentral bakal menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate jika tingkat inflasi dan pertumbuhan ekonomi nasional dalam kondisi terkendali.
"Ada ruang penurunan BI rate ke depan. Kapan dan besarnya itulah yang kami pertimbangkan, adalah seberapa besar inflasi ke depan yang terkendali dan ruang pertumbuhan ekonomi," kata Perry dalam konferensi pers hasil rapat KSSK di Kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta, Senin (3/11/2025).
Namun yang terpenting, ia menekankan soal efektivitas transmisi kebijakan moneter kepada pihak perbankan, utamanya soal penurunan suku bunga kredit.
"BI akan terus mencermati efektivitas transmisi kebijakan moneter longgar yang ditempuh. Bagaimana ini diikuti dengan perkembangan Deposit Facility dan Lending Facility," bebernya.
"Bagaimana kelonggaran dari ekspansi moneter, termasuk juga tambahan dana Rp 200 triliun dari Pak Menteri Keuangan, mendorong kredit dan juga pertumbuhan ekonomi," dia menambahkan.