Setahun Ruben Amorim di Manchester United: Dari Mimpi Indah, Kekacauan, hingga Tanda-Tanda Kebangkitan

Tepat setahun lalu, Ruben Amorim datang ke Manchester United dengan senyum lebar dan penuh antusiasme. Dalam konferensi pers perdananya, pelatih asal Portugal itu menyebut melatih Setan Merah sebagai “mimpi yang menjadi kenyataan”.

oleh Ari Rachman PrayogaDiterbitkan 01 November 2025, 13:09 WIB
Pelatih kepala Manchester United asal Portugal, Ruben Amorim, memberi isyarat selama pertandingan Premier League Inggris antara Manchester United dan Brighton and Hove Albion di Old Trafford, Manchester, Inggris barat laut, pada 25 Oktober 2025. (Oli SCARFF/AFP)

Liputan6.com, Jakarta Tepat setahun lalu, Ruben Amorim datang ke Manchester United dengan senyum lebar dan penuh antusiasme. Dalam konferensi pers perdananya, pelatih asal Portugal itu menyebut melatih Setan Merah sebagai “mimpi yang menjadi kenyataan”.

Namun, kenyataan di Old Trafford ternyata jauh lebih keras dari yang dibayangkannya. Mimpi indah itu segera berubah menjadi cobaan berat yang menguji karakter, filosofi, dan kepemimpinannya.

Awalnya, semua tampak menjanjikan. Laga debutnya melawan Ipswich Town di Portman Road bahkan dibuka dengan gol cepat Marcus Rashford di menit kedua.


Awal Terjal Amorim

Mereka pun mampu unggul lebih dulu berkat gol Marcus Rashford pada menit ke-2. Sayangnya, gawang Manchester United yang dikawal Andre Onana kebobolan pada menit ke-43. Umpan dari Wes Burns mampu dituntaskan Omari Hutchinson menjadi gol dengan tendangan kaki kiri. (AP Photo/Dave Shopland)

Para jurnalis di tribune pers kala itu sempat mengira United telah menemukan pelatih jenius baru. Tapi kenyataan berkata lain, laga berakhir imbang 1-1, dan sejak saat itu, perjalanan Amorim justru menurun drastis. Dalam hitungan minggu, atmosfer positif berubah menjadi tekanan hebat.

United gagal menang dalam enam laga beruntun di periode Natal dan Tahun Baru 2024. Krisis makin dalam setelah memasuki April, di mana timnya mencatat tujuh pertandingan tanpa kemenangan.

Gaya bermain yang idealis ala Amorim, berbasis penguasaan bola tinggi dan pressing agresif, justru sering terlihat kaku dan tidak cocok dengan karakter skuad yang dimilikinya. Banyak pemain tampak kesulitan memahami sistem tersebut, sementara sebagian lainnya diyakini tidak mau beradaptasi.


Masalah Internal MU

Pelatih Manchester United, Ruben Amorim, tampak kecewa setelah anak asuhnya ditaklukkan Brentford 1-3 pada pertandingan pekan keenam Liga Inggris 2025/2026 di Gtech Community Stadium, Sabtu (27/09/2025). (AFP/Justin Tallis)

Masalah internal pun ikut memperburuk situasi. Amorim mewarisi ruang ganti yang sudah lama disebut “beracun”, penuh ego dan ketidakpuasan. Konflik memuncak ketika lima pemain, termasuk Rashford, Jadon Sancho, dan Alejandro Garnacho disebut menolak kembali ke sesi pramusim karena tak puas dengan peran mereka.

Amorim kemudian bertindak tegas, memblokir kelompok tersebut dan menyingkirkan mereka dari skuad utama. Langkah yang keras, namun dianggap perlu untuk menegakkan disiplin dan memulihkan otoritas pelatih.

Di tengah tekanan media dan sorotan publik, Amorim tak pernah bersembunyi. Ia kerap berbicara jujur, bahkan terlalu jujur. Dalam beberapa wawancara, ia mengakui timnya tampil memalukan, menyebut United sedang dalam “pertarungan degradasi”, dan bahkan menawarkan pengunduran diri jika pihak manajemen menilai dirinya gagal total.

Lanjut Baca:

Namun, Sir Jim Ratcliffe tetap memercayainya. Pemilik minoritas klub itu bersikeras memberi waktu bagi Amorim untuk membangun ulang tim sesuai visinya. Keputusan itu kini mulai menunjukkan hasil. Meski musim pertama Amorim dipenuhi lebih banyak kekecewaan ketimbang keberhasilan, sinyal kebangkitan mulai tampak. United mencatat tiga kemenangan beruntun di liga, termasuk kemenangan spektakuler atas Liverpool di Anfield, hasil yang mengubah nada pembicaraan di sekitar Old Trafford. Kini mereka duduk di peringkat keenam klasemen, hanya terpaut enam poin dari pemuncak Arsenal.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya