Pasar Nikel Lesu, Ini Target Harita Nickel pada 2025

Direktur Keuangan di Harita Nickel, Suparsin menjelaskan penopang kinerja pendapatan dan laba pada 2025.

oleh Pipit Ika RamadhaniDiterbitkan 18 Juni 2025, 18:00 WIB
Pabrik Harita Nickel (Foto: PT Trimegah Bangun Persada Tbk/NCKL)

Liputan6.com, Jakarta - PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel menargetkan kenaikan pendapatan dan laba bersih pada 2025 meski menghadapi tantangan dari tren penurunan harga nikel global.

Manajemen mengandalkan pertumbuhan dari sisi operasional yang diperkirakan akan menopang kinerja keuangan perseroan secara keseluruhan.

Direktur Keuangan di Harita Nickel, Suparsin mengatakan, peningkatan kinerja operasional akan menjadi penopang utama. Salah satu pendorongnya adalah meningkatnya aktivitas produksi dari lini pertambangan bijih nikel, terutama karena salah satu anak usaha, PT Gane Permai Sentosa (GTS), mulai berproduksi secara komersial pada tahun ini.

"Secara umum untuk pendapatan dan laba, manajemen berharap akan mengalami peningkatan, terutama disebabkan karena dari kinerja operasional," ujar Suparsin dalam paparan publik perseroan, Rabu (18/6/2025).

Produksi Nikel Meningkat, Tambahan Pasokan dari PT GTS

Dari sisi produksi, NCKL menargetkan peningkatan output bijih nikel pada tahun ini. Kenaikan tersebut berasal dari mulai beroperasinya PT Gane Permai Sentosa (GTS) sebagai kontributor baru dalam ekosistem pertambangan grup Harita Nickel. Produksi nikel yang meningkat ini akan didistribusikan ke berbagai lini pengolahan dalam grup.

Seluruh produksi bijih nikel akan disalurkan ke fasilitas smelter milik entitas anak, yakni PT Megah Surya Pertiwi (MSP) dan PT Halmahera Jaya Feronikel (HJF). Kedua perusahaan ini mengoperasikan smelter nikel berteknologi Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF), yang saat ini telah mencapai kapasitas produksi maksimal.

"Di tahun ini dari sektor pertambangan biji nikel kami akan meningkatkan produksi karena ada satu anak perusahaan yaitu PT GTS yang sudah mulai berproduksi," kata Suparsin.

 

Kontribusi Entitas Asosiasi Diharapkan Meningkat

PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel, perusahaan pertambangan dan pemrosesan nikel terintegrasi berkelanjutan, mengumumkan hasil kinerja keuangan untuk sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2024.

Selain dari anak usaha langsung, NCKL juga mengandalkan kontribusi laba dari entitas asosiasi seperti PT Halmahera Persada Lygend (HPL), PT Obi Nickel Cobalt (ONC), dan PT Kalpika Sumber Energy (KPS).

Walaupun kinerja entitas ini cukup dipengaruhi oleh volatilitas harga nikel global, beberapa di antaranya diperkirakan akan memberi kontribusi lebih besar pada tahun ini. PT Obi Nickel Cobalt (ONC) diproyeksikan akan beroperasi dengan kapasitas penuh pada 2025, sementara PT Kalpika Sumber Energy (KPS) juga mulai aktif berproduksi tahun ini.

Kedua perkembangan ini diharapkan memberi efek positif pada konsolidasi kinerja keuangan grup, meskipun tantangan harga masih membayangi.

"Di tahun ini kontribusi dari PT KPS dan ONC tentu ada pertambahan karena di tahun 2025 PT ONC sudah mencapai kapasitas penuh. PT KPS juga sudah mulai berproduksi," ujar Suparsin.

Harita Nickel melanjutkan upaya efisiensi operasi dengan merampungkan pembangunan smelter feronikel (FeNi) PT Karunia Permai Sentosa (KPS) pada Januari 2025.

Lini Bisnis Pertambangan

PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel (Foto: Trimegah Bangun Persada)

Fase pertama smelter dengan teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) ini mencapai kapasitas penuh pada Maret 2025 dan berkontribusi pada penjualan dari lini RKEF Harita Nickel yang secara total mencapai 43.873 ton kandungan nikel dalam FeNi pada kuartal pertama 2025.

Dari lini bisnis pertambangan, Harita Nickel melakukan penjualan bijih nikel total sebesar 5,49 juta wmt (wet metric ton) kepada perusahaan afiliasi pada kuartal pertama 2025. Sementara dari lini High Pressure Acid Leaching (HPAL) pada periode yang sama tercatat sebesar 30.263 ton kandungan nikel, yang terdiri dari Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) sebesar 19.837 ton dan Nikel Sulfat (NiSo4) sebanyak 10.426 ton.

Pada periode fiskal yang berakhir pada 31 Maret 2025, perusahaan yang beroperasi di Halmahera Selatan, Maluku Utara ini mencatatkan pendapatan sebesar Rp 7,13 triliun, laba kotor Rp 2,10 triliun dan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 1,66 triliun.

Infografis Efek Donald Trump Menang Pilpres AS ke Perekonomian Global. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya