Trump Incar Mineral Indonesia, Kementerian ESDM: Akses Sudah Terbuka Sejak Lama

Kementerian ESDM menanggapi permintaan Presiden AS Donald Trump terkait akses penuh atas komoditas mineral Indonesia. Pemerintah menyebut akses ekspor mineral selama ini sudah terbuka untuk siapa pun yang ingin membeli.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 16 Juli 2025, 21:20 WIB
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan, butuh waktu 6 bulan bagi Freeport Indonesia mengutus izin ekspor dihitung dari terbitnya rekomendasi. (Arief/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Indonesia menanggapi pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang ingin mendapatkan akses penuh terhadap komoditas unggulan Indonesia, termasuk sumber daya mineral seperti tembaga.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Tri Winarno, menegaskan bahwa selama ini Indonesia memang tidak menutup diri dalam perdagangan mineral.

“Kalau free access, selama ini kan kita memang open saja, kan, untuk mineral. Siapa yang mau beli dari kita, silakan saja. Jadi ya, tidak terlalu (berdampak), sih,” kata Tri dikutip dari Antara, Rabu (16/7/2025).

Pernyataan ini muncul setelah Presiden Trump mengumumkan kebijakan tarif impor sebesar 19% untuk sejumlah produk asal Indonesia. Dalam kesempatan yang sama, Trump juga menyampaikan kesepakatan dengan Indonesia, termasuk komitmen pembelian energi dari Amerika Serikat senilai USD 15 miliar atau sekitar Rp 243 triliun.

Menanggapi kemungkinan peralihan impor bahan bakar minyak (BBM) dari Singapura ke Amerika Serikat, Tri mengatakan bahwa keputusan itu akan mempertimbangkan dua aspek utama: keekonomian dan geopolitik.

“Prinsipnya kan keekonomian dan geopolitik, itu saja. Ya sepanjang itu menguntungkan kita, kenapa tidak?” ujarnya.

 

Pertamina Sudah Tandatangani MoU dengan Mitra AS

VP Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso saat press conference yang berlangsung di Grha Pertamina, Jakarta Pusat, Kamis 27 Maret 2025. (Foto: Istimewa)

Secara terpisah, Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Fadjar Djoko Santoso, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan sejumlah mitra di Amerika Serikat. MoU tersebut terkait dengan pengadaan minyak mentah (feedstock) untuk kebutuhan kilang-kilang Pertamina di dalam negeri.

Namun, Fadjar belum membeberkan rincian volume maupun nilai kontrak karena masih dalam tahap negosiasi.

Selain minyak mentah, Fadjar juga menyebutkan bahwa ada pembahasan mengenai potensi optimalisasi impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) dari AS. Implementasi pengadaan energi dari Amerika tersebut akan dilakukan secara bertahap, mengikuti perkembangan hasil pembicaraan.

“Kami masih belum bisa menyampaikan nama-nama mitranya karena prosesnya masih berjalan,” ujarnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya