Precautionary Saving, Orang Kaya Tahan Belanja dan Pilih Menabung

Penurunan optimisme akan kondisi ekonomi nasional bahkan global yang didorong oleh tingginya suku bunga dan ketidakpastian pasca pemilu menjadi faktor yang mendorong masyarakat kelas atas untuk lebih menahan konsumsi.

oleh Nadjwa Dwi YulianitaDiterbitkan 01 Agustus 2025, 12:00 WIB
Kelompok masyarakat kelas atas (Top 30%), yang menguasai lebih dari 52,6% konsumsi nasional, tetapi pendapatannya dan konsumsinya turun.

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah situasi ekonomi nasional yang fluktuatif, distribusi pertumbuhan pendapatan riil masyarakat pada 2024 menunjukkan dinamika yang menarik. Secara mengejutkan, hanya kelompok masyarakat kelas menengah atas yang mengalami perlambatan, bahkan penurunan, dalam rata-rata pertumbuhan pendapatan riil.

Sebaliknya, masyarakat kelas menengah bawah dan bawah justru mencatat pertumbuhan pendapatan yang impresif. Pendapatan riil masyarakat kelas menengah bawah tumbuh 26,18%, sementara kelas bawah naik 14,25%—keduanya mencatatkan pertumbuhan dua digit tertinggi sejak 2019.

Kenaikan ini diyakini erat kaitannya dengan masifnya penyaluran bantuan sosial sepanjang tahun.

Di sisi lain, kelompok kelas menengah atas mencatat penurunan pendapatan riil sebesar -3,29%. Ini menjadi sinyal penting, mengingat kelompok ini merupakan tulang punggung penggerak ekonomi nasional.

Data yang diolah Office of Chief Economist PERBANAS dari SUSENAS dan SAKERNAS 2018–2024, kelompok ini menyumbang sekitar 53% dari total pengeluaran nasional dan 58% dari total pendapatan nasional.

Namun kontribusi tersebut kini menunjukkan tren menurun. Dari sisi pengeluaran, sumbangan kelas menengah atas turun dari 53,6% menjadi 52,67%. Sementara kontribusi terhadap pendapatan nasional turun lebih tajam, dari 62,63% pada 2023 menjadi 58,16% pada 2024.

Lebih dari sekadar angka statistik, penurunan ini mengindikasikan gejala awal pelemahan daya beli pada kelompok masyarakat yang selama ini menjadi motor utama konsumsi domestik.

“30% masyarakat atas atau kalangan menengah atas pendapatan mereka turun, konsumsi mereka turun. Tapi menariknya tabungan mereka justru naik, ini gak masuk akal,” ungkap Chief Economist PERBANAS, Dzulfian Syafrian, dikutip Jumat (1/8/2025).

 

Kalangan Atas Tahan Konsumsi

Pasalnya apabila dolar AS naik terlampau tinggi juga tidak baik terhadap konsumsi mengingat Indonesia masih mengimpor banyak barang. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Temuan ini menunjukkan adanya perubahan perilaku konsumsi di kalangan kelas menengah atas. Mereka mulai menahan belanja dan justru meningkatkan tabungan, terutama setelah periode ketidakpastian pasca pemilu dan dinamika politik.

Meski kelompok 30% teratas menguasai lebih dari 52,6% konsumsi nasional, konsumsi mereka menunjukkan penurunan signifikan. Pengeluaran untuk barang dan jasa premium seperti barang tahan lama, properti, layanan profesional, hingga belanja di ritel modern ikut terdampak.

Dzulfian menyebut fenomena ini sebagai bentuk precautionary saving atau menabung secara hati-hati sebagai respons terhadap ketidakpastian ekonomi.

"Ini yang disebut dalam ekonomi adalah precautionary saving,” jelasnya.

 

Harus Diantisipasi

Perilaku ini didorong oleh turunnya tingkat kepercayaan terhadap prospek ekonomi, baik nasional maupun global. Tingginya suku bunga dan ketidakpastian pasca pemilu turut menurunkan optimisme masyarakat kelas atas, sehingga mereka cenderung mengurangi belanja dan memperbesar cadangan keuangan.

Secara keseluruhan, perlambatan konsumsi pada kelas menengah atas patut menjadi perhatian khusus. Bukan hanya karena besarnya kontribusi mereka terhadap perekonomian nasional, tetapi juga karena perubahan pola konsumsi di kelompok ini dapat menjadi indikator awal arah ekonomi Indonesia ke depan, khususnya menjelang 2025.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya