Pentingnya Pencegahan Kebakaran Hutan Saat Pandemi COVID-19

Asap kebakaran hutan turunkan mekanisme tubuh yang membuat seseorang rentan terkena COVID-19.

oleh Liputan6.com diperbarui 19 Jul 2020, 06:00 WIB
Petugas pemadam kebakaran berupaya melakukan pemadaman di tengah pekatnya asap kebakaran di Kampar, provinsi Riau pada 17 September 2019. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi membuat sejumlah wilayah di Provinsi Riau terpapar kabut asap. (ADEK BERRY / AFP)

Liputan6.com, Jakarta Pemerintah perlu maksimal dalam upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terlebih di tengah pandemi COVID-19 seperti sekarang. Jika tidak dicegah hal tersebut bisa memperparah kesehatan masyarakat di tengah pandemi.

"Jadi tentu yang terpentingkan adalah mitigasi (tindakan mengurangi dampak bencana), baik mitigasi dari sisi karhutla, maupun mitigasi dari sisi COVID-19 sendiri," kata dokter spesialis paru RS Persahabatan, Andika Chandra Putra seperti mengutip Antara, Sabtu (18/7/2020).

Andika mengungkapkan bahwa potensi kebakaran hutan kerap terjadi di musim kemarau yakni sekitar Juli, Agustus, dan September. Karena bisa diprediksi, maka alangkah baiknya dilakukan mitigasi terutama di daerah-daerah yang memiliki lahan gambut.

Andika mengatakan mitigasi juga dapat dilakukan dengan mengupayakan modifikasi cuaca dengan hujan buatan lebih awal, selain juga sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat sekitar untuk tidak melakukan pembakaran liar.

 "Ada juga pembakar-pembakar hutan liar misalnya, itu juga harus ditindak tegas jika sampai melakukan pembakaran," katanya.

 

Saksikan Juga Video Menarik Berikut

2 dari 2 halaman

Bagi masyarakat di kawasan rawan asap karhutla

Sementara itu, bagi masyarakat yang berada di daerah-daerah rawan potensi asap karhutla, Andika menyarankan untuk mengurangi kemungkinan risiko paparan. Caranya dengan menyediakan pelindung atau penutup pada jendela untuk membatasi masuknya asap ke dalam rumah.

Masyarakat memakai masker baik saat di luar rumah atau ketika di dalam rumah jika pada kemungkinan skenario terburuk sampai terjadi karhutla.

"Kalau memang tingkat keparahan gasnya sangat berat, pindah dari daerah tersebut. Sebelum itu semua, tentu mitigasi yang lebih penting untuk meencegah sampai terjadinya karhutla," katanya.

Asap karhutla, kata Andika, dapat mengganggu mekanisme pertahanan tubuh sehingga mempermudah risiko seseorang terkena COVID-19.

Untuk itu, upaya mitigasi perlu dilakukan lebih dini dan lebih maksimal untuk benar-benar mencegah kemungkinan kondisi yang lebih buruk.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya