Liputan6.com, New York - Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa tiba di New York pada Minggu (21/9/2025) sore. Dia memimpin rombongan besar pejabat tinggi Suriah untuk menghadiri Majelis Umum PBB (UNGA) ke-80.
Kunjungan ini langsung dicatat sebagai peristiwa bersejarah: Sharaa menjadi kepala negara Suriah pertama dalam hampir 60 tahun yang kembali hadir di forum internasional itu.
Advertisement
Terakhir kali seorang presiden Suriah berbicara di Majelis Umum PBB adalah Nureddin al-Atassi, jauh sebelum keluarga al-Assad mengambil alih kekuasaan pada 1971. Sejarah itu terputus hingga Desember lalu, ketika Sharaa menggulingkan Bashar al-Assad melalui serangan kilat yang mengakhiri puluhan tahun kekuasaan dinasti Assad. Demikian seperti dilansir Al Jazeera.
Kedatangan Sharaa ke New York disebut media pemerintah Suriah sebagai perjalanan bersejarah. Bukan hanya karena momen simbolisnya, namun juga karena menjadi babak baru dalam upaya normalisasi pemerintahannya yang dulunya berasal dari kelompok pemberontak di utara Suriah.
Sisi Lain Kunjungan Sharaa ke Amerika Serikat
Arah baru hubungan Suriah–Amerika Serikat mulai terlihat sejak Mei lalu. Saat menghadiri konferensi Dewan Kerja Sama Teluk bersama Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman, Sharaa bertemu Presiden Donald Trump. Itu adalah pertemuan pertama antara presiden Suriah dan presiden Amerika Serikat dalam seperempat abad. Dari pertemuan itu, Trump mengumumkan pencabutan seluruh sanksi terhadap Suriah dan menyatakan pihaknya tengah mempertimbangkan normalisasi hubungan dengan Damaskus.
Langkah Trump disambut Sharaa dengan pujian. Dalam wawancara dengan program "Face the Nation" di CBS, dia menyebut keputusan itu sebagai langkah cepat, berani, dan bersejarah yang membuka jalan bagi Suriah untuk kembali stabil dan bersatu. Dia menambahkan, kepentingan itu bukan hanya milik Suriah, melainkan seluruh dunia.
Ketika Trump menandatangani perintah eksekutif pada akhir Juni untuk mengakhiri sebagian besar sanksi tersisa, Damaskus menyebutnya sebagai pintu bagi dana rekonstruksi dan pembangunan yang telah lama ditunggu. Sharaa bahkan berharap bisa bertemu lagi dengan Trump selama berada di AS untuk membicarakan banyak isu dan kepentingan bersama serta memulihkan hubungan kedua negara secara baik dan langsung.
Kunjungan ke Amerika Serikat juga diwarnai momen simbolis lain. Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani mengibarkan bendera baru Suriah di atas gedung kedutaan di Washington. Sementara itu, Sharaa menyempatkan diri bertemu komunitas Suriah di sana, memperlihatkan bahwa perjalanannya kali ini bukan hanya urusan diplomasi, namun juga menyentuh sisi emosional warga negaranya di luar negeri.