Cuaca Ekstrem Jadi Tantangan Airnav Hadapi Puncak Penerbangan saat Nataru

Jelang akhir tahun, Airnav Indonesia mengantisipasi adanya cuaca ekstrem yang terjadi. Untuk itu, pihaknya berkordinasi dengan BMKG untuk lancarnya penerbangan.

oleh Pramita TristiawatiDiterbitkan 13 November 2025, 23:52 WIB
Jelang akhir tahun, Airnav Indonesia mengantisipasi adanya cuaca ekstrem yang terjadi. Untuk itu, pihaknya berkordinasi dengan BMKG untuk lancarnya penerbangan.

Liputan6.com, Jakarta - Jelang akhir tahun, Airnav Indonesia mengantisipasi cuaca ekstrem yang terjadi. Untuk itu, pihaknya berkordinasi dengan BMKG untuk lancarnya penerbangan.

"Jelang arus libur natal dan tahun baru, beberapa hal yang kita antisipasi salah satunya soal cuaca. Karena, dari bulan November sampai Desember ini ada prediksi cuaca ekstrem sehingga, beberapa langkah kita lakukan mencegah terjadinya gangguan," kata Direktur Operasi AirNav Indonesia Setio Anggoro, Kamis (13/11/2025).
 
Gangguan yang dimaksud seperti terjadinya keterlambatan dalam jadwal penerbangan, akibat landasan yang tidak bisa dilalui, hingga permintaan divert.
 
"Adanya banyak hal gangguannya, makanya kami terus kuatkan koordinasi baik dengan BMKG, pengelola dan airlines," ujarnya.
 
Dia juga menyebutkan, pada peak season atau puncak arus libur natal dan tahun baru 2026, khususnya di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, akan ada 1.200 penerbangan yang didominasi tujuan domestik.
 
"Meski memang belum padat atau naik signifikan seperti periode sebelum Covid-19. Tapi, dengan data tahun lalu, kami prediksi untuk di bandara tersibuk, yakni Bandara Soekarno-Hatta akan ada 1.200 penerbangan yang 70 persennya itu tujuan domestik, seperti Bali, Lombok, Yogyakarta dan Manado," jelas Setio.
 
Namun, angka itu pun diprediksi bisa meningkat seiring kebijakan maskapai dan pemerintah untuk meningkatakan perjalanan wisata saat akhir tahun. Termasuk kebijakan libur bersama atau cuti pada saat Natal dan Tahun Baru 2026.
 
"Tapi pergerakkan pesawat ini masih terus kita lihat dan pantau, karena kita juga melihat apakah nantinya ada kebijakan yang dikeluarkan pemerintah untuk geliat transportasi udara di akhir tahun," ungkapnya.
 
Diketahui, secara total, AirNav Indonesia memprediksi arus pergerakan pesawat diproyeksikan mencapai 76.972 pergerakan penerbangan selama 18 hari layanan khusus, atau naik sekitar 3,5 persen dibanding Nataru tahun sebelumnya.
 
"Dari jumlah tersebut, sekitar 1.100 pergerakan perharinya diantaranya berada di Soekarno Hatta,"ujarnya.
 

Penerbangan Domestik Makin Ramai, Apa Strategi Airnav?

Petugas ATC AirNav Indonesia memantau penerbangan melalui radar (dok: Ilyas)

Sebelumnya, peningkatan lalu lintas penerbangan pascapandemi COVID-19, membuat Airnav Indonesia harus menguatkan sinergitas antar stakeholder di dunia penerbangan.

Direktur Utama AirNav Indonesia, Avirianto Suratno mengatakan, sebagai BUMN yang memberikan layanan navigasi penerbangan di Indonesia, AirNav terus memperkuat sinergi dengan berbagai stakeholder. Mulai dari Kementerian Perhubungan, otoritas bandara, maskapai penerbangan, operator bandara, BMKG, ikatan pilot, komunitas penerbangan, serta instansi terkait lainnya di seluruh Indonesia.

"Kolaborasi ini bertujuan untuk memastikan keselamatan, efisiensi operasional, dan inovasi layanan navigasi udara di tengah perubahan lanskap industri penerbangan. Ini mengingat adanya peningkatan permintaan penerbangan domestik saat ini," katanya di Tangerang, Kamis (27/2/2025).

Akhirnya disepakati, untuk mengembangkan strategi peningkatan daya saing penerbangan. Melalui peningkatan pelayanan, lalu penyesuaian kembali jadwal terbang, hingga efisiensi bahan bakar pesawat.

 

Optimalisasi Manajemen Lalu Lintas

Petugas ATC AirNav Indonesia memantau penerbangan melalui radar (dok: Ilyas)

Kemudian, adanya optimalisasi manajemen lalu lintas udara dan implementasi teknologi berbasis Performance-Based Navigation (PBN), diharapkan operasional penerbangan semakin efisien dan tepat waktu.

"Kita perkuat strategi perusahaan dalam menghadapi tantangan industri penerbangan global serta meningkatkan standar keselamatan dan layanan navigasi udara di Indonesia," ungkapnya.

Misalnya saja, mendukung ekspansi rute penerbangan yang dilakukan oleh maskapai nasional seperti Garuda Indonesia, Citilink, dan Pelita Air.

“Kami terus berkoordinasi dengan maskapai dan operator bandara untuk memastikan kelancaran arus lalu lintas penerbangan. Dengan kolaborasi yang solid, kami optimis dapat meningkatkan efisiensi dan keselamatan penerbangan di Indonesia,” ujar Avi.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya