Liputan6.com, Jakarta - Sampah nampaknya masih menjadi masalah pada banyak kota. Termasuk salah satunya Kabupaten Bandung, Jawa Barat (Jabar).
Bersama Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi, daerah ini sangat bergantung pada Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat, yang menjadi tujuan akhir sampah regional Jawa Barat.
Advertisement
Ketergantungan ini menjadikan Kabupaten Bandung sangat rentan terhadap gangguan operasional di TPA tersebut. Ketika TPA Sarimukti mengalami masalah, seperti kelebihan kapasitas, insiden kebakaran, atau penutupan sementara, dampaknya langsung dirasakan.
Tantangan yang dihadapi Kabupaten Bandung dalam pengelolaan sampah mencakup lima aspek utama, yaitu aspek teknis, kelembagaan, pendanaan, partisipasi masyarakat, serta regulasi dan kebijakan yang belum berjalan secara sinergis.
Pengelolaan sampah bukan lagi sekadar urusan teknis atau infrastruktur. Melalui program Improvement of Solid Waste Management to Support Regional and Metropolitan Cities Project (ISWMP), pemerintah pusat, bekerja sama dengan Bank Dunia, mendorong reformasi menyeluruh dalam sistem persampahan daerah.
Tujuannya jelas yaitu menciptakan tata kelola sampah yang lebih terintegrasi, partisipatif, dan berkelanjutan. Hal tersebut seperti disampaikan Kepala Bidang Persampahan DLH Kabupaten Bandung Oki Suyatno.
"Salah satu pendekatan utama dari program ini adalah Peningkatan Peran Aktif Masyarakat (PPAM). Alih-alih hanya mengandalkan solusi top-down, PPAM memulai perubahan dari lingkungan terkecil—dengan membangun kesadaran, membentuk sistem lokal, dan melibatkan warga untuk memilah sampah langsung dari rumah," ujar Oki, melalui keterangan tertulis, Jumat (19/9/2025).
Dia menjelaskan, untuk memperkuat sistem ini, Pemerintah Daerah, Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Dalam Negeri melalui Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah (Ditjen Bina Bangda) turut berperan aktif dalam berkolaborasi.
"Dukungan diberikan dalam bentuk penguatan regulasi daerah, penyusunan perencanaan yang adaptif, hingga pembinaan kelembagaan lokal agar program ini bisa bertahan dan berkembang di luar masa pendampingan," ucap Oki.
Aspek Pengelolaan Sampah
Menurut Oki, melalui sinergi ini, kelima aspek pengelolaan sampah ditangani secara terpadu. Pertama, kata dia, teknis yakni penerapan sistem pilah dari rumah, pengelolaan sampah organik menggunakan LCO dan komposter, serta penjualan sampah anorganik ke pengepul lokal.
"Kedua, kelembagaan, yakni pembentukan tim pengelola berbasis RT yang dikelola oleh Karang Taruna Burujul 002. Ketiga, pendanaan yaitu dorongan pada swadaya masyarakat dan pemanfaatan hasil penjualan sampah sebagai sumber dana operasional komunitas," terang Oki.
Keempat, lanjut dia, partisipasi yakni sosialisasi berjenjang, pelatihan teknis, serta pemasangan stiker rumah sebagai penanda partisipasi warga.
"Kelima, regulasi dan sinergi yakni pendampingan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Puskesmas, dan aparatur desa serta penguatan komitmen antar-OPD dan pemerintah daerah," kata Oki.
Menurut dia, pendekatan ISWMP yang menekankan pada sosialisasi, edukasi, dan pendampingan langsung ke masyarakat telah memberikan dampak positif.
"ISWMP (PPAM) hadir untuk mengubah perilaku masyarakat terkait sampah, dengan membawa konsep edukasi dan pendampingan langsung. Ini sangat membantu dalam membentuk pola pikir baru berbasis 3R, Reduce, Reuse, Recycle. Kita ingin menggeser budaya lama kumpul-angkut-buang menjadi pengelolaan yang lebih terencana dan berdampak," papar Oki.
Perubahan Tidak Instan
Oki menegaskan, perubahan ini tidak instan. Oki menjelaskan, dalam pelaksanaan pilot project pilah sampah dari sumber, terdapat tahapan transisi perilaku yang harus dilalui yaitu dari mencoba, melaksanakan, menjaga konsistensi, hingga mampu mengajak masyarakat lain ikut serta.
Menurut dia, lebih dari sekadar perubahan gaya hidup, pendekatan ini juga membawa dampak nyata secara ekonomi dan operasional.
"Harapan kami, setelah sampah berhasil dipilah dari sumbernya, masyarakat akan merasakan manfaat langsung. Di sisi lain, kami sebagai pemerintah daerah juga dapat menekan biaya operasional dalam pengelolaan sampah," terang Oki.
"Langkah-langkah ini merupakan bagian dari transformasi menyeluruh yang diusung ISWMP. Dengan kolaborasi lintas sektor dan dukungan masyarakat, Kabupaten Bandung menapaki jalur menuju pengelolaan sampah yang tidak hanya efisien, tetapi juga lebih manusiawi dan berkelanjutan," pungkas Oki.
Sementara itu, di Desa Mekar Rahayu, Kecamatan Marga Asih, Kabupaten Bandung, perubahan besar tengah dimulai dari lingkungan kecil.
Sejak Desember 2024, Program ISWMP melalui kegiatan Peningkatan Peran Aktif Masyarakat (PPAM) menggulirkan pilot project pengelolaan sampah di RT 02 RW 17—sebuah lingkungan padat dengan 98 Kepala Keluarga (KK).
Dengan fasilitas sederhana, ember bekas cat untuk menampung sampah organik dan karung bekas untuk sampah anorganik, warga perlahan mulai dikenalkan pada konsep pilah sampah dari rumah.
Karang Taruna menjadi ujung tombak penggerak kegiatan ini: menimbang, mencatat hasil pilahan, dan mendistribusikan sampah anorganik ke pengepul. Hasil penjualan sampah pun dialokasikan untuk mendukung kegiatan komunitas lokal.
Hingga Januari 2025, 37 KK telah aktif memilah sampah secara rutin. Angka ini menjadi indikator awal bahwa perubahan perilaku mulai terbentuk.
Warga yang sebelumnya pasif dan sepenuhnya bergantung pada jadwal pengangkutan dari luar, kini mulai mandiri mengelola sampahnya sendiri. Kesadaran akan nilai ekonomi dari sampah anorganik pun mulai tumbuh.