Prediksi Kurs Dolar AS 3 Juni 2025, Rupiah Bakal Menguat Lagi?

Penguatan Rupiah pada hari Senin (2/6) terjadi bersamaan dengan penguatan Dolar AS (USD). Apa sentimennya?

oleh Natasha AmaniDiterbitkan 02 Juni 2025, 17:00 WIB
Teller tengah menghitung mata uang dolar AS di penukaran uang di Jakarta, Rabu (10/7/2019). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup stagnan di perdagangan pasar spot hari ini di angka Rp 14.125. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Rupiah mengalami penguatan memasuki awal bulan pada Senin, 2 Juni 2025. Rupiah ditutup menguat 73 point sebelumnya sempat menguat 80 point di level Rp16.253 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp16.296.

“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp16.200 - Rp16.250,” ungkap pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya di Jakarta, Senin (2/6/2025).

Penguatan Rupiah pada hari Senin (2/6) terjadi bersamaan dengan penguatan Dolar AS (USD). Penguatan tersebut juga terjadi di tengah kekhawatiran akan eskalasi perang dagang AS-Tiongkok meningkat, setelah Presiden Donald Trump menuduh Tiongkok melanggar kesepakatan dagang baru-baru ini, yang ditegur Beijing.

“Pasar juga terguncang oleh kenaikan tarif impor baja dan aluminium Trump, yang membuat investor tidak yakin atas kebijakan AS,” kata Ibrahim.

Perang Rusia vs Ukraina

Adapun meningkatkan ketegangan militer antara Rusia dan Ukraina menjelang perundingan damai, juga membebani sentimen, sementara laporan menunjukkan bahwa Washington sedang mempertimbangkan tarif dagang yang ditujukan ke Tiongkok dan India untuk mengurangi pembelian minyak Rusia.

Adapun penolakan tegas Tiongkok terhadap tuduhan Trump bahwa negara itu telah melanggar ketentuan kesepakatan dagang pertengahan Mei yang ditandatangani di Jenewa.

“Komentar tersebut, ditambah dengan kritik berulang China terhadap kontrol AS pada industri chipnya, memicu kekhawatiran yang meningkat bahwa hubungan dagang antara keduanya memburuk, dan bahwa tidak ada kesepakatan perdagangan yang langgeng akan tercapai dalam waktu dekat,” Ibrahim menyoroti.

Selain itu, sektor manufaktur China menyusut untuk bulan kedua berturut-turut pada bulan Mei, karena pesanan luar negeri tetap berada di bawah tekanan dari tarif impor AS.

“Lemahnya PMI non-manufaktur juga menunjukkan bisnis domestik berada di bawah tekanan, menyoroti sedikit perbaikan dalam tren disinflasi China yang terus-menerus(“ papar Ibrahim.

 

Ekonom: Stimulus Berpeluang Berikan Momentum pada Ekonomi di Idul Adha

Teller menukarkan mata uang dolar ke rupiah di Jakarta, Jumat (2/2). Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, posisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang berada di level Rp13.700 hingga Rp13.800.(Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, momentum perayaan Hari Raya Idul Adha diperkirakan berpotensi memberikan dorongan konsumsi domestik, terutama di sektor makanan dan minuman, transportasi, dan jasa keagamaan.

Meskipun dampaknya tidak sebesar momen Ramadan-Idulfitri, ekonom Permata Bank, Josua Pardede melihat bahwa konsumsi daging, aktivitas perjalanan domestik (mudik lokal), serta kegiatan sosial-keagamaan seperti kurban dan sedekah tetap menstimulasi ekonomi.

“Apalagi, pemerintah juga menggelontorkan stimulus sejak 5 Juni yang meliputi diskon transportasi, listrik, bansos, hingga subsidi upah. Kombinasi ini bisa menjadi faktor penopang untuk menjaga laju pertumbuhan ekonomi kuartal II agar tetap mendekati target 5%, setelah pada kuartal I hanya tumbuh 4,87% yoy,” ungkap Josua kepada Liputan6.com di Jakarta, dikutip Senin (2/6/2025).

 

Daya Beli Diperkirakan Belum Pulih

IHSG ditutup anjlok 71,987 poin (1,02 persen) ke posisi 7.016,879. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Namun, Josua memperkirakan daya beli belum sepenuhkan akan pulih pada momen Idul Adha.

Ia mengutip Survei Konsumen pada April 2025 dari Bank Indonesia, dan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang mengalami penurunan dari 127,3 di Maret menjadi 124,4 di April, menandakan optimisme konsumen mulai melemah, terutama pada kelompok pendapatan menengah ke bawah.

Adapun Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (Durable Goods) dan Indeks Ekspektasi Penghasilan yany juga menurun, mencerminkan tekanan pada daya beli menjelang pertengahan tahun.

Selain itu, pertumbuhan penjualan eceran secara tahunan hanya 1,01% (yoy) pada Maret, yang mengindikasikan konsumsi belum sepenuhnya pulih .

“Maka, menjelang Idul Adha, kondisi daya beli tampak masih melemah, terutama karena tekanan inflasi pangan yang masih terjadi,” jelasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya