Liputan6.com, Jakarta Garudafood terus memperkuat penetrasi di pasar ritel offline, sembari tetap memperhatikan berbagai perubahan dan inovasi yang terjadi di bidang pemasaran digital.
Lantaran, produk jualan Garudafood semisal kacang, wafer, biskuit, hingga minuman kemasan sudah lama menjamur di pasar ritel offline, mulai dari warung kelontong hingga minimarket.
Advertisement
"Bisnis kami juga lebih dari 95 persen dalam bidang tradisional. Jadi, memiliki campuran antara distribusi, inovasi, dan pemasaran adalah hal yang sangat penting," ujar Marketing Services Director Garudafood Mariska Goesman dalam sesi diskusi panel pada MMA Impact Indonesia 2025 di The Ritz-Carlton Mega Kuningan, Jakarta, Kamis (6/11/2025).
Mariska meyakini, kreativitas jadi kunci utama keberhasilan strategi pemasaran. "Saya percaya kreatif berkontribusi 50 persen kepada efektifnya pemasaran," sebutnya.
Kendati begitu, ia tidak menyangkal kampanye pemasaran kini menghadapi tantangan perkembangan digital. Hanya saja, dia juga tak mau tutup mata bahwa Garudafood tidak mungkin bisa fokus memasarkan ribuan produknya secara penuh di pasar online.
"Oita melihat bahwa TV berkembang, digital berkembang dalam bidang ekspansi. Tetapi kita juga mengetahui bahwa di bidang pemasaran, di mana kita menjual 2.000 produk, bisakah Anda bayangkan jika kita beralih ke digital dengan atribusi penuh? Itu tidak mungkin, bukan?" bebernya.
"Karena itulah, kami sekarang lebih bergantung pada membangun brand juga, menyeimbangkan antara matriks yang lebih pendek, dan membangun aktivitas brand, agar brand tersebut terus berkembang," kata Mariska.
Konsumsi Masyarakat Membaik, Industri Pemasaran Diajak Manfaatkan Momentum
Sebelumnya, industri pemasaran Indonesia memasuki fase transisi penting setelah dua tahun menghadapi tekanan perlambatan konsumsi. Chairperson MMA Global Indonesia sekaligus CEO Emtek Media & Vidio, Sutanto Hartono mengajak agar pelaku industri memanfaatkan momentum ini.
Dalam pembukaan acara MMA Impact Indonesia 2025, Sutanto menegaskan pemulihan mulai terasa, salah satunya didorong oleh sentimen positif masyarakat setelah penunjukan Menteri Keuangan baru, Purbaya Yudhi Sadewa.
“Dua tahun terakhir merupakan masa yang menantang bagi semua pihak di industri. Setelah pandemi COVID-19, Indonesia sempat memulai dengan baik dengan pertumbuhan ritel dua digit. Namun, sejak 2023, pertumbuhannya mulai menurun dan hanya mencatatkan pertumbuhan satu digit,” ujar Sutanto dalam acara MMA Impact Indonesia 2025, Kamis (6/11/2025).
Namun Sutanto menegaskan situasi mulai berubah memasuki Oktober 2025, sejalan dengan menguatnya kepercayaan konsumen. Laporan Mandiri Institute menunjukkan Mandiri Spending Index naik sekitar 2% week-on-week, didorong oleh lonjakan pembelian barang tahan lama seperti ponsel dan elektronik yang menembus pertumbuhan lebih dari 7,5%.
Ia menilai bahwa salah satu pemicu meningkatnya sentimen konsumsi adalah momentum pergantian menteri ekonomi, yang memperkuat optimisme masyarakat terhadap arah kebijakan pemerintah. Purbaya Effect ketika rasa percaya publik meningkat lalu mendorong aktivitas belanja disebut menjadi salah satu faktor yang memberi angin segar pada ekonomi domestik.
Gelombang Promosi Akhir Tahun
Sutanto berharap tren positif ini tidak bersifat sementara. Dengan kombinasi optimisme publik, stimulus pemerintah, dan gelombang promosi akhir tahun, ia memproyeksikan konsumsi akan terus menguat hingga kuartal IV 2025.
Sutanto menekankan pentingnya meninggalkan fase efisiensi dan mulai beralih ke strategi pertumbuhan. Ia memperkenalkan tiga pendekatan yang digaungkan MMA Impact 2025: Act, Accelerate, dan Advance yang menurutnya harus dieksekusi segera agar dapat memberikan dampak nyata bagi bisnis.
MMA Impact Indonesia 2025 mempertemukan para pemimpin pemasaran, brand, dan media untuk membahas strategi memperkuat pertumbuhan di tengah perubahan perilaku konsumen. Sutanto menegaskan bahwa fase pemulihan ini harus dimanfaatkan untuk beralih dari strategi efisiensi ke inovasi yang lebih agresif.