Bursa Saham Asia Melemah Dipicu Kekhawatiran Penyebaran Corona Gelombang Kedua

Bursa saham di Asia Pasifik diperdagangkan lebih rendah pada hari Rabu.

oleh Ilyas Istianur PradityaDiperbarui 21 Mei 2020, 06:14 WIB
Orang-orang berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Liputan6.com, Jakarta - Saham-saham di Asia Pasifik diperdagangkan lebih rendah pada hari Rabu karena masih ada kehati-hatian atas kebangkitan baru-baru ini dalam kasus virus corona di negara-negara tertentu secara regional.

Dikutip dari laman CNBC, Rabu (13/5/2020), di Jepang, Nikkei 225 turun 1,28 persen pada awal perdagangan karena saham indeks Fast Retailing turun lebih dari 2 persen. Indeks Topix juga turun 0,99 persen.

Kospi Korea Selatan turun 1,07 persen.

Sementara itu, saham di Australia juga diperdagangkan lebih rendah, karena S & P / ASX 200 turun 0,91 persen.

Secara keseluruhan, indeks saham MSCI Asia ex-Jepang diperdagangkan 0,41 persen lebih rendah.

Perkembangan virus corona kemungkinan terus membebani sentimen investor. Secara global, lebih dari 4,2 juta orang telah terinfeksi sementara setidaknya 287.158 nyawa meninggal dunia, menurut data yang dikumpulkan oleh Universitas Johns Hopkins.

 

Tergantung Pengembangan Vaksin

Seorang pria berjalan melewati indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo (29/8). Rudal tersebut menuju wilayah Tohoku dekat negara Jepang. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

Stateside, Dr. Anthony Fauci, direktur National Institute of Allergy and Infectious Diseases, mengatakan bahwa vaksin akan sangat penting dalam menghentikan penyebaran virus corona. Hanya saja itu akan membutuhkan waktu lama sebelum bisa digunakan.

Dia juga memperingatkan bahwa AS bisa menambah risiko wabah tambahan jika negara mulai membuka kembali terlalu cepat.

Di Asia, tempat virus korona pertama kali menyerang, beberapa negara termasuk Cina dan Korea Selatan telah mengalami peningkatan dalam kasus-kasus setelah pembatasan dikurangi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya