Liputan6.com, Jakarta - Hanoi dan Bangkok, dua destinasi wisata populer di Asia Tenggara, dinobatkan sebagai kota dengan tingkat penipuan turis yang tinggi, menurut sebuah studi baru oleh Mastercard Economics Institute. Di Bangkok, layanan taksi dan penyewaan mobil menyumbang 48 persen dari kasus penipuan yang dilaporkan, menjadikannya sumber penipuan paling umum yang menargetkan wisatawan, kata laporan itu.
Banyak wisatawan asing juga melaporkan telah ditipu penyedia layanan makanan, lapor CNBC, dikutip dari VN Express, Minggu, 25 Mei 2025. Laporan tersebut mencatat bahwa wisatawan ke Cancun, Meksiko; Hanoi, Vietnam; Dhaka, Bangladesh; dan Bangkok, Thailand, melaporkan tingkat penipuan lebih tinggi.
Advertisement
Sementara itu, kota-kota dengan tingkat penipuan turis terendah yang dilaporkan memasukkan San Francisco, Amerika Serikat; Dublin, Irlandia; Seoul, Korea Selatan; Budapest, Hungaria; dan Edinburgh, Skotlandia. Jenis penipuan yang dilaporkan di beberapa kota bervariasi, jadi modusnya tidak selalu sama untuk setiap tujuan wisata.
Sektor Pariwisata Rentan Penipuan
Penipuan taksi dan penyewaan mobil hanya mencakup dua persen kasus penipuan turis di kota-kota, seperti Hong Kong dan Barcelona, tapi mencakup 66 persen kasus di Jakarta, Indonesia, kata laporan tersebut. Menurut Mastercard, sektor perjalanan masih sangat rentan terhadap penipuan.
Insiden tersebut meningkat 18 persen selama puncak musim panas dan 28 persen pada musim dingin tahun 2025. Akhir tahun lalu, seorang turis Australia memperingatkan calon pelancong yang akan berlibur ke Bali tentang modus penipuan yang marak terjadi.
Ia mengunggah pengalamannya tentang "coin scam" di sebuah grup perjalanan lokal untuk warga Negeri Kanguru. Perempuan itu menjelaskan bahwa sebuah keluarga yang bukan penduduk lokal Bali akan berkeliling meminta turis asing melihat uang mereka sambil berupaya mencuri dompet para pelancong.
"Pria itu menghampiri kami dan bertanya apakah kami tahu restoran Italia yang bagus untuk dikunjungi dan saya mencoba memikirkan yang ada di dekat hotel kami," tulis pelancong itu, dikutip dari news.com.au, 25 Desember 2024.
Modus Penipuan di Bali
Turis itu menyambung, "Dia bertanya, 'Apakah kamu bukan orang Indonesia?' (Kami terlihat jauh untuk itu), dan saya berkata, 'Tidak, orang Australia,' kemudian dia menjabat tangan kami dan berkata, 'Apakah kamu punya koin dolar Australia' yang bisa dia lihat."
Mendengar pertanyaan itu, perempuan tersebut segera menolak permintaan si lelaki asing itu. "Kami tidak akan menunjukkan uang kami padamu, kawan. Kami telah mendengar tentang penipuanmu," tulisnya lagi.
Pria asing itu langsung pergi dengan gerombolannya, tanpa sempat direkam pelancong tersebut. Perempuan itu menyebutkan lokasi modus penipuan itu terjadi di sebuah mal di Badung. "Dia sangat ramah dan meyakinkan dan jika Anda tidak tahu tentang tipuan ini, sebagai orang Australia, Anda akan senang menunjukkanya (uang) padanya," kata perempuan itu lagi.
Ia bersyukur mendapat peringatan soal modus penipuan itu dari halaman Facebook Bali Bogans sehingga lebih waspada. Menurut perempuan tersebut, pria penipu itu berasal dari Arab Saudi. Suaminya yang bersamanya juga sempat melihat istrinya yang mengenakan riasan dan pakaian Arab.
Laporan Sebelumnya
Sebelum daftar baru-baru ini dirilis, Thailand sudah mencatat peningkatan penipuan turis pada 2022. Melansir Travel Mole, 22 Desember 2022, Komisaris Biro Polisi Pariwisata Thailand (TPB) saat itu, Letnan Jenderal Pol Sukhun Prommayon, mengatakan bahwa polisi meningkatkan patroli di kawasan wisata.
Ia menyebut, penipu umumnya "memangsa" turis yang tidak menaruh curiga. Kasus penipuan turis termasuk skema umpan dan pengalihan oleh pengemudi taksi dan tuk-tuk. Turis di tempat-tempat wisata populer, yang dibohongi bahwa tujuan wisatanya tutup, akan dibawa ke toko-toko berkualitas rendah.
Mereka kemudian ditipu membeli oleh-oleh dengan harga "terlalu mahal." Pencurian juga meningkat. Pada Bangkok Post, Letnan Jenderal Pol Sukhun mengatakan bahwa sebagian besar pengunjung berasal dari negara tetangga, dengan jumlah terbesar dari Malaysia.
Ia mengatakan, patroli sepeda, sepeda motor, dan mobil digenjot di beberapa provinsi yang jadi tempat wisata utama. Penipu, termasuk beberapa sopir taksi atau tuk-tuk, sering terlihat di dekat pintu masuk tempat wisata atau kuil yang populer.
Catatan: artikel ini telah diperbarui dengan mengganti keterangan "tertinggi" jadi tinggi atau lebih tinggi, serta data insiden penipuan turis yang tercatat pada 2025.