Duka Petani Melon dan Jagung Ponorogo Saat Panen Raya

Harga melon di tingkat pengepul jatuh memasuki panen raya. Padahal, petani mengeluarkan biaya berlipat untuk mengairi kebun.

oleh Dian Kurniawan diperbarui 25 Okt 2017, 10:02 WIB
Harga melon di tingkat pengepul jatuh memasuki panen raya. Padahal, petani mengeluarkan biaya berlipat untuk mengairi kebun. (Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Liputan6.com, Ponorogo - Memasuki musim panen raya, sejumlah petani di Ponorogo mengaku kecewa. Pasalnya, harga jual di tingkat petani masih rendah. Seperti yang dialami oleh petani melon di Ponorogo yang hanya mencapai Rp 5 ribu per kilogram dari petani.

Salah satu petani melon, Jumitun, saat ditemui menerangkan harga jual melon sempat tembus di harga Rp 7 ribu dari petani pada Agustus lalu. Namun memasuki musim panen raya, harga melon semakin turun.

"Panen raya biasanya setahun dua kali, bulan Juli dan Oktober," tuturnya kepada Liputan6.com, Senin, 23 Oktober 2017.

Padahal, saat proses budidaya melon kemarin, Ponorogo memasuki musim kemarau. Sehingga tak jarang petani harus mengairi sawahnya dengan menggunakan pompa diesel.

"Dua minggu sekali biasanya diairi," ujar warga Desa Prayungan, Kecamatan Sawoo.

Untuk mengurangi kerugian, sejumlah petani melon memilih berjualan melon di sepanjang Jalan Sawoo. Termasuk Jumitun, ia berjualan melon mulai pagi hingga sore hari.

"Kalau dijual langsung seperti ini bisa Rp 7 ribu per kilogramnya," katanya.

Selain petani melon, kekecewaan juga dialami petani jagung. Bagaimana tidak, harga jual jagung kering di tingkat petani hanya berkisar Rp 3.400 per kilogram, padahal bulan Agustus lalu sempat tembus Rp 4 ribu per kilogram.

"Apalagi pembeli maunya jagung yang benar-benar kering, ini juga bisa mengurangi bobot jagung," ujar Sujarwo, warga Desa Bancar, Kecamatan Bungkal.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya