7 Fakta Terkait Puluhan Siswa Diduga Keracunan Usai Santap Makan Bergizi Gratis di Cianjur

Puluhan siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) I Cianjur, Jawa Barat (Jabar) mengeluhkan pusing, mual, dan mengalami muntah-muntah diduga usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG).

oleh Devira PrastiwiDiperbarui 24 April 2025, 12:33 WIB
Siswa korban keracunan makanan saat dibawa ke RSUD Sayang Cianjur diduga usai santap MBG. (Liputan6.com/Fira Syahrin).

Liputan6.com, Jakarta - Belum lama ini, puluhan siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) I Cianjur, Jawa Barat (Jabar) mengeluhkan pusing, mual, dan mengalami muntah-muntah diduga usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kejadian dugaan keracunan itu terjadi pada Senin 21 April 2025. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Cianjur Frida Laila Yahya mengatakan, pihaknya mendapat laporan sekitar 21 siswa yang mengalami keracunan massal usai menyantap MBG yang disajikan dan sudah mendapat perawatan medis.

"Baru 21 orang yang dilaporkan dibawa ke rumah sakit, sehingga kami masih melakukan pendataan karena seluruh siswa menyantap hidangan MBG pada hari ini, informasinya seluruh siswa MAN Cianjur sekitar 800," ujar Frida, Senin 21 April 2025.

Menurut Frida, sebagian besar siswa yang mengeluhkan pusing, mual, dan muntah, menjalani perawatan di rumah, sehingga pihaknya akan melengkapi data total siswa yang mengalami keracunan setelah menyantap MBG yang disajikan.

Pemerintah Kabupaten atau Pemkab Cianjur pun angkat bicara, memastikan ratusan warga yang mengalami keracunan massal mendapat pelayanan kesehatan dan pengawasan maksimal dari tenaga kesehatan setelah diperbolehkan pulang dari rumah sakit atau yang menjalani perawatan di rumah.

Menurut Bupati Kabupaten Cianjur Mohamad Wahyu Ferdian, pihaknya sudah memerintahkan seluruh puskesmas di wilayah kota dan sejumlah kecamatan melakukan pendataan dan pelayanan kesehatan bagi warga yang mengalami gejala atau tidak.

"Kami minta Dinkes Cianjur menurunkan tim termasuk puskesmas guna melakukan pendataan dan pelayanan bagi warga yang mengalami keracunan, dengan cara mendatangi rumah warga untuk melakukan pemeriksaan kesehatan termasuk bagi warga yang tidak bergejala," ujar Wahyu, dikutip dari Antara, Rabu 23 April 2025.

Dia menjelaskan, hal tersebut dilakukan guna memastikan jumlah warga terutama siswa sekolah yang terbesar di sejumlah kecamatan yang mengalami keracunan terdata dan mendapat penanganan medis secara maksimal hingga dinyatakan pulih seperti semula agar dapat beraktivitas kembali.

Badan Gizi Nasional (BGN) juga turun tangan dan mengirimkan sampel makanan ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Provinsi Jawa Barat (Jabar).

Berikut sederet fakta terkait kasus dugaan keracunan di MAN 1 Cianjur dihimpun Tim News Liputan6.com:

 

1. Pluhan Orang Diduga Keracunan

Puluhan siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) I Cianjur mengeluhkan pusing, mual, dan mengalami muntah-muntah diduga usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Senin (21/4/2025). (Liputan6.com/ Dok Ist Ahmad Fikri)

Puluhan siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) I Cianjur mengeluhkan pusing, mual, dan mengalami muntah-muntah diduga usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Senin 21 April 2025.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Cianjur Frida Laila Yahya di Cianjur mengatakan, pihaknya mendapat laporan sekitar 21 siswa yang mengalami keracunan massal usai menyantap MBG yang disajikan dan sudah mendapat perawatan medis.

"Baru 21 orang yang dilaporkan dibawa ke rumah sakit, sehingga kami masih melakukan pendataan karena seluruh siswa menyantap hidangan MBG pada hari ini, informasinya seluruh siswa MAN Cianjur sekitar 800," ujar Frida.

Dia menjelaskan sebagian besar siswa yang mengeluhkan pusing, mual, dan muntah, menjalani perawatan di rumah, sehingga pihaknya akan melengkapi data total siswa yang mengalami keracunan setelah menyantap MBG yang disajikan.

Pihaknya segera mengambil sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium di Bandung, guna mengetahui penyebab pasti keracunan massal yang menimpa puluhan siswa MAN I Cianjur itu, termasuk mendatangi dapur yang memproduksi MBG.

"Kami akan mengambil sampel makanan atau sisa makanan guna memastikan penyebab keracunan yang menimpa puluhan siswa MAN I Cianjur," ucap Frida.

 

2. Tercium Bau Tak Sedap dari Ayam Suwir

mengonsumsi makanan sehat dan hangat seperti sup ayam/copyright freepik.com/chandlervid85

Kepala Sekolah MAN I Cianjur Erma Sopiah mengatakan total siswa yang mendapat perawatan di RSUD Cianjur dan RS Bhayangkara sekitar 21 orang, namun pihaknya masih melakukan pendataan karena sebagian besar siswa menjalani perawatan di rumah dan puskesmas.

Bahkan pihaknya hingga Senin malam, masih melakukan pendataan berapa total siswa yang mengalami keracunan dari 800 orang yang menyantap hidangan MBG pada pukul 12.00 WIB, namun tercatat yang sempat mengeluhkan pusing, mual, dan muntah, sempat menjalani perawatan di sekolah.

"Menjelang petang sekitar sembilan siswa mengeluhkan pusing, mual, dan muntah, menjalani perawatan di Unit Kesehatan Sekolah (UKS) sebelum akhirnya dijemput orang tua, hingga Senin malam sekitar 21 orang mendapat penanganan medis di dua rumah sakit," katanya.

Sementara siswa yang mengalami keracunan M Raihan (16) menjalani perawatan di rumah, mengatakan sempat mencium bau tidak sedap dari daging ayam suwir yang menjadi salah satu menu dalam paket MBG yang dihidangkan.

"Satu kelas 36 orang mendapat jatah MBG pada siang hari, saya sempat mencium bau tidak sedap dari ayam suwir yang menjadi lauk, selang beberapa jam setelah menyantap makanan tersebut, saya merasa pusing, mual dan muntah," jelas Erma.

 

3. Siswa Keracunan Jalani Perawatan di RSUD Sayang Cianjur

Ilustrasi. Foto: ihomeremedy

Humas RSUD Sayang Cianjur, Raya Sandi mengatakan, sejak sore hingga Senin malam sebanyak 35 pasien dari SMP PGRI 1 Cianjur diterima pihak rumah sakit dengan indikasi keracunan makanan.

"Memang betul semalam itu (senin) menerima pasien yang berjumlah 35 siswa yang terindikasi keracunan makanan. Namun sejauh ini masih kita selidiki penyebab keracunan tersebut," ujar Raya Sandi, Selasa 22 Mei 2025.

Dia mengatakan, dari jumlah pasien yang diduga menderita keracunan massal ini sebagian besar merupakan siswa perempuan berjumlah 25 siswa, selebihnya 10 siswa laki-laki. Usai diobservasi puluhan siswa ini diperbolehkan pulang dan melakukan pemeriksaan rawat jalan.

"Pihak rumah sakit Sayang lebih memfokuskan memberikan pelayanan terbaik kepada pasien yang terdampak, semua pasien sudah diobservasi yang 35 itu sudah diperbolehkan pulang dan untuk pembiayaan kami bebaskan," ucap Raya Sandi.

Lebih lanjut, pada Selasa 22 April 2025, pihak rumah sakit kembali menerima pasien pelajar dengan indikasi serupa diduga keracunan makanan sebanyak 14 orang dari PGRI 1 Cianjur dan MAN 1 Cianjur. Dia menuturkan, para pasien mengeluhkan pusing, mual, muntah hingga diare.

"Kami kembali menerima pasien yang diduga mengalami keracunan makanan yang kejadian tersebut bermula dari kemarin Senin 21 April diantaranya dari SMP PGRI 1 terindikasi 14 orang (9 perempuan dan 4 laki-laki) dan dari MAN 1 Cianjur ada 1 orang," terang Raya Sandi.

Hingga Selasa sore, puluhan pelajar ini diperbolehkan pulang dan melakukan pemeriksaan rawat jalan. Selain di RSUD Sayang, sebagian siswa mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Bhayangkara Cianjur.

 

4. Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur Tetapkan KLB

Ilustrasi sakit perut, keracunan makanan. (Sumber: Pixabay)

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, Yusman Faisal menyatakan status kejadian luar biasa (KLB) setelah kasus keracunan massal yang dialami puluhan siswa diduga usai menyantap makanan bergizi gratis (MBG).

"Kalau keracunan udah pasti KLB yang di MAN 1 dan PGRI 1. Untuk KLB yang jelas kita turun untuk melakukan asesmen, penilaian terutama terkait surveilans," kata Yusman, Selasa 22 April 2025.

Dinas Kesehatan juga melakukan pengambilan sampel makanan dan minuman yang dikonsumsi para siswa, kendati ia tak menyebutkan detail jenis makanan atau minuman yang sudah diambil untuk keperluan pengecekan laboratorium.

"Kemudian penanganan pasien memastikan bahwa penanganan pasien ini harus komprehensif sampai sembuh," ucao Yusman.

Sampel tersebut nantinya akan dicek di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jawa Barat. Yusman menjelaskan, pemeriksaan di laboratorium ini umumnya membutuhkan waktu hingga dua minggu hingga hasilnya keluar.

"Itu kan medianya dikembangbiakan jadi semacam dikasih makanan si kuman bakteri atau virus jamurnya sehingga akan tumbuh. Jadi kelihatan nanti jenisnya apa memang tetap ada proses untuk perkembangbiakan itu. Harapannya sih jangan terlalu lama seminggu juga sudah keluar hasil harapannya," jelas Yusman.

 

5. Pemkab Cianjur Jamin Warganya Dapat Pelayanan Kesehatan Maksimal

Ilustrasi dokter/dok. Unsplash Hush Naidoo

Pemerintah Kabupaten atau Pemkab Cianjur, Jawa Barat memastikan ratusan warga yang mengalami keracunan massal mendapat pelayanan kesehatan dan pengawasan maksimal dari tenaga kesehatan setelah diperbolehkan pulang dari rumah sakit atau yang menjalani perawatan di rumah.

Menurut Bupati Kabupaten Cianjur Mohamad Wahyu Ferdian, pihaknya sudah memerintahkan seluruh puskesmas di wilayah kota dan sejumlah kecamatan melakukan pendataan dan pelayanan kesehatan bagi warga yang mengalami gejala atau tidak.

"Kami minta Dinkes Cianjur menurunkan tim termasuk puskesmas guna melakukan pendataan dan pelayanan bagi warga yang mengalami keracunan, dengan cara mendatangi rumah warga untuk melakukan pemeriksaan kesehatan termasuk bagi warga yang tidak bergejala," ujar Wahyu, dikutip dari Antara, Rabu 23 April 2025.

Dia menjelaskan, hal tersebut dilakukan guna memastikan jumlah warga terutama siswa sekolah yang terbesar di sejumlah kecamatan yang mengalami keracunan terdata dan mendapat penanganan medis secara maksimal hingga dinyatakan pulih seperti semula agar dapat beraktivitas kembali.

Wahyu mengatakan, tenaga kesehatan dari masing-masing puskesmas diminta untuk terus melakukan pengawasan hingga warga korban keracunan benar-benar sembuh dan kembali beraktivitas normal, serta melakukan pemeriksaan kesehatan bagi warga yang tidak bergejala agar jumlah korban keracunan tidak bertambah.

"Sedangkan terkait penyebab pasti keracunan, saat ini pihak terkait sudah mengirim sampel makanan ke laboratorium, sehingga dapat dilakukan berbagai langkah ke depan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi," ucap dia.

 

6. BGN Kirim Sampel Makanan

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana. Dia mengatakan menu makan bergizi gratis (MBG) selama Ramadan akan disesuaikan agar tak mudah basi dan bisa dimakan saat berbuka puasa. (Liputan6.com/ Lizsa Egeham)

Badan Gizi Nasional (BGN) mengirimkan sampel makanan ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Provinsi Jawa Barat (Jabar).

Hal itu dilakukan menanggapi dugaan puluhan siswa di Madrasah Aliyah Negeri (MAN 1) dan SMP PGRI 1 Kabupaten Cianjur, Jabar yang mengalami keracunan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Saat ini sampel MBG yang dimasak hari Senin 21 April 2025, telah dikirimkan ke labkesda provinsi setempat. Kami sedang menunggu hasil dari sampel yang sudah dikirimkan, dan kami tentu akan update informasinya pada kesempatan pertama setelah hasil laboratorium keluar," ujar Kepala BGN Dadan Hindayana dalam keterangan resmi, melansir Antara, Rabu 23 April 2025.

Menurut dia, hasil laboratorium maksimal akan keluar dalam rentang waktu 10 hari kedepan. Dadan menyampaikan, menurut keterangan dari perwakilan Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) setempat, makanan yang diolah juga telah memenuhi standar dan telah melewati proses sebagaimana mestinya.

Ia juga menyampaikan empati dan kepedulian akibat insiden yang menimpa puluhan siswa tersebut, serta menegaskan keselamatan para siswa merupakan prioritas utama pemerintah dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini.

"Kami turut menyampaikan rasa empati dan berharap seluruh siswa segera pulih. Keselamatan dan kesehatan anak-anak adalah prioritas utama kami. Saat ini kami sedang melakukan pemeriksaan terkait dugaan penyebab keracunan, apakah berasal dari MBG atau bukan," terang Dadan.

 

7. BGN Dorong Tranparansi Jadwal Menu Harian

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana jawab kritik soal MBG, di Kantor Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta, Sabtu (22/3/2025). (Arief/Liputan6.com)

Dadan mengatakan, sebagai langkah preventif, BGN juga telah melakukan berbagai langkah antisipasi, yaitu peningkatan pengawasan standar penyimpanan makanan di dapur MBG, serta penyempurnaan sistem berskala nasional.

Kemudian, menurut Dadan, BGN juga mendorong transparansi jadwal menu harian melalui kanal digital, juga meningkatkan kapasitas pelatihan keamanan pangan bagi seluruh penyedia MBG.

Diketahui sebelumnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cianjur menetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan yang menimpa puluhan siswa dari dua sekolah di Cianjur, diduga usai menyantap MBG, yang saat ini sebagian besar mendapat perawatan di rumah sakit.

Kepala Dinkes Cianjur Yusman Faisal mengatakan, tidak hanya puluhan siswa, sekitar 98 warga Kecamatan Mande, mengalami keracunan massal setelah menyantap hidangan yang disuguhkan dalam acara hajatan salah seorang warga.

"Sehingga, total warga yang mengalami keracunan selama dua hari terakhir sekitar 176 orang, dengan rincian 23 siswa SMP PGRI 1, 55 siswa MAN I Cianjur, dan 98 warga Kecamatan Mande," kata Yusman.

Selama masa KLB, pihaknya memaksimalkan penanganan terhadap korban yang sudah terdata, baik yang masuk ke rumah sakit, atau pun dirawat di rumah, serta meminta seluruh siswa yang memakan menu MBG ataupun warga yang mengkonsumsi hidangan hajatan untuk didata.

Infografis Program Makan Bergizi Gratis Dimulai Januari 2025. (Liputan6.com/Gotri/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya