Liputan6.com, Kabul - Pemerintah Taliban di Afghanistan menuduh Pakistan bertanggung jawab atas puluhan korban tewas dan luka-luka akibat serangkaian serangan udara di wilayah perbatasan kedua negara.
Kabul menyebut serangan tersebut sebagai tindakan "kejahatan" dan "barbarisme", sementara Islamabad menegaskan operasi itu menyasar kelompok militan.
Advertisement
Wakil Juru Bicara Pemerintah Taliban Hamdullah Fitrat mengatakan militer Pakistan melancarkan serangan udara ke sejumlah distrik di Provinsi Paktika, Paktia, dan Kunar yang mengakibatkan banyak korban dari kalangan warga sipil, dikutip dari Democrata, Senin (29/6/2026).
"Puluhan warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, tewas atau terluka akibat serangan tersebut," kata Fitrat melalui media sosial.
Ia kembali mengecam aksi militer Pakistan sebagai "tindakan agresi pengecut" dan menyebut serangan itu sebagai bentuk "kejahatan" serta "barbarisme". Dalam unggahannya, Fitrat juga membagikan foto-foto korban luka, termasuk anak-anak.
Di sisi lain, pemerintah Pakistan membantah menargetkan warga sipil. Menteri Informasi Pakistan Attaullah Tarar mengatakan operasi militer yang dilakukan pada malam sebelumnya merupakan serangan presisi berdasarkan informasi intelijen terhadap kamp dan tempat persembunyian kelompok militan.
Menurut Tarar, sasaran operasi adalah kelompok Jamaat-ul-Ahrar—faksi yang memisahkan diri dari Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP) pada 2014—serta Fitna al Khawarij, istilah yang digunakan Islamabad untuk menyebut TTP.
Klaim Pakistan
Pakistan mengklaim sebanyak 25 anggota kelompok bersenjata tersebut tewas dalam operasi itu.
"Pakistan selalu berupaya menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan. Namun, kami tidak akan berkompromi terhadap keamanan warga negara kami, yang tetap menjadi prioritas utama," ujar Tarar.
Ketegangan di sepanjang perbatasan Afghanistan-Pakistan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Islamabad berulang kali menuding TTP menggunakan wilayah Afghanistan sebagai basis operasi untuk melancarkan serangan ke Pakistan. Tuduhan itu dibantah oleh pemerintah Taliban di Kabul.
Situasi semakin memanas sejak akhir Februari lalu, ketika Pakistan melancarkan serangkaian serangan terhadap target yang diklaim sebagai markas TTP dan kelompok ISIS di Afghanistan. Sebagai respons, otoritas Taliban mengerahkan operasi militer di wilayah perbatasan.
Meski kedua pihak secara resmi masih terikat dalam gencatan senjata, bentrokan sporadis terus terjadi di sepanjang perbatasan, memperburuk hubungan antara Kabul dan Islamabad.