Liputan6.com, Jakarta- Menurut sekelompok ilmuwan yang meneliti potensi hewan-hewan, menyelamatkan paus bisa menjadi salah satu cara yang baik untuk menyelamatkan Bumi.
Mereka mengungkapkan bahwa hewan-hewan tersebut bertindak sebagai penyerap karbon karena dapat menyerap lebih banyak karbon daripada yang dilepaskannya.
Advertisement
Banyak penelitian memberikan rekomendasi berbagai langkah yang bisa kita lakukan untuk menurunkan emisi karbon dengan berbagai solusi ‘hijau’.
Beberapa di antaranya untuk memerangi perubahan iklim yang berfokus pada kemampuan pohon dan lahan basah untuk menangkap dan menyimpan karbon dioksida di atmosfer.
Namun, dalam sebuah penelitian yang diterbitkan pada Kamis (15/12) di jurnal Trends in Ecology and Evolution, sekelompok ahli biologi memiliki gagasan baru bahwa paus dapat mengurangi jumlah karbon di udara dan di lautan. Menurut mereka, hal tersebut berpotensi mengurangi karbon dioksida atmosfer secara keseluruhan.
"Memahami peran paus dalam siklus karbon menjadi hal yang dinamis dan bidang yang mulai berkembang dan dapat bermanfaat bagi konservasi laut dan strategi perubahan iklim," ungkap para penulis, yang dipimpin oleh Heidi Pearson, seorang ahli biologi dari University of Alaska Southeast.
Ilmuwan ini menggunakan drone dan algoritme untuk menyelamatkan paus dan lautan.
Sejauh ini, lautan merupakan penyerap karbon terbesar di dunia. Lautan menyerap sekitar 40 persen dari semua karbon dioksida yang dipancarkan dari pembakaran bahan bakar fosil sejak Revolusi Industri melansir Forbes, Jumat (16/12/2022).
Peran Penting Paus Bagi Atmosfer
Ahli biologi kelautan baru-baru ini menemukan bahwa paus, terutama paus besar, juga memainkan peran penting dalam menangkap karbon dari atmosfer.
Paus-paus ini dapat mencapai berat hingga 28 ton dan hidup lebih dari 100 tahun, tulis para peneliti, dan ukuran serta umur panjangnya membuat paus-paus ini mengumpulkan lebih banyak karbon di dalam tubuhnya daripada hewan-hewan kecil lainnya. Ketika mereka mati, mereka tenggelam ke dasar lautan, mengambil karbon dari atmosfer selama berabad-abad.
"Paus mengonsumsi krill dan plankton fotosintetik hingga 4 persen dari berat tubuhnya yang besar setiap hari. Untuk paus biru, ini setara dengan hampir 8.000 pon," tulis para ilmuwan.
"Ketika mereka selesai mencerna makanan mereka, kotoran mereka kaya akan nutrisi penting yang membantu krill dan plankton ini berkembang, membantu meningkatkan fotosintesis dan penyimpanan karbon dari atmosfer."
Upaya Pemulihan Paus
Sebuah laporan tahun 2019 yang diterbitkan oleh International Monetary Fund (IMF) memperkirakan bahwa seekor paus besar rata-rata menyerap 33 ton karbon dioksida setiap tahun, sementara pohon hanya menyerap hingga 48 pon per tahun.
Studi terbaru ini mengeksplorasi bagaimana pemulihan populasi paus dapat meningkatkan kemampuan hewan sebagai penyerap karbon.
Pada 2019, populasi paus dilaporkan tinggal 1,9 juta, dari yang asalnya sekitar 5 juta. Alasan utama penyusutan populasi paus, lanjut para peneliti, adalah perburuan komersial yang menurunkan populasinya hingga 81 persen.
Di antara sejumlah spesies paus, jumlah karbon yang diserap "melonjak satu atau dua kali lipat" dengan pulihnya populasi paus, kata Stephen Wing, salah satu penulis makalah dan profesor ilmu kelautan di University of Otago di Selandia Baru.
Angka-angka tersebut "relatif kecil" jika dilihat dari cakupan tantangan iklim global, "tetapi relatif terhadap janji-janji yang dibuat oleh beberapa negara untuk mengurangi emisi CO2, angka-angka tersebut relatif besar," tambahnya.
"Kami seperti melihat ke belakang dan memastikan bahwa upaya pemulihan bisa menghasilkan jumlah paus seperti sebelum perburuan paus, karena sistem ini sebelumnya telah menopang jumlah paus tersebut," kata Wing.
Meningkatkan Penyerapan Karbon
Paus, bersama dengan sejumlah hewan laut, rentan terhadap perubahan iklim, karena kenaikan suhu mendorong mereka ke habitat baru. Mereka termasuk di antara mamalia laut yang paling terancam punah di dunia, termasuk paus kanan Atlantik Utara, yang hanya tersisa sekitar 340 ekor.
Paus hingga kini masih dibunuh secara besar-besaran, bahkan bertahun-tahun setelah perburuan paus komersial dilarang, termasuk di perairan yang dipenuhi kapal yang menabrak mereka dan tali yang menjerat mereka.
"Pemulihan paus memiliki potensi untuk meningkatkan penyerapan karbon laut secara mandiri dalam jangka panjang," tulis para penulis.
"Peran penuh pengurangan karbon dioksida dari paus besar (dan organisme lainnya) hanya akan terwujud melalui intervensi konservasi dan pengelolaan yang kuat yang secara langsung mendorong peningkatan populasi."
Namun, para penulis masih berhati-hati dalam memasukkan karbon paus ke dalam strategi mitigasi perubahan iklim yang lebih luas, karena masih banyak hal yang tidak diketahui secara ilmiah. Mereka berpendapat bahwa penelitian terbaru yang menilai kontribusi karbon dari seekor paus biru tunggal sebesar $1,4 juta "didasarkan pada asumsi di luar pemahaman kita tentang ekologi paus dan oseanografi biologis."