Liputan6.com, Jakarta: Pasukan gabungan Amerika Serikat dan sekutunya membombardir Baghdad, Irak, Jumat malam waktu setempat. Serangan dengan sejumlah peluru kendali dan bom pintar (smart bomb) selama dua jam itu diperkirakan telah melumpuhkan command and control atau sistem komando dan pengontrolan petinggi militer Irak. Sebab, tujuan operasi kedua ini memang untuk membunuh para petinggi militer dan menghancurkan sistem komando dan strategi kontrol Irak [baca: Baghdad Dibombardir Besar-besaran]. Ini bisa dibuktikan dengan laporan yang menyebutkan banyak pasukan Irak di pesisir Baghdad, yang menyerah. Mereka sudah tidak tahu langkah yang harus dilakukan karena sistem komandonya sudah terputus. "Panglima perang Irak sudah tak bisa mengomando dan mengontrol lagi ke unit-unitnya," kata analis strategi militer Tahi Bonar Silalahi ketika berbicang-bincang dengan reporter Bayu Sutiono di Studio SCTV Jakarta, Sabtu (22/3) pagi.
Bekas Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara era Presiden Soeharto pada Kabinet Pembangunan VI (1993-1998) ini menilai, operasi semalam memang terkesan untuk mengejutkan dan menunjukkan peralatan perang mutakhir milik AS. Dalam operasi ini, Amerika menyiapkan sekitar 3.000 bom pintar yang memiliki teknologi tercanggih. Hingga pagi ini, diperkirakan baru setengah dari jumlah bom pintar dilepas AS. Sisanya diduga untuk pengeboman selanjutnya. Belum lagi dengan kekuatan dari E-Bomb (elektomagnetic bomb), peledak berkekuatan gelombang elektromagnetik yang bisa melumpuhkan komputer dan sistem listrik di Irak.
Lebih jauh Silalahi mengamati, dalam kondisi tersebut pasukan AS sebenarnya sudah bisa memasuki Kota Baghdad. Kendati demikian, pasukan Resimen Kavaleri Ketujuh yang bergerak begitu cepat itu sengaja ditahan masuk ke Ibu Kota Irak, untuk mempersiapkan operasi pengeboman selanjutnya. Diharapkan setelah pengeboman berikutnya, petinggi-petinggi militer Irak, termasuk Presiden Saddam Hussein mau menyerah. Dengan begitu, pasukan AS tak perlu lagi menggelar perang kota. "Perang kota atau perang final ini adalah yang ditakuti Amerika," kata pensiunan TNI berpangkat terakhir mayor jenderal itu [baca: Irak Diperkirakan Memakai Strategi Perang Kota].
Menurut pengamatan Silalahi, sejauh ini posisi terakhir Resimen Kavaleri Ketujuh--pasukan ujung tombak AS--sudah masuk sekitar 160 kilometer ke arah Baghdad. Demikian pula dengan pasukan Marinir dan Airborne atau pasukan Lintas Udara AS yang sudah menguasai beberapa kota. Wilayah barat Irak juga sudah diamankan dan menyapu bersih rudal SCUD di sana. Dengan kondisi seperti itu, Irak diperkirakan sudah tak memiliki lagi kesempatan untuk menembakkan SCUD-nya ke Israel, daerah yang dijadikan satu dari sejumlah pangkalan tentara AS.
Silalahi meyakini kekuatan Irak jauh di bawah kekuatan militer AS. Setelah Perang Teluk I pada 1999, AS terus mengembangkan teknologi peralatan perang. Satu di antaranya lewat penemuan bom pintar yang sangat akurasi dalam mengenai sasarannya, sehingga kecil sekali kemungkinan buat mengenai rakyat sipil. Terbukti pada serangan semalam yang hanya menghancurkan sejumlah gedung-gedung pemerintahan dan markas tentara Irak. "Benar atau tidak, kita lihat sejauhmana [jumlah] korban sipil yang tewas," kata dia.
Sebaliknya, menurut Silalahi, Irak selama 12 tahun pasca-Perang Teluk I sama sekali tak mengembangkan persenjataannya. Bahkan boleh dibilang Irak sama sekali tak memiliki teknologi baru. Boleh jadi kemampuan Irak sekarang jauh lebih lemah dibanding Perang Teluk I. Karena menyadari hal tersebut, maka Saddam sebelumnya bertahan dari sisi politik. "Kalau dari sisi politik, Saddam masih di atas [lebih unggul]. Kalau saja Saddam masih bisa bertahan, repot juga Amerika," pandang Silalahi.
Silalahi memaparkan, sasaran utama AS sebenarnya ada tiga: Istana Saddam, War Room bawah tanah dekat Sungai Tigris, dan Markas Partai Baath--partai pimpinan Saddam Hussein [baca: Diperkirakan Saddam Ditangkap Hidup-Hidup atau Mati]. Di ketiga tempat itulah berkumpul para jenderal Irak dan para pemimpin partai Saddam. Karenanya, Silalahi yakin AS masih akan terus melancarkan pengeboman untuk melumpuhkan moril pasukan Irak. Sementara pasukan udara AS mengebom, Resimen Kavaleri Ketujuh dan Airborne terus bergerak dan mengepung Baghdad. Penyerangan itu akan terus dilakukan hingga para jenderal Irak menyerah. &quotTapi jika hingga saat-saat terakhir tetap bertahan, mau tidak mau pasukan AS harus masuk kota sehingga akan terjadi pertempuran kota yang cukup seram,&quot kata Silalahi menutup dialog.(DEN)
Bekas Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara era Presiden Soeharto pada Kabinet Pembangunan VI (1993-1998) ini menilai, operasi semalam memang terkesan untuk mengejutkan dan menunjukkan peralatan perang mutakhir milik AS. Dalam operasi ini, Amerika menyiapkan sekitar 3.000 bom pintar yang memiliki teknologi tercanggih. Hingga pagi ini, diperkirakan baru setengah dari jumlah bom pintar dilepas AS. Sisanya diduga untuk pengeboman selanjutnya. Belum lagi dengan kekuatan dari E-Bomb (elektomagnetic bomb), peledak berkekuatan gelombang elektromagnetik yang bisa melumpuhkan komputer dan sistem listrik di Irak.
Lebih jauh Silalahi mengamati, dalam kondisi tersebut pasukan AS sebenarnya sudah bisa memasuki Kota Baghdad. Kendati demikian, pasukan Resimen Kavaleri Ketujuh yang bergerak begitu cepat itu sengaja ditahan masuk ke Ibu Kota Irak, untuk mempersiapkan operasi pengeboman selanjutnya. Diharapkan setelah pengeboman berikutnya, petinggi-petinggi militer Irak, termasuk Presiden Saddam Hussein mau menyerah. Dengan begitu, pasukan AS tak perlu lagi menggelar perang kota. "Perang kota atau perang final ini adalah yang ditakuti Amerika," kata pensiunan TNI berpangkat terakhir mayor jenderal itu [baca: Irak Diperkirakan Memakai Strategi Perang Kota].
Menurut pengamatan Silalahi, sejauh ini posisi terakhir Resimen Kavaleri Ketujuh--pasukan ujung tombak AS--sudah masuk sekitar 160 kilometer ke arah Baghdad. Demikian pula dengan pasukan Marinir dan Airborne atau pasukan Lintas Udara AS yang sudah menguasai beberapa kota. Wilayah barat Irak juga sudah diamankan dan menyapu bersih rudal SCUD di sana. Dengan kondisi seperti itu, Irak diperkirakan sudah tak memiliki lagi kesempatan untuk menembakkan SCUD-nya ke Israel, daerah yang dijadikan satu dari sejumlah pangkalan tentara AS.
Silalahi meyakini kekuatan Irak jauh di bawah kekuatan militer AS. Setelah Perang Teluk I pada 1999, AS terus mengembangkan teknologi peralatan perang. Satu di antaranya lewat penemuan bom pintar yang sangat akurasi dalam mengenai sasarannya, sehingga kecil sekali kemungkinan buat mengenai rakyat sipil. Terbukti pada serangan semalam yang hanya menghancurkan sejumlah gedung-gedung pemerintahan dan markas tentara Irak. "Benar atau tidak, kita lihat sejauhmana [jumlah] korban sipil yang tewas," kata dia.
Sebaliknya, menurut Silalahi, Irak selama 12 tahun pasca-Perang Teluk I sama sekali tak mengembangkan persenjataannya. Bahkan boleh dibilang Irak sama sekali tak memiliki teknologi baru. Boleh jadi kemampuan Irak sekarang jauh lebih lemah dibanding Perang Teluk I. Karena menyadari hal tersebut, maka Saddam sebelumnya bertahan dari sisi politik. "Kalau dari sisi politik, Saddam masih di atas [lebih unggul]. Kalau saja Saddam masih bisa bertahan, repot juga Amerika," pandang Silalahi.
Silalahi memaparkan, sasaran utama AS sebenarnya ada tiga: Istana Saddam, War Room bawah tanah dekat Sungai Tigris, dan Markas Partai Baath--partai pimpinan Saddam Hussein [baca: Diperkirakan Saddam Ditangkap Hidup-Hidup atau Mati]. Di ketiga tempat itulah berkumpul para jenderal Irak dan para pemimpin partai Saddam. Karenanya, Silalahi yakin AS masih akan terus melancarkan pengeboman untuk melumpuhkan moril pasukan Irak. Sementara pasukan udara AS mengebom, Resimen Kavaleri Ketujuh dan Airborne terus bergerak dan mengepung Baghdad. Penyerangan itu akan terus dilakukan hingga para jenderal Irak menyerah. &quotTapi jika hingga saat-saat terakhir tetap bertahan, mau tidak mau pasukan AS harus masuk kota sehingga akan terjadi pertempuran kota yang cukup seram,&quot kata Silalahi menutup dialog.(DEN)