Liputan6.com, Jakarta - Ketegangan geopolitik dan ancaman tarif dagang dari Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dinilai bisa memicu efek domino pada kebijakan moneter global.
Chief Investment Officer Bank DBS, Hou Wey Fook, menyebut kondisi saat ini mirip bahkan lebih buruk dibanding tahun 2019, ketika The Fed memangkas suku bunga karena kekhawatiran atas perlambatan ekonomi.
Advertisement
"Kondisi saat ini sebenarnya tidak jauh berbeda—bahkan lebih buruk, karena tarif Trump yang kacau tidak hanya ditujukan kepada China, tetapi juga negara lain di dunia. Dan hal ini akan mendorong The Fed untuk kembali memangkas suku bunga," kata Hou dalam media briefing DBS Chief Investment Officer (CIO) Insights 2H25, ditulis Selasa (8/7/2025).
Pada 2019, kebijakan tarif Trump terhadap China membuat pasar bergejolak, dan The Fed akhirnya menurunkan suku bunga sebagai bentuk antisipasi.
Saat itu, langkah tersebut terbukti mendorong reli di pasar obligasi dan membantu stabilitas pasar modal. Namun kali ini, ancaman tarif dagang tidak hanya tertuju pada China, melainkan menjalar ke negara-negara lain. Hal ini membuat tekanan terhadap pertumbuhan global menjadi lebih besar dan kompleks.
Disisi lain , pasar keuangan global kini mulai memantau dengan cermat arah kebijakan Federal Reserve. Ketika tekanan dari luar negeri meningkat, bank sentral Amerika Serikat biasanya memilih pendekatan yang lebih hati-hati, terutama jika inflasi mulai stabil.
Pasar Menanti Sinyal dari The Fed
Menurutnya, pasar obligasi sudah mulai mengantisipasi kemungkinan pemangkasan suku bunga. Imbal hasil obligasi pemerintah AS mulai bergerak turun, mencerminkan ekspektasi pelonggaran moneter dalam beberapa bulan ke depan.
Jika The Fed memangkas suku bunga, maka efeknya akan terasa luas. Tidak hanya pasar obligasi yang akan diuntungkan, tetapi juga pasar saham dan nilai tukar mata uang global.
“Pasar saat ini berada di persimpangan. Sinyal apa pun dari The Fed akan sangat mempengaruhi arah pergerakan aset keuangan di seluruh dunia,” ujar Wey Fook.
Implikasinya bagi Investor Indonesia
Bagi investor di Indonesia, potensi pemangkasan suku bunga The Fed bisa menjadi sinyal untuk mengatur ulang strategi investasi. Aset-aset berbasis dolar AS bisa mengalami perubahan nilai, sementara minat terhadap pasar obligasi dan saham domestik bisa meningkat.
Ketika suku bunga global turun, arus dana cenderung mengalir ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Hal ini berpotensi memperkuat nilai rupiah dan mendorong naiknya indeks saham dalam negeri.
Namun, risiko tetap ada. Jika ketegangan dagang makin parah atau inflasi AS kembali naik, The Fed bisa saja menunda pelonggaran, dan itu bisa memicu volatilitas.
“Investor Indonesia perlu tetap waspada. Diversifikasi aset dan fokus pada kualitas fundamental tetap jadi kunci, sambil mengamati perkembangan kebijakan global,” pungkasnya.