Mengapa Tubuh Suku Inuit Bisa Tetap Hangat di dalam Iglo? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Bagaimana iglo yang menjadi tempat bertahan hidup suku Inuit membuat ruangan tetap hangat?

oleh Fanny MarizkaDiterbitkan 20 Oktober 2025, 18:35 WIB
Ilustrasi iglo. (unsplash.com)

Liputan6.com, Jakarta - Tinggal di wilayah penuh salju selalu terdengar mustahil bagi orang yang terbiasa dengan iklim hangat.

Bahkan suhu terendah dapat mencapai -53 derajat Celcius, yang menjadi tempat penduduk asli wilayah Arktik dan Subarktik, yaitu suku Inuit, bertahan hidup dan tinggal dengan membangun iglo.

Bangunan yang dibuat dari salju ini ternyata mampu menjaga orang tetap hangat di tengah suhu ekstrem, melalui pemahaman sirkulasi panas yang memanfaatkan bentuk arsitektur dan struktur salju, dilansir dari Mental Floss, Senin (20/10/2025).

Menurut LabXchange, terdapat tiga cara untuk memindahkan panas, seperti konveksi (pergerakan gas atau cairan), konduksi (kontak langsung dengan benda lain), dan radiasi (gelombang elektromagnetik).

 

 

Panas Tubuh Sebagai Kehangatan di Iglo

Foto yang diambil 13 Januari 2020 menunjukkan orang-orang menikmati hot pot di meja dan kursi berukir es di dalam igloo selama Festival Es dan Salju Internasional Harbin tahunan. Sementara hampir seluruh perabot di dalam restoran ini seperti meja dan kursi, terbuat dari es. (STR/AFP)

Ketika berada di dalam iglo, panas tubuh menyebar ke udara dan memicu proses konveksi. Kemudian udara yang lebih hangat akan naik dan udara yang lebih dingin turun.

Iglo juga sering dibangun bertingkat untuk membuat tempat tinggal yang hangat. Pintu masuk dibuat rendah dan berada di bawah permukaan tanah, ruang tamu di permukaan tanah, dan platform tidur ditinggikan.

Udara terdingin terkumpul di area cekung terdekat dengan pintu masuk, sementara udara terhangat naik ke platform tidur yang ditinggikan sekitar 30 cm dari lantai.

Sehingga udara terhangat berkumpul di area tidur, sedangkan udara terdingin berada di dekat pintu masuk, yang membuat penghuni tetap hanagt meskipun berada di lingkungan yang sangat dingin.

Pola Desain Iglo

Ilustrasi iglo. (unsplash.com)

Bentuk iglo menyerupai katenoid atau kubah yang dibangun dengan balok salju padat tanpa penyangga interior. Hal ini untuk memberikan tekancan secara merata serta memperkuat iglo.

Selain itu, padat dari baloknya mengandung hingga 95 persen udara terperangkap di antara kristal-kristalnya, karena untuk memberikan insulasi yang memperlambat hilangnya panas ke luar.

Dengan teknik pembangunan dan desain yang tepat, suhu di dalam iglo dapat 40-60 derajat lebih hangat dibandingkan di lingkungan luar.

Hal ini juga tergantung ketebalan dinding bata salju, cuaca, dan jumlah orang di dalamnya yang menghasilkan panas ke ruangan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya