Pemda Garut Targetkan Produksi Gabah Kering Capai 700 Ribu Ton

Untuk mencapai kenaikan produksi gabah, Dinas Pertanian Garut mengajak petani, meningkatkan penggunaan benih unggul berkualitas, kemudian mengoptimalkan penggunaan pupuk, mengintensifkan gerakan pengendalian OPT untuk meminimalkan kehilangan hasil.

oleh Jayadi Supriadin diperbarui 16 Feb 2023, 20:00 WIB
Pemerintah Daerah (Pemda) Garut, Jawa Barat menargetkan capaian produksi Gabah Kering Giling (GKG) tahun ini hingga 696.752 ton. (Liputan6.com/Jayadi Supriadin)

Liputan6.com, Garut - Pemerintah Daerah (Pemda) Garut, Jawa Barat menargetkan capaian produksi Gabah Kering Giling (GKG) tahun ini hingga 696.752 ton. Ancaman intensitas hujan yang masih tinggi menjadi berkah tersendiri.

"Capaian produksi padi di Kabupaten Garut tahun lalu sebanyak 859.253 ton GKG atau mencapai 123,32 persen," ujar Kepala Dinas Pertanian Garut, Beni Yoga Gunasantika, Selasa (14/2/2023).

Menurutnya, potensi produksi gabah Kabupaten Garut masih bergantung kepada perubahan cuaca. Ancaman cuaca ekstrem yang ditandai curah hujan tinggi, diprediksi masih berlangsung tahun ini.

"Faktor curah hujan atau ketersediaan merupakan potensi terbesar yang dapat menjadi batu sandungan dalam pencapaian target produksi padi di Kabupaten Garut," kata dia.

Pihaknya mencatat, dari sekitar 42.718 hektare luasan baku sawah di Garut, sebesar 36,78 persen lahan dapat ditanami padi sebanyak 3 kali, kemudian 48,31 persen ditanami 2 kali, dan 14,76 persen lahan hanya dapat ditanami sebanyak satu kali. 

Kondisi itu menunjukkan produksi padi Kabupaten Garut, masih tergantung pada kondisi curah hujan serta ketersediaan permukaan air baik yang bersumber dari sungai, danau, waduk, bendungan dan lainnya yang dialirkan melalui jaringan irigasi.

Selama ini, ujar Beni, serapan gabah petani padi di Garut, banyak diserap masyarakat Garut, termasuk dijual ke luar Kabupaten Garut melalui penggilingan atau huller atau para pengepul beras di masing-masing wilayah.

Untuk mendukung rencana itu, Beni mengajak masyarakat meningkatkan penggunaan benih unggul berkualitas, kemudian mengoptimalkan penggunaan pupuk, mengintensifkan gerakan pengendalian OPT untuk meminimalkan kehilangan hasil.

"Termasuk kami terus mengkampanyekan mekanisasi pertanian untuk percepatan olah tanah dan penanaman," papar dia.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya