Upaya Warga Sikka Wujudkan Mimpi Swasembada Garam

Rumah produksi garam konsumsi beryodium milik KSP Kopdit Pintu Air, di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) optimis memenuhi kebutuhan garam warga Kabupaten Sikka. Tak menutup kemungkinan, akan dipasarkan ke luar daerah.

oleh Ola KedaDionisius Wilibardus diperbarui 24 Agu 2020, 19:00 WIB
Foto: Gubernur NTT, Viktor Laiskodat saat mengunjungi Rumah produksi garam konsumsi beryodium milik KSP Kopdit Pintu Air, di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka (Liputan6.com/Dion)

Liputan6.com, Sikka - Rumah produksi garam konsumsi beryodium milik KSP Kopdit Pintu Air, di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) optimistis memenuhi kebutuhan garam warga Kabupaten Sikka. Tak menutup kemungkinan, produksi garam lokal ini akan dipasarkan ke luar daerah.

Manajer Rumah Produksi Garam Konsumsi Beryodium, Ifan Parera, mengatakan, kebutuhan garam di Kabupaten Sikka, sebanyak 24 ton per bulan. Sedangkan persediaan di rumah produksi garam konsumsi beryodium belum sampai pada angka itu.

"Masih minim. Kami ada minta tambah lahan empat hektare. Kita tambah kuota bahan baku," kata Ifan kepada Liputan6.com, Minggu (23/8/2020).

Bersama timnya, Ifan berusaha untuk memenuhi kebutuhan garam bagi masyarakat Kabupaten Sikka mengingat pasar sangat kompetitif dalam menyambut produk garam.

"Memang garam belum dijual. Kita punya stok 15 ton sekarang. Beberapa izin sedang diurus. SNI akan audit Daring. BPOM sementara diproses. Itu karena kendala Covid-19 selama ini. Untuk sertifikal halal, dalam waktu dekat akan diurus," jelasnya.

Ketua KSP Kopdit Pintu Air, Yakobus Jano, mengatakan, beberapa tahun belakangan, KSP Kopdit Pintu Air benar-benar serius menggarap dua sektor riil. Dua sektor riil itu yakni sektor biru (garam) dan sektor hijau (minyak kelapa) yang jadi fokus pengembangan.

Dua sektor tersebut digarap, karena bagi Jano, NTT itu identik dengan nelayan, petani, peternak, dan buruh (NTT-B). Baginya, koperasi tidak membutuhkan uang dari pemerintah, yang dibutuhkan adalah dampingan dan pelatihan.

Sebelumnya, Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat menyambangi Rumah Produksi Garam Konsumsi Beryodium di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura.

Gubernur Viktor mengapresiasi langkah KSP Kopdit Pintu Air yang giat merambah usaha sektor riil. Baginya, sektor garam di NTT memiliki prospek yang bagus ke depan.

"Saya ini biasa urus garam. Sejak jadi gubernur urus garam. Saya sekarang kerjakan garam 2.000 hektare," ujar Viktor.

Produksi garam beryodium milik KSP Kopdit Pintu Air, kata Viktor Laiskodat, bisa memenuhi kebutuhan pasar di Kabupaten Sikka hingga Kabupaten Alor.

"Bisa mencukupi kebutuhan garam dari Sikka hingga Alor. Apalagi kalau produksinya ditingkatkan dengan lahan yang luas, pasti cakupan pasarnya juga lebih luas. Kita bisa jual ke luar," katanya.

Viktor berjanji mendatangkan orang profesional untuk meninjau lokasi tambak garam di Nangahale.

"Saya akan datangkan orang profesional untuk melihat tambak ini lalu kita bikin garam yang benar, bisa garam untuk konsumsi dan garam untuk industri," janjinya.

Simak video pilihan berikut ini:

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya