Liputan6.com, Bali - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku Ketua ASEAN Capital Market Forum (ACMF) 2023 resmi menggelar Konferensi Internasional (International Conference) di Bali pada 17 Oktober 2023. Dalam perhelatan tersebut akan membahas terkait transisi menuju pasar modal berkelanjutan.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi menuturkan, posisi Asia, termasuk ASEAN, sangat penting dalam menghadapi tantangan lingkungan dan sosial yang disebabkan oleh perubahan iklim serta sejalan dengan Paris Agreement.
Advertisement
"Sebagai sebuah kekuatan kolektif, sangatlah penting bagi kita untuk memainkan peran penting dalam agenda transisi global menuju perekonomian rendah karbon dan masa depan yang berkelanjutan," ujar dia dalam acara ACMF International Conference 2023, Selasa (17/10/2023).
Sejak 2019, ACMF telah memetakan jalannya dengan memperkenalkan peta jalan menuju pasar modal berkelanjutan di Asia.
Perjalanan keberlanjutan ini sudah dimulai sejak 2017 dengan dimulainya standar obligasi ramah lingkungan Asia dan kemudian ACMF mencapai sejumlah tonggak sejarah yang menyoroti kemajuan signifikan yang telah dicapai sepanjang perjalanan tersebut.
"Pertama, kami akan mempelajari aspek transisi dan transisi dalam taksonomi Asia dan perannya dalam membantu entitas merumuskan rencana transisi mereka. Kami merasa terhormat memiliki perwakilan industri dari perbankan dan manajer aset yang berbagi wawasan mereka tentang bagaimana taksonomi Asia dapat membantu mengalokasikan portofolio untuk aktivitas transisi," ungkap dia.
Hal Lain
Kedua, kredibilitas merupakan aspek penting lainnya dalam transisi. ACMF mengatasi permasalahan penting ini dengan memperkenalkan panduan pendanaan transisi Asia.
Panduan ini membantu menilai kondisi iklim dan kemampuan hidup untuk mencapai tujuan keberlanjutan, memberikan investor kerangka kerja untuk mengevaluasi kredibilitas transisi dalam pendanaan.
Oleh karena itu, perhelatan yang digelar di Bali ini akan mengeksplorasi peran pasar karbon dalam mempercepat dekarbonisasi.
Diskusi ini akan didasarkan pada perkembangan pasar karbon sukarela di negara-negara anggota saat ini dan menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam penyeimbangan karbon.
"Pertama, kita akan membahas standar pengungkapan keberlanjutan IFRS, selalu mengikuti perkembangan terkini dan pelaporan keberlanjutan sangat penting bagi kawasan kita. Kami akan mengeksplorasi bagaimana standar ISSB dapat diterapkan termasuk interoperabilitasnya dengan standar pengungkapan keberlanjutan lainnya," terangnya.
Terakhir, ACMF akan menyoroti revisi kartu skor tata kelola perusahaan Asia untuk EKG di mana keberlanjutan merupakan salah satu revisi utama dalam kesimpulannya.
"Konferensi hari ini menandai tonggak penting, momen bagi kita untuk merefleksikan kemajuan yang telah kita capai dan memetakan langkah ke depan," tandasnya.