Gempa M 6,2 Guncang Afghanistan, Korban Tewas Bencana Sebelumnya Tembus 2.000 Orang

Ini merupakan gempa besar ketiga yang melanda Afghanistan sejak hari Minggu.

oleh Khairisa FeridaDiperbarui 05 September 2025, 08:29 WIB
Lebih dari 8.000 rumah dilaporkan hancur. (AP Photo/Nava Jamshidi)

Liputan6.com, Kabul - Gempa magnitudo 6,2 mengguncang Afghanistan ketika jumlah korban tewas dari gempa dahsyat pada hari Minggu (31/8/2025) meningkat menjadi lebih dari 2.200 orang.

Menurut Pusat Geosains Helmholtz di Jerman seperti dilansir The Guardian, gempa mengguncang wilayah tenggara pada Kamis (4/9) malam. Belum segera jelas seberapa besar kerusakan yang ditimbulkan.

Gempa susulan berkekuatan 5,5 mengguncang pada Selasa (2/9), menimbulkan kepanikan dan mengganggu upaya penyelamatan ketika lebih banyak jalan terputus akibat longsoran batu.

Juru bicara Taliban Hamdullah Fitrat mengonfirmasi pada Kamis bahwa jumlah korban tewas akibat gempa magnitudo 6,0 pada Minggu telah meningkat menjadi 2.205 jiwa—naik dari perkiraan sebelumnya sebanyak 1.400 orang dan menjadikannya salah satu bencana alam paling mematikan yang menimpa negara itu dalam beberapa dekade terakhir.

Gempa pada Minggu melanda bagian timur pegunungan yang terpencil sekitar tengah malam, meratakan seluruh desa di mana banyak orang terjebak di bawah reruntuhan.

Sebagian besar korban berada di Provinsi Kunar, di mana banyak rumah dibangun dari kayu dan bata lumpur, sehingga sangat rentan terhadap guncangan.

Tim penyelamat berhasil mencapai desa-desa yang benar-benar terisolasi akibat bencana tersebut dan jenazah masih terus ditemukan dari puing-puing pada Kamis.

Menurut penilaian lembaga amal Islamic Relief, sekitar 98 persen bangunan di Kunar rusak atau hancur.

Medan yang kasar dan bergunung-gunung menghambat upaya bantuan. Pihak berwenang Taliban telah mengerahkan helikopter dan menjatuhkan pasukan komando dari udara untuk membantu menemukan dan menyelamatkan para penyintas. Para pekerja bantuan melaporkan berjalan berjam-jam untuk mencapai desa-desa yang terputus akibat longsor dan runtuhan batu.

Seorang warga bernama Muhammad Israel mengatakan bahwa gempa memicu longsor yang menimbun rumah, ternak, dan harta bendanya di Kunar.

"Semua batu berjatuhan dari gunung," tutur dia. "Saya nyaris hanya bisa menyelamatkan anak-anak saya dari sana. Guncangan gempa masih terus terjadi. Tidak mungkin tinggal di sana."

Dia kini mengungsi di kamp medis PBB di Nurgal, salah satu daerah yang paling parah terdampak.

"Keadaan di sini juga buruk, kami tidak punya tempat berlindung dan hidup di bawah langit terbuka," tambahnya.

Tantangan bagi Afghanistan

Juru bicara pemerintah Taliban, Zabihullah Mujahid mengatakan pada Selasa (2/9/2025) bahwa jumlah korban tewas akibat gempa di Afghanistan timur telah melonjak menjadi lebih dari 1.400 jiwa. (AP Photo/Nava Jamshidi)

Upaya penyelamatan dan bantuan terhambat oleh minimnya pendanaan internasional dan sumber daya yang masuk ke negara tersebut. Sejak Taliban kembali berkuasa pada 2021 dan mulai memberlakukan aturan agama yang ketat, yang membuat LSM dan kelompok bantuan sulit beroperasi, dukungan mengalami penurunan drastis.

Lembaga-lembaga bantuan mengatakan mereka sangat membutuhkan tenaga dan pasokan untuk merawat yang terluka serta menampung puluhan ribu orang yang kehilangan tempat tinggal dan tidak memiliki akses pada makanan atau air. Sekitar 84.000 orang telah terdampak sejauh ini.

Dewan Pengungsi Norwegia menyebutkan pihaknya memiliki kurang dari 450 staf di Afghanistan, padahal pada 2023 ketika gempa besar terakhir melanda, mereka memiliki 1.100 staf. Dewan itu hanya memiliki satu gudang dan tidak ada persediaan darurat.

"Kami harus membeli barang-barang begitu kami mendapatkan pendanaan, tetapi ini bisa memakan waktu berminggu-minggu sementara orang-orang membutuhkan bantuan sekarang," kata penasihat komunikasi dan advokasi dewan tersebut di Afghanistan.

"Kami hanya memiliki dana sebesar USD 100.000 untuk mendukung upaya tanggap darurat. Artinya, masih ada kekurangan pendanaan segera sebesar USD 1,9 juta."

Seorang dokter bernama Shamshair Khan yang merawat korban luka di kamp PBB di Nurgal mengatakan pasokan sudah mulai menipis.

"Obat-obatan ini tidak cukup, begitu juga layanan yang ada," ungkap Shamshair. "Orang-orang ini membutuhkan lebih banyak obat-obatan dan tenda. Mereka membutuhkan makanan dan air minum bersih. Mereka membutuhkan lebih banyak bantuan. Orang-orang ini sangat menderita."

Gempa ini terjadi ketika Afghanistan sudah lebih dulu dilanda kekeringan dan krisis ekonomi yang parah. Situasi semakin buruk setelah pendanaan USAID ditarik menyusul pemangkasan oleh pemerintahan Trump awal tahun ini, yang menyebabkan banyak rumah sakit dan klinik medis terpaksa ditutup.

Tekanan terhadap negara ini semakin diperparah oleh pemulangan paksa lebih dari 2 juta warga Afghanistan dari negara tetangga Pakistan dan Iran, banyak di antaranya tidak memiliki tempat tinggal atau pekerjaan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya