Pasar Saham Global Bergejolak saat Libur Lebaran, Analis Prediksi IHSG Jeblok ke 5.700

Bahkan jika support psikologis tersebut jebol, bukan tidak mungkin IHSG akan menuju skenario bearish ke level 5.700–5.750.

oleh Pipit Ika RamadhaniDiterbitkan 08 April 2025, 08:15 WIB
Kiwoom Sekuritas memproyeksikan IHSG akan dibuka dalam tekanan pada hari pertama perdagangan pasca libur. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Libur panjang Lebaran kali ini tidak memberi ketenangan bagi pasar keuangan global. Sebaliknya, sederet sentimen negatif justru memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi dan pasar saham domestik jelang pembukaan bursa pada Senin, 8 April 2025.

Analis Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi mengungkapkan, sejumlah peristiwa besar telah menciptakan disrupsi yang signifikan terhadap pasar saham global. “Selama libur bursa, kami mencermati tiga sentimen utama yang berpotensi memberikan tekanan besar pada pasar saat pembukaan nanti,” ujar Audi dalam keterangannya, Senin (7/4/2025).

Presiden AS Donald Trump mengumumkan pengenaan tarif resiprokal sebesar 10% untuk seluruh negara mitra dagangnya, dengan tambahan tarif khusus bagi negara dengan defisit perdagangan besar terhadap AS. Indonesia termasuk di antaranya, dikenakan tarif sebesar 32%.

“Indonesia menjadi sorotan karena memiliki surplus perdagangan non-migas terbesar dengan AS, yakni mencapai USD 16,84 miliar. Dengan total surplus Indonesia di FY24 sebesar USD 31,04 miliar, dampak tarif ini tentu signifikan, terutama terhadap produsen ekspor, potensi pelebaran defisit transaksi berjalan (CAD), dan tekanan terhadap Rupiah,” jelas Audi.

Pelemahan Komoditas dan Peringatan The Fed

Pasar komoditas energi juga menunjukkan tekanan. Rencana OPEC+ untuk menaikkan produksi minyak sebesar 440 ribu barel per hari mulai Mei 2025 telah menekan harga minyak mentah. Tak hanya itu, harga komoditas andalan Indonesia pun ikut melemah — batubara turun ke USD 97 per ton, tembaga anjlok 9%, CPO berada di bawah MYR 4.300 per ton, dan nikel menembus di bawah level psikologis USD 15.000 per ton.

Sementara, Ketua The Fed, Jerome Powell, dalam pidatonya pada 4 April, mengungkapkan kekhawatiran atas perlambatan ekonomi dan lonjakan inflasi di AS. Audi menilai hal ini turut meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gejolak ekonomi global lebih luas.

 

Prediksi IHSG: Potensi Break Support Psikologis

Layar grafik pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (14/10/2020). Pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG masih naik, namun tak lama kemudian, IHSG melemah 2,3 poin atau 0,05 persen ke level 5.130, 18. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Dengan kondisi tersebut, Kiwoom Sekuritas memproyeksikan IHSG akan dibuka dalam tekanan pada hari pertama perdagangan pasca libur.

“IHSG kami perkirakan akan cenderung melemah dengan support psikologis di level 6.000–6.100 dan resistance di kisaran 6.600–6.670. Bahkan jika support psikologis tersebut jebol, bukan tidak mungkin IHSG akan menuju skenario bearish ke level 5.700–5.750,” ujar Audi.

Ia juga menambahkan, tekanan dari investor asing sangat mungkin berlanjut, seiring meningkatnya ketidakpastian global.

Kekhawatiran Makro: PDB Terpangkas dan Rupiah Tertekan

Seiring dengan kebijakan tarif resiprokal AS, lembaga seperti Nomura Asia telah merevisi proyeksi pertumbuhan PDB Indonesia pada 2025 dari 4,9% menjadi 4,7%. Rupiah juga ikut terkena imbas, bahkan sempat menyentuh level Rp16.700 per USD pada 4 April lalu.

Menurut Audi, pemerintah harus segera mengambil langkah strategis, terutama dalam meredam sentimen pasar terhadap kebijakan tarif tersebut.

“Pemerintah perlu melakukan diplomasi ekonomi yang cermat sebelum kebijakan tarif berlaku efektif pada 9 April. Jika pun mengambil langkah intervensi, perlu diperhitungkan dengan matang. Namun jika menerima, maka konsekuensinya harus ditopang kebijakan insentif agar ekonomi domestik tetap terjaga,” katanya.

 

Reaksi Negara Lain

Pengunjung melintas dilayar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (30/12/2019). Pada penutupan IHSG 2019 ditutup melemah cukup signifikan 29,78 (0,47%) ke posisi 6.194.50. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Beberapa negara lain telah menunjukkan respons yang beragam terhadap kebijakan Trump. China misalnya, sudah menerapkan tarif balasan sebesar 34% dan membatasi ekspor.

Sementara Singapura dan Vietnam lebih memilih pendekatan diplomatik. Indonesia sendiri dikabarkan akan menempuh jalur negosiasi.

BEI Perlu Siaga Hadapi Tekanan Ekstrem

Audi juga menyoroti peran regulator dalam menjaga stabilitas pasar. Ia menilai Bursa Efek Indonesia perlu siap mengambil langkah taktis, termasuk kemungkinan trading halt jika terjadi koreksi tajam.

“Kami juga berpandangan bahwa implementasi intraday short selling bisa ditunda seperti yang dilakukan Taiwan saat pasar terkoreksi signifikan. Fokus utama saat ini adalah menjaga kestabilan dan menghindari kepanikan,” tutup Audi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya