Chatib Basri: Penurunan Suku Bunga Acuan Masih Sulit

Hal yang membuat BI sulit menurunkan suku bunga acuan karena kondisi defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang masih membengkak.

oleh Ayu Lestari Wahyu Puranidhi diperbarui 14 Mar 2019, 19:07 WIB
Karyawan menghitung uang kertas rupiah yang rusak di tempat penukaran uang rusak di Gedung Bank Indonessia, Jakarta (4/4). Selain itu BI juga meminta masyarakat agar menukarkan uang yang sudah tidak layar edar. (Merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri menyatakan penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) masih cukup sulit dilakukan Bank Sentral. Meskipun tahun ini, kebijakan normalisasi moneter The Federal Reserve (The Fed) makin melambat.

Ini dia ungkapkan saat menjadi pembicara pada diskusi yang digelar PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Kamis (14/3/2019).

Dia mengatakan, hal yang membuat BI sulit menurunkan suku bunga acuan karena kondisi defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang masih membengkak.

“Kebijakan The Fed mengenai peningkatan portofolio investasi akan kembali ke Indonesia, ini akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Yang menarik apakah BI bisa turunkan suku bunga acuan? Dugaan saya dengan CAD yang masih menganga seperti ini, ruang untuk turunkan suku bunga akan sulit," jelas dia.

 

Petugas melakukan pengepakan lembaran uang rupiah di Bank Mandiri, Jakarta, Kamis (21/12). Bank Indonesia (BI) mempersiapkan Rp 193,9 triliun untuk memenuhi permintaan uang masyarakat jelang periode Natal dan Tahun Baru. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

BI mencatat CAD pada kuartal IV 2018 membengkak jadi USD 9,1 miliar atau 3,57 persen dari produk domestik bruto (PDB), angka itu naik dari defisit pada kuartal sebelumnya mencapai USD 8,6 miliar atau 3,28 persen dari PDB.

Dengan kondisi suku bunga BI yang masih tetap tinggi ini, tentunya akan berdampak pada kinerja investasi di sektor riil.

Suku bunga acuan yang tinggi akan mendorong kenaikan suku bunga kredit perbankan dan hal ini akan membuat para investor menjadi ragu untuk berinvestasi di sektor riil. "Dengan seperti itu mungkin dari segi investasi akan sama seperti tahu lalu," tandasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya