BPJS Ketenagakerjaan Bakal Gandakan Investasi Saham, Dana Peserta Aman?

BPJS Ketenagakerjaan (BPJS–TK) berencana menggandakan porsi investasi di pasar saham lokal hingga 20% dari total dana kelolaan

oleh Pipit Ika RamadhaniDiterbitkan 14 April 2025, 17:30 WIB
Perusahaan yang tidak menyediakan BPJS Ketenagakerjaan untuk para karyawannya siap-siap kena denda Rp1 miliar. (Ilustrasi: Liputan6/M.Iqbal)

Liputan6.com, Jakarta BPJS Ketenagakerjaan (BPJS–TK) berencana menggandakan porsi investasi di pasar saham lokal hingga 20% dari total dana kelolaan (assets under management/AUM) dalam tiga tahun ke depan. Hingga akhir 2024, BPJS Ketenagakerjaan mengelola dana sebesar Rp 791 triliun, menjadikannya investor institusional terbesar di Indonesia.

Dari jumlah tersebut, sekitar Rp80 triliun atau 10% ditempatkan di pasar saham, baik secara langsung maupun melalui reksa dana. Sementara itu, mayoritas dana BPJS–TK masih diinvestasikan pada instrumen obligasi dengan porsi di atas 70%.

Sepanjang tahun 2023, BPJS–TK mencatatkan pendapatan iuran sebesar Rp97 triliun, naik 10% secara tahunan (YoY), dengan beban jaminan mencapai Rp 53,5 triliun, naik 9% YoY. Analis dari Stockbit menilai bahwa rencana ekspansi investasi BPJS–TK berpotensi menghadirkan arus dana masuk (inflow) signifikan ke pasar saham Indonesia.

Jadi Penyeimbang

Dengan potensi tambahan dana investasi mencapai Rp 80 triliun dalam tiga tahun, atau sekitar Rp 27 triliun per tahun, langkah ini bisa menjadi penyeimbang terhadap tekanan jual asing, yang telah mencatatkan net outflow senilai Rp 37 triliun sejak awal 2025.

"Selain dapat memberikan inflow tambahan ke bursa saham Indonesia, rencana BPJS–TK meningkatkan porsi investasi di pasar saham berpotensi meningkatkan confidence para pelaku pasar, apalagi jika nantinya juga didukung oleh Danantara," ulas Investment Analyst Lead Stockbit, Edi Chandren, Senin (14/4/2025).

Dalam perkembangan terkait, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar, menyatakan bahwa Badan Pengelola Investasi Danantara tengah mengkoordinasikan rencana untuk menjadi liquidity provider di pasar modal domestik. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat likuiditas serta kepercayaan investor di bursa.

 

IHSG Tertekan, BPJS Ketenagakerjaan dan Taspen Tambah Portofolio di Pasar Saham

Karyawan memfoto layar pergerakan IHSG, Jakarta, Rabu (3/8/2022). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Rabu (3/08/2022), ditutup di level 7046,63. IHSG menguat 58,47 poin atau 0,0084 persen dari penutupan perdagangan sehari sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Kebijakan tarif impor baru dari Presiden AS Donald Trump yang mulai berlaku 9 April 2025 memicu kekhawatiran pasar, termasuk di Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun hingga 9% pada Selasa (8/4), sehingga Bursa Efek Indonesia sempat menghentikan sementara perdagangan (trading halt). Indonesia terdampak dengan tarif impor sebesar 32%.

Meski begitu, BPJS Ketenagakerjaan dan PT Taspen justru melihat penurunan ini sebagai kesempatan untuk membeli saham-saham bagus yang sedang murah (undervalued).

Direktur Investasi BPJS TK Edwin Ridwan menyebut kondisi ini mirip dengan krisis 1998, 2008, dan pandemi 2020—saat terbaik untuk membeli saham.

Edwin menyatakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kuat, sehingga koreksi ini bersifat sementara. Dana kelolaan BPJS TK per Februari 2025 mencapai Rp 790,8 triliun, dan hanya 6,41% ditempatkan di saham, masih jauh di bawah batas maksimum 50%.

 

Peluang Investasi

Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat menghentikan perdagangan sementara selama 30 menit atau trading halt karena penurunan lebih dari 8%. Liputan6.com/Herman Zakharia)

Hal senada disampaikan Direktur Utama Taspen, Rony Hanityo. Ia menilai penurunan pasar saat ini adalah peluang untuk menambah investasi saham, terutama emiten dengan kinerja dan valuasi baik.

Ia juga menekankan bahwa kepanikan justru akan membuat investor kehilangan kesempatan emas.

Taspen berencana membeli saham-saham bagus secara bertahap dalam jangka panjang sebagai langkah ekspansi portofolio.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya