Kurs Dolar AS Hari Ini 17 Juni 2025: Rupiah Dibuka Melemah

Pengamat menilai nilai tukar rupiah pada Selasa pagi (17/6) masih mengalami konsolidasi di kisaran 16.200 hingga 16.300 per dolar Amerika Serikat (AS).

oleh Ilyas Istianur PradityaDiterbitkan 17 Juni 2025, 10:50 WIB
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat, Jakarta, Kamis (23/10/2014) (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta Rupiah pada pembukaan perdagangan Selasa pagi tercatat melemah sebesar 34 poin atau 0,21 persen ke level 16.299 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya di 16.265 per dolar AS.

Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, menyampaikan bahwa nilai tukar rupiah pada Selasa pagi (17/6) masih mengalami konsolidasi di kisaran 16.200 hingga 16.300 per dolar Amerika Serikat (AS).

Menurutnya, pelaku pasar global saat ini masih mencermati situasi geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik antara Iran dan Israel, yang menjadi faktor utama ketidakpastian pergerakan mata uang.

"Rupiah belum bergerak signifikan, masih berkonsolidasi. Pasar menunggu arah perkembangan konflik Iran-Israel. Tidak adanya eskalasi lanjutan sementara membuat pelaku pasar cenderung tenang dan kembali melihat aset berisiko," ujar Ariston dikutip dari ANTARA, Selasa (17/6/2025).

Konflik Iran-Israel Menekan Sentimen Pasar

Situasi di Timur Tengah kembali memanas setelah Pasukan Pertahanan Israel (IDF) pada Jumat (13/6) meluncurkan operasi militer besar-besaran bertajuk Operation Rising Lion.

Serangan ini menargetkan fasilitas militer dan program nuklir Iran, termasuk ibu kota Teheran. Sejumlah tokoh penting Iran dilaporkan tewas, termasuk Jenderal Mohammad Bagheri dan beberapa komandan Garda Revolusi serta ilmuwan nuklir.

Iran membalas dengan operasi Operation True Promise 3, menyasar berbagai fasilitas militer dan infrastruktur strategis milik Israel.

Kondisi ini menciptakan kekhawatiran pasar atas potensi eskalasi lebih lanjut yang dapat mengguncang stabilitas regional dan global.

 

Potensi Penguatan Dolar AS dan Risiko Terhadap Rupiah

Selain rupiah, pada penutupan perdagangan, Senin (13/1/2025), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ariston menjelaskan bahwa ketidakpastian global akibat konflik tersebut masih berpeluang mendorong penguatan dolar AS terhadap berbagai mata uang, termasuk rupiah.

Ditambah lagi, potensi kebuntuan dalam negosiasi tarif perdagangan turut menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang.

Ia memperkirakan nilai tukar rupiah masih akan bergerak di kisaran Rp16.200 hingga Rp16.300 per dolar AS dalam waktu dekat.

Namun, jika konflik berkepanjangan dan semakin meluas, rupiah berisiko melemah lebih dalam hingga menyentuh 16.600 per dolar AS.

 

Dampak Potensial terhadap Ekonomi Global

Teller menghitung mata uang Rupiah di Jakarta, Kamis (16/7/2020). Penguatan Rupiah dipengaruhi aliran masuk modal asing yang cukup besar pada Mei dan Juni 2020. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Konflik di Timur Tengah juga berpotensi mengerek harga minyak mentah global, mengingat kawasan tersebut merupakan salah satu produsen utama.

Kenaikan harga minyak dapat mendorong lonjakan harga komoditas lainnya, mengganggu rantai pasok, meningkatkan inflasi, dan mengguncang stabilitas ekonomi global.

"Jika logistik terganggu dan harga energi naik, inflasi global bisa terdorong. Hal ini tentu memengaruhi pemulihan ekonomi dunia dan membuat aset negara berkembang seperti rupiah tertekan," kata Ariston.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya