Investor Asing Beli Saham Rp 3,03 Triliun Selama Sepekan

Setelah melakukan aksi jual saham signifikan pekan lalu, investor asing membeli saham pada 15-19 September 2025. Berikut ulasannya.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 21 September 2025, 09:33 WIB
Karyawan melintasi layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat kenaikan signifikan pada 15-19 September 2025. Kenaikan IHSG itu juga didorong aksi beli saham oleh investor asing.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Minggu (21/9/2025), IHSG sepekan bertambah 2,51% ke posisi 8.051,11 selama sepekan dari pekan lalu di posisi 7.854,06. Pada pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 8.068 dan level terendah 7.889,18.

Selama sepekan ini, sektor saham industri dan teknologi memimpin kenaikan masing-masing 11,01% dan 10,18%. Sementara itu, sektor saham yang bebani IHSG yakni sektor saham keuangan yang turun 0,19%.

Di tengah kenaikan IHSG, investor asing melakukan aksi beli saham Rp 3,03 triliun selama sepekan. Aksi ini berbeda dari pekan lalu dengan aksi jual saham mencapai Rp 6,59 triliun.

Berikut rincian aksi investor asing pada pekan ini dikutip dari data BEI:

  • 15 September 2025: investor asing beli saham Rp 1,04 triliun
  • 16 September 2025: investor asing lepas saham Rp 373,22 miliar
  • 17 September 2025: investor asing lepas saham Rp 151,85 miliar
  • 18 September 2025: investor asing lepas saham Rp 358,27 miliar
  • 19 September 2025: investor asing beli saham Rp 2,86 triliun

Sentimen Pekan Ini

Layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat acara Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2022 di Jakarta, Jumat (30/12/2022). PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada 59 perusahaan yang melakukan Initial Public Offering (IPO) atau pencatatan saham sepanjang 2022. Pada penutupan perdagangan akhir tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup lesu 0,14% atau 9,46 poin menjadi 6.850,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Mengutip riset Ashmore Asset Management Indonesia, pekan ini, pelaku pasar melihat sejumlah pemangkasan suku bunga oleh bank sentral. Bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve memangkas suku bunga pertama kali tahun ini setelah berbulan-bulan bersikap hati-hati, dengan indikasi pemotongan lanjutan tahun ini.

Di sisi lain, data penjualan ritel menunjukkan pertumbuhan yang lebih kuat dari perkiraan. Bank of Canada juga memangkas suku bunga setelah tiga kali jeda, karena ekonomi Kanada telah menunjukkan tanda-tanda pelemahan terkait hambatan perdagangan yang diberlakukan oleh AS.

Sementara itu, data inflasi utama dan inti tahunan mereka lebih rendah dari perkiraan tetapi masih menunjukkan peningkatan karena penurunan harga bensin yang lebih kecil.

 

Aksi Bank Sentral

Seorang pria berdiri didepan indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo (29/8). Ketegangan politik yang terjadi karena Korut meluncurkan rudalnya mempengaruhi pasar saham Asia. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

Secara keseluruhan, Kawasan Eropa mengalami perbaikan sentimen ekonomi, yang juga tercermin dalam indeks sentimen ekonomi Jerman terutama dari sektor berorientasi ekspor.

Bank of England mempertahankan suku bunga seperti yang diperkirakan secara luas, dengan tingkat pengangguran tetap tinggi di 4,7% sementara inflasi utama tahunan tidak berubah tetapi tetap tinggi di 3,8%.

Bank of Japan mempertahankan suku bunganya seperti yang diharapkan sambil tetap berhati-hati terhadap prospek politik dan dampak tarif AS. Indonesia kembali mengalami penurunan suku bunga yang mengejutkan dengan inflasi dan nilai tukar yang relatif stabil, dengan tujuan mendukung pertumbuhan domestik.

 

IHSG Pekan Lalu

Pialang tengah mengecek Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Kamis (9/9/2021). IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis sore ditutup menguat 42,2 poin atau 0,7 persen ke posisi 6.068,22 dipicu aksi beli oleh investor asing. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tipis pada perdagangan 8-12 September 2025. Sentimen reshuffle kabinet dan harga emas membayangi IHSG sepekan.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (13/9/2025), IHSG sepekan melemah terbatas 0,17% dan ditutup ke posisi 7.854,06. Pada pekan lalu, IHSG bertambah 0,47% ke posisi 7.867,34. Kapitalisasi pasar merosot 0,57% menjadi Rp 14.130 triliun dari pekan lalu Rp 14.211 triliun.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG merosot 0,17% didorong sejumlah sentimen. Herditya mengatakan, faktor pertama, reshuffle kabinet yang terjadi pada awal pekan ini, investor cenderung bereaksi negatif. Faktor kedua,  rilis data neraca dagang dan inflasi China yang cenderung menguat. Faktor ketiga, rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang meningkat dibandingkan periode sebelumnya.

Faktor keempat, ada harapan akan pemangkasan suku bunga the Federal Reserve (the Fed). Faktor kelima, katalis dari suntikan perbankan Himbara sebesar Rp 200 triliun. “Faktor keenam, penguatan komoditas emas global,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya