Kapasitas RDF Rorotan Bakal Dibatasi Jadi 1.000 Ton Sampah per Hari Setelah Warga Keluhkan Bau Busuk

Pemprov DKI Jakarta akan mengurangi kapasitas RDF Plant Rorotan menjadi 1.000 ton sampah per hari karena munculnya bau busuk yang dikeluhkan warga.

oleh Winda NelfiraDiterbitkan 06 November 2025, 18:30 WIB
PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) berpartisipasi dalam pengelolaan sampah melalui pembangunan fasilitas Refuse-Derived Fuel (RDF) Plant Rorotan. (Foto: istimewa)

Liputan6.com, Jakarta Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, bakal membatasi kapasitas fasilitas pengolahan sampah Refuse Derived Fuel (RDF) Plant Rorotan menjadi 1.000 ton per hari dari yang semula 2.500 ton sampah per hari.

Hal itu usai sampah di RDF Plant Rorotan diprotes warga karena bau busuk.

Menurut Pramono, bau busuk muncul ketika fasilitas dipaksa beroperasi di atas kapasitas optimal. Selain itu, hujan yang mengguyur Jakarta pekan lalu membuat kondisi sampah basah sehingga proses pengeringan terganggu dan memunculkan bakteri.

“Sebenarnya ketika RDF dengan kapasitas sampah yang input-nya itu 1.000 tidak ada masalah apa-apa dan itu sudah berlangsung beberapa hari. Menjadi masalah ketika dinaikkan menjadi 2.000,” kata Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (6/11/2025).

Selain itu, lanjut Pramono armada truk yang mengangkut sampah juga menjadi sumber persoalan baru. Sebab, kebanyakan truk yang ada merupakan truk pengompak (compacted) lama.

“Sebagian truknya itu truk lama sehingga air lindinya jatuh-jatuh, menimbulkan bau,” kata Pramono.

Tak hanya itu, Pramono mengatakan, titik-titik jalan yang dilalui truk dilaporkan juga mengalami kemacetan hingga berjam-jam karena antrean panjang. Oleh karenanya, atas dasar itu, Pemprov DKI Jakarta memutuskan untuk mengurangi kapasitas RDF.

Lebih lanjut, Pemprov juga akan mempercepat pengadaan truk pengompak baru untuk menggantikan armada lama yang menyebabkan kebocoran air lindi.

“Armadanya sekarang ini sudah ada 93 truk tahun 2024. Saya minta untuk pengadaan 2025 dipercepat sehingga hanya truk-truk baru yang akan melayani,” ujar dia.

Masalah dari Pengangkutan Sampah

Sebelumnya, menurut Pramono, permasalahan utama bau busuk menyengat dari RDF Plant Rorotan di Jakarta Utara itu bukan berasal dari masalah fasilitas RDF, namun pada proses pengangkutan sampah serta sampahnya sendiri.

 “Jadi, RDF Rorotan sebenarnya permasalahannya bukan di RDF-nya, karena sebenarnya kita sudah commissioning sampai dengan 1.000-1.200. Saya mengakui secara jujur, problemnya adalah di pengangkutan dan sampahnya,” kata Pramono di Jakarta, Senin 3 November 2025.

Ia menjelaskan, sampah yang ada di fasilitas RDF Rorotan seharusnya tidak lebih dari dua sampai lima hari agar tidak menimbulkan bau. Selain itu, proses pengangkutannya juga diakui bermasalah, sehingga menyebabkan air yang berasal dari tumpukan sampah mengalir selama perjalanan ke RDF Plant Rorotan.

“Kemarin mobil yang mengangkut itu air lindinya bertebaran. Itu yang kemudian menyebabkan yang pertama bau ke mana-mana,” jelas Pramono.

 

Bakal Temui Warga

Dia menyebut, sebagai tindak lanjut atas keluhan warga, dalam waktu dekat Pramono berencana menemui warga sekitar RDF Plant Rorotan yang mengeluhkan adanya bau.

Ia memastikan Pemprov DKI Jakarta akan menyelesaikan permasalahan ini, sehingga RDF Plant Rorotan bisa segera beroperasi.

“Dalam waktu dekat saya akan ke lapangan dan saya juga akan menerima warga yang mengeluh tentang RDF Rorotan. Karena RDF Rorotan apapun harus diselesaikan,” katanya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya