Pemilu 2024 Bakal Berdampak Positif untuk Pasar Modal

Melihat kondisi pasar saham saat pemilu 2004,2009, 2014, dan 2019, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis pemilu berdampak positif untuk pasar modal.

oleh Elga NurmutiaDiperbarui 04 Juli 2023, 17:41 WIB
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis pemilihan umum (pemilu) pada 2024 akan memberikan dampak positif bagi pasar modal. (Merdeka.com/Iqbal Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis pemilihan umum (pemilu) pada 2024 akan memberikan dampak positif bagi pasar modal. Ini mengingat, masyarakat cukup dewasa untuk memisahkan antara politik dan ekonomi.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Inarno Djajadi menuturkan secara historis, setiap menjelang pemilu terdapat kekhawatiran akan berdampak pada kinerja pasar modal. Padahal, jika berkaca pada pemilu sebelumnya justru usai pemilu kinerja pasar modal malah meningkat. 

Dengan begitu, OJK optimistis masyarakat cukup dewasa menjalankan pemilu secara demokratis dan sangat baik. "Pengalaman kami pemilu sebelumnya 2004, 2009, 2014,2019, kami lihat bahwasanya harga saham secara year to date meningkat setelah adanya pemilu 2004-2019," kata Inarno dalam RDKB OJK, Selasa (4/7/2023).

Di samping itu, ia juga melihat kekhawatiran terhadap keluarnya aliran dana di pasar modal tidak terbukti. Justru, pada pemilu 2004-2019 aliran dana asing banyak yang masuk ke pasar modal Indonesia.

"Bonds juga meningkat baik, Insya Allah kita cukup dewasa dan pemilu berjalan kondusif berdampak pada pasar modal," ujar dia.

Penghimpunan Dana di Pasar Modal

Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penghimpunan dana di pasar modal pada Juni masih terjaga tinggi, yaitu sebesar Rp154,13 triliun, dengan emiten baru tercatat sebanyak 43 emiten. 

"Di pipeline, masih terdapat 90 rencana penawaran umum dengan nilai sebesar Rp69,91 triliun dengan rencana IPO oleh emiten baru sebanyak 65 perusahaan," kata Inarno dalam RDKB OJK, Selasa, 4 Juli 2023.

Sedangkan untuk penghimpunan dana pada Securities Crowdfunding (SCF) yang merupakan alternatif pendanaan bagi UMKM, hingga 27 Juni 2023 telah terdapat 16 penyelenggara yang telah mendapatkan izin dari OJK dengan 419 Penerbit, 156.155 pemodal, dan total dana yang dihimpun sebesar Rp 896,80 miliar. 

 

Kinerja IHSG

Pekerja melintasi layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Rabu (16/5). Meski terjebak di zona merah, IHSG berhasil mengakhiri perdagangan di level 5.841. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selain itu, ia menyebut, di tengah pasar keuangan global yang bergerak mixed, pasar saham pada Juni 2023 menguat sebesar 0,43 persen mtd ke level 6.661,88 (Mei 2023 melemah 4,08 persen mtd ke level 6.633,26), meski non-resident mencatatkan outflow sebesar Rp4,38 triliun mtd (Mei 2023 inflow Rp1,67 triliun mtd). 

Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG terbesar dicatatkan oleh saham di sektor transportasi dan logistik dan keuangan. Secara ytd, IHSG tercatat melemah sebesar 2,76 persen dengan non-resident membukukan net buy sebesar Rp16,21 triliun (Mei 2023 net buy sebesar 20,58 triliun ytd).

Di pasar obligasi, indeks pasar obligasi ICBI menguat 0,96 persen mtd dan 6,48 persen ytd ke level 367,12 (Mei 2023 menguat 1,91 persen mtd dan 5,46 persen ytd). Untuk pasar obligasi korporasi, aliran dana masuk investor non-resident tercatat sebesar Rp22,85 miliar (mtd), namun secara ytd masih tercatat outflow Rp637,86 miliar (ytd).

Pasar SBN masih melanjutkan tren positif dan membukukan dana masuk investor asing. Hingga 27 Juni 2023, non-resident mencatatkan inflow yang cukup signifikan sebesar Rp17,53 triliun mtd (Mei 2023 inflow Rp6,67 triliun mtd), sehingga mendorong penurunan yield SBN rata-rata sebesar 1,32 bps mtd di seluruh tenor. 

"Secara ytd, yield SBN turun rata-rata sebesar 7,55 bps di seluruh tenor dengan non-resident mencatatkan net buy sebesar Rp84,70 triliun ytd," kata dia.

 

 

Menakar Imbas Pemilu 2024 ke Pasar Saham Indonesia, Modal Asing Bakal Mampir atau Kabur?

Karyawan melihat layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (22/1/2021). Pada hari ini, IHSG melemah pada penutupan sesi pertama menyusul perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sebelumnya, Pemilihan Umum (Pemilu) yang akan berlangsung pada 2024 turut menjadi sentimen pasar modal Indonesia.  Head of Equity Research & Strategy, Mandiri Sekuritas, Adrian Joezer cukup optimistis pasar modal akan mencatatkan tren positif sepanjang periode tersebut.

Keyakinan itu merujuk pada tren pemilu sebelumnya yang secara historis tetap positif meski berlangsung usai krisis. Misalnya, seperti pada pemilu 2024, yang terjadi setelah ada taper tantrum pada 2013. Kemudian pemilu 2009 terjadi setelah global financial crisis 2008. Di sisi lain, kondisi fundamental ekonomi dalam negeri sejauh ini juga terpantu cukup resilien.

"Kita melihat masih optimistis di semester II 2023. Kita melihat dari sisi inflasi Indonesia yang sudah terkendali dengan kedisiplinan fiskal dan monetary policy dari pemerintah, maka sebenarnya memiliki ruang di semester II ini untuk bisa genjot sedikit untuk pertumbuhan konsumsi dan juga pertumbuhan ekonomi domestik. Maka harusnya pada saat itu terjadi, akan tampak lebih positif ke bursa saham," ujar Adrian dalam Money Buzz - Raup Cuan Jelang Pemilu Tahun Depan, Selasa (13/6/2023).

Dari sisi valuasinya, Adrian mengatakan, pasar saham RI tidak berada pada posisi overvalue dibandingkan dengan negara-negara seperti Amerika atau Thailand untuk emerging market.

"Mereka secara valuasi jauh di atas Indonesia, dan kita punya valuasi itu saat ini berada di level 13 kali PE rationya, sehingga kalau saya melihat harusnya secara risk reward lebih positif," imbuh Adrian.

Adapun faktor yang lebih mendominasi pasar saham tahun depan lebih pada faktor global, di mana ada kemungkinan investor melakukan rotasi portofolio menyesuaikan kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Fed. Informasi saja, saat ini pasar usnag di Amerika memberikan imbal hasil di atas 5 persen.

 

Potensi Dana Investor Asing

Pengunjung melintasi layar pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (10/2). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Pada kondisi tersebut, Adrian mengatakan potensi masuknya dana asing terbuka lebar. Sebagai gambaran, dia menjabarkan terdapat capital outflow atau dana asing yang kabur dari Indonesia pada akhir 2022 hingga awal tahun ini mencapai Rp 24 triliun.

Namun, kondisi tersebut telah berbalik, bahkan dana asing masuk tercatat lebih besar. Kaburnya dana investor asing pada Desember lalu ditengarai pembukaan ekonomi China. Sehingga terjadi kekhawatiran di benak investor mengenai proyeksi ekonomi Indonesia yang ditakutkan tidak lagi menjadi primadona. Namun, seiring berjalannya waktu, Indonesia kembali kebanjiran dana asing ditopang kondisi ekonomi dalam negeri yang cukup baik.

"Jadi meskipun investor pasti tahu tahun depan adalah tahun pemilu, tapi kita lihat secara fundamental ekonomi Indonesia sudah jauh lebih baik strukturnya. Sudah terjadi hilirisasi, pembangunan infrastruktur yang sangat masif. Jadi secara fondasi ekonomi sudah jauh lebih baik dari sisi current account deficit, dari sisi ketahanan eksternal faktor kita juga lebih baik. Jadi saya melihat bahwa YTD ini cukup menarik," ujar Adrian.

"Jadi investor asing sudah melakukan penjualan sebesar Rp 24 triliun di Desember dan Januari. Angka tersebut balik arah sebesar hampir sama yaitu Rp 24-25 triliun di periode Februari tahun ini hingga kemarin. jadi kalau kita lihat bahwa investor asing pun sebenarnya masih cukup optimis dengan bursa saham Indonesia," ia menambahkan.

Tren serupa disebutkan juga terjadi di pasar obligasi. Di mana inflow sata ini tercatat sudah mencapai Rp 70 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang berkisar Rp 40-50 triliun.

 

Infografis Ekonomi RI Jauh Lebih Baik dari Negara Lain (Liputan6.com/Triyasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya