MARK Kantongi Laba Bersih Rp 131,3 Miliar di Januari-Juni 2025

Sepanjang Januari–Juni 2025, MARK membukukan pendapatan sebesar Rp 380,8 miliar, turun 16,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 455,4 miliar.

oleh Septian DenyDiterbitkan 29 Juli 2025, 11:52 WIB
Mengutip data RTI, 191 saham melaju di zona hijau dan 417 lainnya berada di zona merah. Sementara ada 188 saham mengalami stagnan. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (MARK) mencatatkan kinerja keuangan semester I 2025 yang terkoreksi secara nominal akibat dinamika perdagangan global, namun tetap menunjukkan fundamental yang kuat dan efisiensi operasional yang solid.

Sepanjang Januari-Juni 2025, MARK membukukan pendapatan sebesar Rp 380,8 miliar, turun 16,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 455,4 miliar. Laba bersih juga mengalami koreksi sebesar 10,8% menjadi Rp 131,3 miliar dari Rp 147,2 miliar pada semester I 2024.

"Penurunan penjualan pada semester I 2025 terutama disebabkan oleh perlambatan permintaan atas produk cetakan sarung tangan, seiring dengan sikap wait and see dari para pelaku industri global yang masih menunggu kejelasan terkait kebijakan tarif impor baru dari Pemerintah Amerika Serikat," dikutip dari keterangan tertulis MARK, Selasa (29/7/2025).

Meskipun MARK tidak mengekspor langsung ke pasar AS, ketidakpastian ini berdampak pada beberapa pelanggan utama di negara mitra dagang seperti Malaysia, China dan Thailand, sehingga turut memengaruhi volume pesanan dan memicu konsolidasi sementara di industri sarung tangan global.

Kendati mengalami tekanan dari sisi pendapatan, MARK berhasil menjaga margin keuntungan. Gross Margin 51,2%, hanya sedikit menurun dari 52,5% YoY menunjukkan daya saing produk dan kontrol terhadap biaya produksi yang efektif.

Dari sisi penjualan mengalami penurunan namun Operating Margin justru naik menjadi 42,4% dari 41,3%, dan Net Margin juga tumbuh menjadi 34,5%, naik dari 32,3% di semester I 2024 menandakan bahwa kinerja inti perusahaan tetap kuat dan profitable.

 

Penurunan Signifikan Beban Operasional

Karyawan melintasi layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat acara Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2022 di Jakarta, Jumat (30/12/2022). PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada 59 perusahaan yang melakukan Initial Public Offering (IPO) atau pencatatan saham sepanjang 2022. Pada penutupan perdagangan akhir tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup lesu 0,14% atau 9,46 poin menjadi 6.850,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selain itu, Perseroan mencatat penurunan signifikan dalam beban operasional, dengan Beban penjualan turun 36,5% menjadi Rp 5,4 miliar. Sedangkan Beban umum dan administrasi turun 34,5% menjadi Rp 28 miliar. Penurunan ini menunjukkan disiplin biaya dan manajemen yang adaptif terhadap situasi pasar global yang masih belum menentu.

Kinerja yang ditunjukkan pada semester I memperlihatkan bahwa fundamental Perseroan tetap kokoh. Dengan laba operasional sebesar Rp 161,5 miliar dan laba sebelum pajak sebesar Rp 167,8 miliar.

Melihat kondisi keuangan yang solid, Perseroan juga terbuka untuk kembali membagikan dividen interim kepada pemegang saham, sebagaimana telah dilakukan pada tahun sebelumnya, sejalan dengan komitmen untuk memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham.

 

Prospek Industri

Pekerja mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di salah satu perusahaan Sekuritas, Jakarta, Rabu (14/11). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bertahan di zona hijau pada penutupan perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Manajemen tetap optimis terhadap prospek industri cetakan sarung tangan.

“Meski terdampak tidak langsung dari perang tarif AS, yang mengakibatkan permintaan cetakan sarung tangan menurun di beberapa negara perusahaan tetap mencatat pertumbuhan margin laba bersih, ini mencerminkan ketahanan model bisnis dan strategi diversifikasi negara export yang kami terapkan” ujar Ridwan Goh Direktur Utama MARK.

Sebagai strategi pertumbuhan ke depan, MARK secara aktif memperluas jangkauan ke negara- negara dengan potensi permintaan besar seperti Tiongkok dan India, yang saat ini tengah mengembangkan industri sarung tangan untuk memenuhi kebutuhan domestik dan ekspor.

Langkah ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan bisnis dan membuka pasar baru yang lebih stabil dari sisi regulasi perdagangan internasional.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya