1001 Warung Kopi Jadi Potensi Wisata di Belitung Timur

Sebutan tersebut mengemuka lantaran banyaknya warung kopi yang menjamur di daerah ini, khususnya di wilayah Kabupaten Belitung Timur.

oleh Fitri.Syarifah diperbarui 16 Jun 2019, 09:27 WIB
Kedai Kopi Janggut menjadi salah satu tempat nongkrong kekinian bagi Anda penikmat kopi, puisi, dan musik. Foto: Annissa Wulan/ Liputan6.com.

Liputan6.com, Jakarta Selain dikenal sebagai Negeri Laskar Pelangi, Belitung memiliki branding lain yaitu ‘1001 Warung Kopi’. Sebutan tersebut mengemuka lantaran banyaknya warung kopi yang menjamur di daerah ini, khususnya di wilayah Kabupaten Belitung Timur.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Belitung Timur, Evi Nardi mengatakan, minum kopi sudah menjadi tradisi atau semacam budaya yang lekat pada masyarakat Beltim. Meski awalnya minum kopi merupakan aktivitas harian pekerja tambang, namun kebiasaan tersebut akhirnya diikuti masyarakat setempat. Bahkan kemudian menjadi semacam identitas.

Padahal, lanjut Nardi, sejauh ini bahan baku kopi masih didatangkan dari luar daerah. Karenanya, ia mendorong masyarakat melalui dinas terkait untuk dapat menghasilkan sendiri produk kopi berkualitas yang bisa menjadi kebanggaan masyarakat.

“Alhamdulillah, sekarang sudah ada yang mulai menanam kopi. Salah satunya di Desa Wilangan. Ini memang harus dimulai. Mau gak mau, suka gak suka, kita harus bisa menanam kopi sendiri. Karena produk kopi itu nantinya juga bisa menjadi oleh-oleh bagi wisatawan,” ujarnya saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengembangan Wisata Perkotaan di Guest Hotel Belitung Timur, Jumat (14/6).

Diakui Nardi, masih banyak pelaku pariwisata di Belitung Timur yang belum menggarap potensi 1001 Warung Kopi ini. Karenanya, ia berterimakasih pada Kementerian Pariwisata yang berkenan menggelar Bimtek di daerahnya. Ia berharap ada pencerahan bagaimana mengemas potensi tersebut, sehingga menjadi sesuatu yang menarik dan dapat mendatangkan wisatawan.

Asisten Deputi Pengembangan Wisata Budaya Kemenpar Oneng Setya Harini menjelaskan, gagasan membangun wisata bisa muncul dari mana saja. Bukan hanya ‘memoles’ potensi alam yang memang sudah dianugerahkan Tuhan, tetapi bisa menggali dari segi budaya. Terlebih, budaya Indonesia sangat luar biasa. Dari sisi etnis sendiri, ada lebih dari tujuhratus suku bangsa yang tersebar di berbagai penjuru Tanah Air. “Sejauh ini, budaya menjadi daya tarik utama wisatawan mancanega datang ke Indonesia. Tak salah jika ada anggapan bahwa semakin dilestarikan, maka budaya akan semakin menyejahterakan,” terangnya.

Terkait Bimtek sendiri, Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kemenpar Ni Wayan Giri Adnyani menambahkan, kegiatan ini memiliki output produk wisata berupa pengemasan dan pemaketan wisata perkotaan di Belitung Timur. Adapun tujuannya, antara lain untuk meningkatkan kapasitas pelaku wisata perkotaan dan terbentuknya paket wisata perkotaan di daerah setempat.

“Pariwisata Indonesia memiliki banyak keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif. Tahun ini, pariwisata diproyeksikan menjadi sektor penghasil devisa terbesar di Indonesia. Bahkan menjadi destinasi terbaik di kawasan regional, dan mampu melampaui ASEAN,” ungkapnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menuturkan, seni budaya masih menjadi perhatian serius Kemenpar. Sebab, 60 persen wisatawan mancanegara datang ke Indonesia karena budaya. Selebihnya, 35 persen karena alam, dan 5 persen karena faktor buatan. Seperti meeting, incentive, conference, danexhibition (MICE), wisata olahraga, dan hiburan.

“Ragam budaya di Indonesia sangat kaya. Ada 1.340 suku bangsa yang bisa dieksplorasi di lebih dari 17 ribu pulau. Dari beragam suku yang ada, juga menyimpan 583 bahasa dan dialek yang berbeda-beda. Dari sisi atraksi, budaya kita jelas sangat kuat. Ini yang harus dikelola secara serius bersama-sama,” tegasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya