BPS: Inflasi Tahunan Naik Jadi 2,37% di Juli 2025

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (year on year) pada Juli 2025 sebesar 2,37%.

oleh Arief Rahman HDiperbarui 01 Agustus 2025, 11:12 WIB
Pedagang melayani pembeli di pasar, Jakarta, Jumat (6/10). Dari data BPS inflasi pada September 2017 sebesar 0,13 persen. Angka tersebut mengalami kenaikan signifikan karena sebelumnya di Agustus 2017 deflasi 0,07 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (year on year) pada Juli 2025 sebesar 2,37%. Angka ini mengalami kenaikan dari inflasi tahunan Juni 2025.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini menyampaikan inflasi tahunan ini dicatat karena adanya kenaikan indeks harga konsumen menjadi 108,60 pada Juli 2025.

"Secara year-on-year, pada Juli 2025 terjadi inflasi sebesar 2,37% atau terjadi kenaikan indeks harga konsumen dari 106,09 pada Juli 2024 menjadi 108,60 pada Juli 2025," kata Pudji dalam konferensi pers Berita Resmi Statistik, di Jakarta, Jumat (1/8/2025).

Mengutip data historis, inflasi tahunan Juli 2025 ini lebih tinggi ketimbang inflasi tahunan Juni 2025 sebesar 1,87%. Angka ini pun lebih tinggi dari inflasi tahunan pada Juli 2024 lalu dengan 2,13%

Berdasarkan kelompok pengeluarannya, kata Pudji, inflasi tahunan ini utamanya didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 3,75% dan memberikan andil inflasi Indonesia sebesar 1,08%.

"Komoditas dengan andil inflasi terbesar pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau ini adalah bawang merah, tomat, dan beras," ucap dia.

Komoditas yang memberikan andil inflasi cukup dominan adalah emas perhiasan, tarif air minum, pam, nasi dengan lauk, dan bahan bakar rumah tangga.

 

Deflasi

Pedagang tengah menata dagangannya di salah satu pasar di Jakarta, Selasa (3/5). Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan harga bahan kebutuhan pokok relatif terkendali seperti beras dan daging ayam. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sementara itu, untuk kelompok pengeluaran yang masih mengalami deflasi secara tahunan pada Juli 2025 ini adalah kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan.

"Dengan andil deflasi - 0,02% dan deflasi tersebut didorong oleh deflasi telepon seluler," tutur dia.

Adapun, inflasi tertinggi terjadi di Papua Selatan yaitu sebesar 5,45%, dan inflasi terendah terjadi di Papua Barat yaitu sebesar 0,43%.

 

Inflasi Bulanan Juli 2025

Di sisi lain, pemerintah diminta untuk tetap memastikan ketersediaan dan kestabilan harga bahan pokok (sembako), terutama jelang perayaan hari besar keagamaan. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka inflasi bulanan pada Juli 2025 sebesar 0,30 persen.salah satu penyumbang terbesarnya adalah harga beras.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini menyampaikan angka inflasi 0,30 persen secara bulanan ini imbas adanya kenaikan indeks harga konsumen menjadi 108,60.

"Pada Juli 2025 terjadi inflasi sebesar 0,30 persen secara bulanan atau terjadi kenaikan indeks harga konsumen dari 108,27 pada Juni 2025 menjadi 108,60 pada Juli 2025," kata Pudji dalam konferensi pers Berita Resmi Statistik, Jakarta, Jumat (1/8/2025).

 

Didorong Harga Beras

Pembeli memilih sayuran saat berbelanja di sebuah pasar di Jakarta, Rabu (1/4/2020). Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pada Maret 2020 terjadi inflasi sebesar 0,10 persen, salah satunya karena adanya kenaikan harga sejumlah makanan, minuman, dan tembakau. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Adapun, secara tahunan, angka inflasi sebesar 2,27 persen dan secara tahun kalender terjadi inflasi 1,69 persen.

Pudji menuturkan, penyumbang inflasi terbesar adalah kelompok manakan, minuman dan tembakau dengan inflasi 0,74 persen dan andil inflasi 0,22 persen. Komoditas yang mendominasi mengerek inflasi kelompok ini adalah beras dengan andil inflasi 0,06 persen.

Komoditas lainnya dalam kelompok ini yang memberikan andil inflasi adalah tomat dan bawang merah dengan andil inflasi 0,05 persen, cabai rawit 0,04 persen, bensin 0,03 persen, dan telur ayam ras serta biaya sekolah dasar 0,02 persen.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya